Category  |  Santapan Rohani

Menurut Gambar Allah

Ketika mulai muncul bercak-bercak putih di kulit cokelatnya yang indah, seorang perempuan muda merasa ketakutan, seolah-olah jati dirinya hilang atau memudar. Dengan riasan tebal, ia berusaha menutupi “bercak-bercak”, begitu ia menyebutnya—yang disebabkan oleh kelainan kulit bernama vitiligo, yaitu kehilangan pigmen melanin yang menghasilkan warna.

Objek dalam Cermin

“Harus. Lari. Lebih cepat.” Begitulah ucapan legendaris Dr. Ian Malcolm, diperankan oleh Jeff Goldblum, dalam adegan film Jurassic Park keluaran tahun 1993 saat ia dan dua rekannya melarikan diri dari amukan tiranosaurus dengan mengendarai sebuah mobil jip. Ketika pengemudi melihat ke belakang dari kaca spion, rahang dari reptil raksasa itu terlihat tepat di atas kata-kata: “OBJEK DALAM CERMIN MUNGKIN LEBIH DEKAT DARIPADA YANG TERLIHAT.”

Hadir bagi Sesama

Di pinggiran kota Paris, ada komunitas-komunitas yang mengulurkan tangan untuk membantu kaum tunawisma di lingkungan mereka. Terbungkus dalam kantong-kantong kedap air, helai demi helai baju digantungkan pada pagar khusus supaya dapat diambil oleh para tunawisma yang membutuhkan. Kantong-kantong tersebut diberi tulisan, “Aku bukan barang hilang, silakan ambil jika kamu kedinginan.” Upaya tersebut tidak hanya menghangatkan tubuh mereka yang tidak memiliki tempat berteduh, tetapi juga mengajarkan masyarakat pentingnya menolong sesama yang membutuhkan di sekitar mereka.

Kasih Tanpa Rasa Takut

Selama bertahun-tahun, saya membentengi hati saya dengan ketakutan. Benteng itu menjadi alasan untuk tidak mencoba hal-hal baru, mengejar impian saya, dan menaati perintah Allah. Namun, rasa takut akan mengalami kehilangan, sakit hati, dan ditolak membuat saya tidak bisa membangun hubungan yang tulus dalam kasih dengan Allah dan sesama. Ketakutan membuat saya menjadi istri yang pencemburu, tidak percaya diri, dan selalu gelisah, serta ibu yang terlalu protektif dan selalu khawatir. Namun, sambil terus mempelajari betapa besarnya kasih Allah kepada saya, Dia juga mengubah cara saya berhubungan dengan-Nya dan dengan sesama. Karena tahu bahwa Allah akan selalu memelihara saya, saya merasa lebih aman dan bersedia menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri saya sendiri.

Tempat Tidur Kosong

Saya sangat bersemangat untuk kembali ke rumah sakit St. James Infirmary di Montego Bay, Jamaica, dan bertemu kembali dengan Rendell, yang dua tahun sebelumnya mendengar tentang kasih Yesus baginya. Evie, seorang remaja di kelompok paduan suara sekolah yang pergi bersama saya waktu itu, mengajak Rendell membaca Kitab Suci dan menerangkan tentang Injil kepadanya. Rendell kemudian menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya.

Tidak Pernah Sendirian

Ketika sedang menulis pedoman Alkitab untuk para pendeta di Indonesia, seorang kawan kagum pada budaya kebersamaan yang diterapkan di negeri ini. Budaya yang disebut gotong-royong tersebut dilakukan di desa-desa, ketika warga bekerja bersama memperbaiki atap rumah seseorang atau membangun kembali jembatan atau jalan. Bahkan, menurut teman saya, itu terjadi di kota besar, “Orang biasanya pergi bersama ke suatu tempat, misalnya saat berobat ke dokter. Itulah kebiasaan di sana. Mereka tidak pernah sendirian.”

Kenangan yang Terus Hidup

Saya besar di gereja yang sarat tradisi. Salah satu tradisi itu diterapkan ketika ada anggota keluarga atau sahabat terkasih yang meninggal dunia. Sering kali, tidak lama sesudahnya, muncul lempengan tembaga yang disematkan pada bangku gereja atau lukisan yang terpajang di lorong dengan tulisan: “Untuk mengenang . . .” Nama orang yang sudah meninggal itu terukir pada lempeng tersebut sebagai kenangan atas kehidupan yang sudah berlalu. Saya menghargai kenangan semacam itu. Sampai sekarang pun masih. Namun, di saat yang sama, saya sering merenung karena benda-benda itu mati dan statis, dalam arti benar-benar “tidak hidup.” Adakah cara untuk menambahkan suatu elemen “kehidupan” pada benda kenangan tersebut?

Panggilan untuk Berani

Di antara patung-patung tokoh pria (Nelson Mandela, Winston Churchill, Mahatma Gandhi, dan lain-lain) yang dipajang di Alun-alun Gedung Parlemen London, terdapat satu-satunya patung tokoh perempuan. Perempuan tersebut adalah Milicent Fawcett, pejuang hak pilih kaum wanita. Ia diabadikan dalam rupa patung perunggu yang memegang spanduk bertuliskan kata-kata yang ia sampaikan sebagai penghargaan kepada sesama pejuang hak pilih: “Courage calls to courage everywhere” (Keberanian memanggil keberanian di mana pun). Menurut Fawcett, keberanian satu orang akan memberikan semangat bagi yang lain—memanggil jiwa-jiwa yang takut untuk segera bertindak.

Terbelenggu tetapi Tidak Diam

Pada musim panas tahun 1963, seorang aktivis hak asasi manusia, Fannie Lou Hamer, beserta enam orang kulit hitam lainnya berhenti untuk makan di sebuah kedai di Winona, Mississippi setelah semalaman menempuh perjalanan dengan bus. Setelah aparat penegak hukum mengusir mereka, mereka ditangkap dan dipenjarakan. Namun, penghinaan belum berakhir. Mereka semua dipukuli hingga babak belur, tetapi Fannie menderita yang terparah. Namun, setelah diserang secara brutal hingga hampir mati, ia justru menyanyi keras-keras, “Paulus dan Silas dalam penjara, biarkanlah umat-Ku pergi.” Ia tidak sendirian. Tahanan lain yang terbelenggu secara fisik tetapi yang bebas jiwanya pun ikut memuji bersamanya.