Ketika Hiu Tidak Menggigit
Anak-anak saya sangat gembira, sementara saya merasa gelisah. Saat liburan, kami mengunjungi sebuah akuarium yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk membelai hiu-hiu kecil yang dipelihara dalam kolam khusus. Saat saya bertanya kepada petugas apakah hiu-hiu itu pernah menggigit jari pengunjung, ia menjelaskan bahwa ikan-ikan itu baru saja diberi makan dan sudah diberi makanan ekstra. Hewan-hewan itu tidak akan menggigit karena tidak merasa lapar.
Karya Pengalihan Allah
Sulit rasanya menerima jawaban “tidak” atau “belum”, terlebih ketika kita merasa Allah telah membukakan pintu pelayanan bagi kita. Di awal masa pelayanan saya, ada dua kesempatan yang saya pikir sesuai dengan karunia dan kemampuan saya, tetapi ternyata tertutup bagi saya. Setelah kekecewaan tersebut, timbul panggilan pelayanan lain, dan saya pun dipilih untuk mengisinya. Di sanalah saya menjalani tiga belas tahun pelayanan penggembalaan yang memberkati banyak jiwa.
Melepaskan Ikatan
Sebuah organisasi Kristen mempunyai misi untuk mendorong terciptanya pemulihan yang dialami lewat pengampunan. Salah satu aktivitas mereka adalah peragaan yang menampilkan seseorang yang dirugikan terikat pada orang yang merugikannya dalam posisi saling memunggungi. Hanya orang yang dirugikan yang bisa melepaskan ikatan tali itu. Apa pun yang ia lakukan, orang yang bersalah terhadapnya akan tetap melekat pada punggungnya. Tanpa melepaskan tali—tanda dari pengampunan—ia tidak akan bebas.
Eulogi Anda
Hati saya sangat terkesan oleh pemakaman seorang wanita yang teguh beriman kepada Allah. Kehidupannya tidaklah spektakuler. Ia tidak banyak dikenal di luar lingkungan gereja, tetangga, dan teman-temannya. Namun, ia mengasihi Yesus, ketujuh anaknya, dan kedua puluh lima cucunya. Ia penuh kegembiraan, melayani dengan murah hati, dan masih kuat bermain softball.
Membakar yang Tak Berguna
Pada Februari 1497, seorang biarawan bernama Girolama Savonarola menyalakan api unggun. Sejak berbulan-bulan sebelumnya, Savonarola dan para pengikutnya telah mengumpulkan benda-benda yang mereka anggap bisa menarik orang jatuh ke dalam dosa atau melalaikan kewajiban agama mereka—termasuk karya seni, kosmetik, alat musik, dan pakaian. Di hari yang telah ditentukan, ribuan barang “sia-sia” dikumpulkan di alun-alun kota Firenze, Italia, dan dibakar dengan api. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Api Unggun Pembakar Kesia-siaan.
Bermain dengan Sukacita
Salah seorang putra kami, Brian, adalah pelatih bola basket di sebuah SMA. Suatu kali, saat timnya sedang berjuang dalam Turnamen Bola Basket Negara Bagian Washington, orang-orang yang mendukung mereka mengajukan pertanyaan, “Apakah kalian akan menjuarai turnamen tahun ini?” Pertanyaan itu membuat para pemain maupun pelatih merasa sangat terbebani, maka Brian kemudian menyemangati timnya dengan semboyan: “Bermain dengan sukacita!”
Tuhan Bersukacita
Belum lama ini, Nenek mengirimi saya sebuah album tua penuh dengan foto-foto lama, dan ketika saya membolak-baliknya, ada satu foto yang menarik perhatian saya. Foto itu menampilkan saya saat berusia dua tahun, duduk di depan perapian di salah satu sisi. Di sisi lain, tampak Ayah yang merangkul pundak Ibu. Keduanya menatap saya dengan ekspresi penuh cinta dan kegembiraan.
Bermain Petak Umpet
“Duh, bakal ketahuan tempat persembunyianku,” pikir saya. Saya merasakan jantung berdebar kencang sewaktu mendengar langkah-langkah kaki saudara sepupu saya yang berusia lima tahun berbelok ke ruangan saya. Semakin dekat. Lima langkah lagi. Tiga. Dua. “Ketemu!”
Mengakhiri Iri Hati
Seniman Perancis terkenal, Edgar Degas, dikenang di seluruh dunia karena lukisan-lukisan penari baletnya. Namun tidak banyak orang tahu bahwa ternyata ia iri hati kepada rekan seniman dan pelukis andal saingannya, Édouard Manet. Kata Degas tentang Manet, “Setiap hal yang ia lakukan pasti langsung sukses, sementara aku harus bersusah payah, tetapi tetap tidak pernah berhasil.”