Menjadi Saksi Yesus
Saya pernah mendengar orang berkata, “Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk percaya. Yang dapat kita lakukan hanyalah memberi mereka alasan untuk mempercayai apa yang kita sendiri imani.” Sungguh pengamatan yang bijaksana, tetapi bagaimana kita melakukannya?
Ucapan Perpisahan yang Berharga
Teman saya José berada di bawah perawatan khusus menjelang akhir hayatnya. Ia masih sadar dan banyak bicara ketika saya menjenguknya minggu lalu, tetapi sekarang kondisinya sudah sangat lemah dan tidak lagi berbicara. Saya tetap berada di sana untuk mendampingi José dan keluarganya, dengan harapan kehadiran saya memberikan penghiburan bagi mereka. Di ujung kunjungan terakhir saya, sayalah orang terakhir yang mendampinginya. Saya berdiri dan berjalan pelan menuju pintu, sebelum berhenti sejenak dan berpamitan untuk terakhir kalinya. Saya berkata, “Aku mengasihimu,” tanpa mengharapkan respons apa pun. Namun kemudian, saya melihat José menggerakkan bibirnya. Ia membisikkan “Aku mengasihimu” sebagai balasan.
Pelajaran dari Mobil Sewaan
Baru-baru ini, saya mengunjungi Los Angeles dan harus menyewa sebuah mobil. Di sana, saya harus mengemudi melewati jalan-jalan sempit di pusat kota yang padat dengan lalu lintas dan orang. Saya mengemudi dengan sangat hati-hati, lebih lambat dari biasanya. Mengapa? Karena saya tidak ingin mengalami kecelakaan. Namun, sebenarnya saya tidak ingin merusak mobil sewaan saya. Mobil tersebut bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya.
Pengharapan di dalam Allah
Tidak tahan melihat ayahnya yang suka mabuk dan sering menyakiti ibunya, Pablo memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia remaja. Ia pindah ke rumah pamannya, lulus dari SMA, menikah, dan memiliki tiga orang anak. Namun sayangnya, Pablo mengulang perilaku merusak yang dulu ia jauhi. Kecanduannya terhadap alkohol dan perilakunya yang buruk mulai menghancurkan keluarganya. Tak lama kemudian, ia pun kehilangan segalanya: pernikahan, keluarga, pekerjaan, dan rumahnya. “Hidup saya sungguh kacau, dan makin lama makin buruk,” katanya.
Kesetiaan yang Mahal Harganya
Film A Hidden Life menceritakan kisah nyata tentang seorang petani Austria bernama Franz Jägerstätter pada masa Perang Dunia II. Karena merasa muak terhadap kekejaman Nazi dan memegang teguh keyakinan bahwa hanya Yesus yang patut ditinggikannya, ia menolak untuk bersumpah setia kepada Hitler. Sikap tegas itu membuatnya ditangkap, dan di sepanjang film kita menyaksikan pergumulan batin yang dihadapi Franz akibat keputusan berani itu.
Mempengaruhi Generasi Mendatang
Sewaktu latihan bola basket, Enrique dan temannya diminta ayahnya untuk menunjukkan cara mengoper bola dengan benar di depan seluruh tim. Enrique telah berlatih selama berminggu-minggu, tetapi ia masih takut melakukan kesalahan. Ia berdoa, lalu melakukan apa yang diminta darinya, dan berkata, “Terima kasih, Tuhan!” Setelahnya, sang ayah berkata, “Ayah bangga karena kamu bekerja keras, Nak. Namun, ayah lebih bangga karena kamu berdoa dan memuji Tuhan.” Sambil mengangkat bahu, Enrique menjawab, “Aku hanya melakukan yang biasa Ayah lakukan.”
Allah Lebih Besar
Sebelum menjadi terkenal, panglima perang Mongolia, Jenghis Khan (±1162–1227), membunuh saudara tirinya sendiri demi memperkuat kedudukannya dalam keluarga. Setelah kekuasaannya semakin kokoh, ia mulai membangun kekaisaran yang lebih luas daripada yang pernah dimiliki oleh Alexander Agung, membentang dari pesisir Pasifik di Asia hingga Eropa Timur. Dengan taktik yang kejam, Khan dan pasukannya yang disebut “Gerombolan Emas” meninggalkan jejak kematian dan kehancuran di setiap wilayah yang mereka serbu. Penaklukan militernya yang dahsyat sungguh tidak tertandingi dalam sejarah.
Bagian dari Kisah Allah
Arkeolog Jodi Magness dan timnya sedang melakukan ekskavasi pada sebuah sinagoge di Huqoq, desa kuno di Galilea Hilir, ketika mereka menemukan koleksi mosaik, lukisan, dan ukiran yang luar biasa. Di antara benda-benda tersebut, terdapat mosaik langka yang menceritakan kisah Alkitab tentang Debora dan perannya dalam pertempuran Israel melawan orang Kanaan; sejauh ini belum ada penemuan benda kuno lainnya yang menceritakan kisah kepahlawanan perempuan itu.
Keluarga dalam Allah
“Apa yang membuatmu tersenyum saat memikirkan tentang anakmu?” tanya saya kepada Clarence, seorang pemuda yang sedang saya bimbing. Dengan bangga, ia membagikan beberapa pencapaian cemerlang dari putranya yang berusia empat tahun. Ada satu hal yang membuat saya takjub. Bukan hanya si anak memiliki nama depan dan nama belakang yang sama dengan ayahnya, tetapi wajahnya pun sangat mirip sehingga ia dapat membuka ponsel pintar ayahnya dengan menggunakan fitur pengenalan wajah!