Category  |  Santapan Rohani

Sikap Penuh Syukur

Di negara bagian tempat saya tinggal, adakalanya musim dingin berlangsung sangat ekstrem, dengan suhu di bawah nol dan salju yang turun terus-menerus. Pada suatu hari yang sangat dingin, ketika saya sedang menyekop salju untuk kesekian kalinya hari itu, tukang pos kami mampir dan menanyakan kabar saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak menyukai musim dingin dan merasa jenuh menghadapi salju di mana-mana. Lalu saya berkomentar bahwa pekerjaan tukang pos pastilah sangat berat dalam kondisi cuaca ekstrem seperti ini. Ia menjawab, “Begitulah, tetapi setidaknya saya punya pekerjaan. Banyak orang tidak punya. Saya bersyukur bisa bekerja.”

Jangan Lupakan Pemberinya

Saat itu Natal sudah dekat dan sang ibu merasa anak-anaknya sulit mengucap syukur. Ia tahu betapa mudahnya perasaan seperti itu menyelinap, tetapi ia juga ingin memberikan pelajaran berharga bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, ia mengitari rumahnya dan memasang pita-pita merah pada saklar lampu, ruang makan, pintu kulkas, mesin cuci, mesin pengering, dan keran air. Pada setiap pita, ia menuliskan catatan: “Kita sering lupa kepada berkat-berkat dari Allah, maka aku memasang pita ini. Allah sudah begitu baik kepada keluarga kita. Jangan kita lupa dari mana semua berkat itu datang.”

Hadiah dari Atas

Konon, pada zaman dahulu, seorang pria bernama Nicholas (lahir tahun 270 m), mendengar tentang seorang ayah yang sangat miskin. Saking miskinnya, ia tidak bisa memberi makan ketiga anak perempuannya, apalagi menyisihkan dana untuk pernikahan mereka di masa mendatang. Dalam upayanya membantu sang ayah, tetapi tanpa ingin diketahui oleh siapa pun, Nicholas melempar sekantong emas melalui jendela yang terbuka, dan kantong itu mendarat di dalam kaus kaki atau sepatu yang sedang dikeringkan di depan perapian. Pria itu dikenal sebagai Santo Nicholas, yang kemudian menjadi inspirasi bagi tokoh Sinterklas.

Kebaikan yang Disengaja

Jessica, seorang ibu muda yang naik pesawat dengan anak-anaknya, mengalami kesulitan untuk menenangkan anak perempuannya yang berumur tiga tahun yang tiba-tiba menangis sambil menendang-nendang. Masalahnya bertambah ketika bayi laki-lakinya yang berusia empat bulan kelaparan dan mulai merengek.

Bebas dari Tuduhan

Sepasang suami-istri sedang mengendarai karavan melintasi kawasan utara California yang kering ketika tiba-tiba bannya meletus dan terdengar bunyi logam bergesekan dengan aspal. Percikan api dari gesekan itu menyulut terjadinya kebakaran hutan Carr pada tahun 2018 yang menghanguskan wilayah seluas 93.000 hektar, menghancurkan lebih dari 1.000 rumah, dan menewaskan beberapa jiwa.

Amplop yang Hilang

Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kerabat di negara bagian lain, saya menemukan selembar amplop kotor dan tebal tergeletak di tanah dekat suatu pom bensin. Saya pun mengambil dan melihat isinya. Saya sangat terkejut karena amplop tersebut berisi uang seratus dolar.

Sisi Lain Kasih

Penginapan Romawi pada zaman Kristus memiliki reputasi yang sangat buruk sehingga para rabi Yahudi pun tidak mengizinkan ternak mereka dititip di sana. Kondisi yang begitu sulit membuat orang-orang Kristen yang bepergian biasanya mencari tumpangan dari saudara-saudari seiman mereka.

Masihkah Ada Harapan?

Edward Payson (1783–1827) pernah menjalani hidup yang sangat sulit. Kematian adik laki-lakinya membuatnya sangat terguncang. Ia bergumul dengan gangguan bipolar dan kerap didera sakit kepala migren yang parah selama berhari-hari. Tidak hanya itu, ia pernah jatuh dari kuda dan melumpuhkan tangannya, serta hampir mati karena tuberkulosa! Yang mengherankan, semua itu tidak membuatnya putus asa atau patah semangat. Teman-temannya mengatakan bahwa sebelum Edward meninggal dunia, sukacitanya justru begitu besar. Bagaimana mungkin?

Dibentuk dengan Saksama

Dalam sebuah video YouTube, Alan Glustoff, seorang petani keju di Goshen, New York, menjelaskan cara memfermentasi keju, suatu proses yang dilakukan untuk memberi rasa dan tekstur pada keju. Sebelum dapat dijual ke pasar, setiap blok keju disimpan dalam sebuah rak di gua bawah tanah selama enam hingga dua belas bulan. Dalam lingkungan yang lembab ini, keju tersebut diawasi dengan saksama. “Kami berusaha sedapat mungkin memberikan bagi keju itu lingkungan yang tepat untuk berkembang. . . [dan] mencapai potensinya yang paling maksimal,” jelas Glustoff.