Hadir dalam Badai
Api melahap habis rumah sebuah keluarga yang beranggotakan enam orang jemaat gereja kami. Walaupun ayah dan anak laki-lakinya selamat, sang ayah masih dirawat di rumah sakit ketika istri, ibu, dan dua anaknya yang masih kecil dimakamkan. Sayangnya, peristiwa-peristiwa memilukan hati seperti itu masih terus terjadi, lagi dan lagi. Ketika hal seperti itu terjadi, muncul pula pertanyaan yang terus-menerus ditanyakan manusia: Mengapa hal-hal buruk terjadi kepada orang-orang baik? Kita pun tidak lagi heran saat mendapati bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu memuaskan.
Dalam Kelemahan Kita
Anne Sheafe Miller meninggal dunia pada tahun 1999 dalam usia 90 tahun, tetapi ia pernah hampir kehilangan nyawanya pada tahun 1942 setelah menderita septicemia (keracunan darah) dari peristiwa keguguran yang dialaminya. Pada saat itu semua perawatan yang diberikan tidak membuahkan hasil. Saat salah seorang pasien di rumah sakit yang merawat Anne bercerita tentang seorang ilmuwan kenalannya yang sedang meneliti obat baru yang sangat manjur, dokter yang menangani Anne mendesak pemerintah untuk memberikan sedikit dari obat baru itu kepada Anne. Hanya dalam satu hari, suhu tubuhnya kembali normal! Obat bernama penisilin itu telah menyelamatkan nyawa Anne.
Menyelamatkan Penjahat
Para pahlawan dari cerita-cerita komik masih tetap populer sampai sekarang. Di tahun 2017 saja, enam film pahlawan super tercatat meraih pendapatan total lebih dari empat milyar dolar AS. Mengapa orang begitu tertarik pada film-film laga seperti itu?
Pelajaran Gambar Orang-Orangan
Konselor saya pernah menggambar orang-orangan di atas sehelai kertas. Ia menamai gambar itu sebagai aspek “pribadi” dirinya. Kemudian ia menggambar garis yang mengelilingi orang-orangan tadi, kira-kira satu setengah sentimeter lebih besar, dan menyebut itu sebagai aspek dirinya “di depan umum”. Perbedaan kedua sosok orang-orangan tersebut, yang pribadi dan yang di depan umum, menggambarkan tingkat integritas yang kita miliki.
Juruselamat yang Mengenal Kita
“Ayah, jam berapa sekarang?” tanya putra saya dari kursi belakang. “Jam setengah enam.” Saya tahu pasti apa yang akan ia katakan selanjutnya. “Salah! Sekarang masih setengah enam kurang dua menit!” Saya perhatikan wajahnya yang sangat gembira, seakan hendak mengatakan, “Kena deh!” Saya juga merasa senang, karena sebagai orangtua, saya mengenal persis kebiasaan anak saya.
Kata-kata Yang Melukai
“Tulang belulang,” ejek seorang anak. “Kerempeng,” yang lain menimpali. Saya bisa saja membalas mereka dengan mengatakan bahwa kata-kata tidak akan bisa menyakiti saya. Namun, walaupun waktu itu saya masih kecil, saya tahu itu tidak benar. Kata-kata kasar yang dilontarkan dengan seenaknya memang menyakitkan—bahkan meninggalkan luka yang lebih dalam dan membekas lebih lama daripada rasa pedih akibat kekerasan fisik.
Komunikasi yang Jelas
Saat sedang bepergian di Asia, iPad saya (yang berisi bahan bacaan dan banyak dokumen kerja) tiba-tiba mati total. Saat mencari bantuan, saya menemukan toko komputer tetapi mengalami masalah lain—saya tidak dapat berbicara bahasa Mandarin dan si teknisi toko tidak dapat berbicara bahasa Inggris. Solusinya? Dia membuka suatu program lalu mengetik dalam bahasa Mandarin, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sebaliknya, ketika saya menjawab dalam bahasa Inggris dan ia pun dapat membacanya dalam bahasa Mandarin. Program itu memungkinkan kami untuk berkomunikasi dengan jelas, bahkan dalam bahasa yang berbeda.
Hanya Bocah Gelandangan
“Oh, hanya bocah gelandangan,” bisik seseorang dengan nada menghina ketika Rodney Smith berjalan ke depan kapel untuk menerima Kristus dalam sebuah kebaktian di tahun 1877. Tidak ada yang memperhitungkan anak remaja dari sepasang gelandangan yang tidak berpendidikan itu. Namun, Rodney tidak menggubrisnya. Ia yakin Allah memiliki tujuan atas hidupnya sehingga ia membeli sendiri Alkitab dan kamus bahasa Inggris, serta belajar membaca dan menulis secara mandiri. Ia pernah berkata, “Jalan kepada Yesus bukanlah melalui Cambridge, Harvard, Yale, atau lewat para pujangga. Hanya . . . melalui bukit kuno bernama Golgota.” Di luar perkiraan banyak orang, Rodney dipakai Allah dengan luar biasa sebagai penginjil yang membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus di Inggris dan Amerika Serikat.
Mengoyakkan Selubung
Mary Ann Franco pernah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan ia buta total. “Semuanya gelap,” Franco menjelaskan. Dua puluh satu tahun kemudian, ia sempat jatuh dan tulang belakangnya cedera. Setelah terbangun dari operasi (yang tidak berhubungan dengan matanya), penglihatannya secara ajaib pulih kembali! Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, Franco dapat melihat wajah anak perempuannya. Dokter bedah tidak mempunyai penjelasan ilmiah atas pulihnya penglihatan Franco. Kegelapan total yang seakan tidak pernah berakhir kini telah digantikan oleh terang dan keindahan.