Category  |  Santapan Rohani

Hidup dalam Kisah Allah

Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisah yang menyentuh hanya dengan enam kata. Tanggapannya: “Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai.” Kisah Hemingway itu sangat luar biasa karena kita didorong untuk memikirkan isi ceritanya. Kita pun bertanya-tanya, apakah sang bayi itu sehat sehingga ia tidak memerlukan sepatu itu? Ataukah ada kematian yang tragis—suatu peristiwa yang memerlukan kehadiran kasih dan penghiburan dari Allah?

Tuhan Memegang Tangan Kita

Pada suatu hari Minggu, saya menyaksikan seorang gadis cilik yang tampaknya belum berusia dua tahun berusaha menuruni tangga gereja. Ia sangat lucu, berani, dan mandiri. Satu demi satu anak tangga itu ditapakinya dengan penuh tekad, dan ia berhasil. Saya tersenyum saat memikirkan keberanian dan kemandiriannya. Anak itu tidak takut karena tahu bahwa ibunya yang penuh perhatian selalu mengawasi dan tangan ibunya selalu siap menolong. Hal itu sangat tepat menggambarkan kesiapan Allah untuk menolong anak-anak-Nya di tengah perjalanan hidup mereka yang diwarnai beragam ketidakpastian.

Persembahan yang Hidup

Bibi buyut saya pernah memiliki pekerjaan yang bagus dalam bidang periklanan dan kerap bepergian antara kota Chicago dan New York. Namun, ia memilih untuk melepaskan karier itu demi kasihnya pada orangtuanya. Mereka tinggal di Minnesota dan perlu dirawat. Kedua saudaranya telah meninggal dengan tragis pada usia muda dan bibi buyut saya adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Baginya, merawat orangtua merupakan perwujudan imannya.

Kirimkan Lewat Surat

Seperti kebanyakan anak usia empat tahun, Ruby suka berlari, bernyanyi, menari, dan bermain. Namun, ia mulai sering mengeluh tentang rasa sakit di lututnya. Orangtua Ruby pun membawanya ke dokter. Hasilnya mengejutkan—Ruby didiagnosis menderita kanker neuroblastoma (sejenis kanker sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak) stadium 4. Ternyata kesehatan Ruby bermasalah dan ia langsung dirawat di rumah sakit.

Simpan dan Terus Melangkah

Saya teringat nasihat bijak yang pernah diberikan oleh teman saya yang bekerja sebagai penyiar radio. Pada awal kariernya, ketika ia merasa kesulitan untuk menyikapi baik kritik maupun pujian dengan baik, ia merasa Allah mendorongnya untuk menyimpan kedua-duanya dalam hati. Apa yang ia pelajari dari sikapnya tersebut? Ia berkata, “Aku belajar memperbaiki diri lewat kritik dan juga menerima pujian. Aku menyimpan kedua-duanya, lalu berusaha merendahkan hati untuk melangkah lagi dalam anugerah dan kuasa Allah.”

Berdoa dan Bertumbuh

Ketika istrinya mengidap penyakit Alzheimer, kawan saya David sangat bergumul dengan berbagai perubahan yang harus dijalaninya. Ia harus pensiun dini, dan ketika penyakit itu semakin parah, istrinya memerlukan perhatian yang lebih besar.

Suasana yang Membangun

Saya bersemangat setiap kali masuk ke pusat kebugaran dekat rumah kami. Tempat yang ramai itu penuh dengan orang-orang yang berusaha meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik mereka. Tulisan-tulisan yang dipajang di sana mengingatkan kami untuk tidak saling menghakimi, tetapi justru mendorong kami untuk memberikan kata-kata dan sikap yang menyemangati upaya orang lain.

Berbuat Baik

“Estera, ada hadiah buatmu dari Helen, teman kita!” kata ibu sepulang dari tempat kerjanya. Kehidupan keluarga kami memang tidak berlimpah. Jadi, menerima kiriman hadiah lewat pos terasa seperti hari Natal kembali. Saya merasa dikasihi, diingat, dan dihargai oleh Allah melalui wanita luar biasa yang memberikan hadiah itu.

Masuk dalam Peristirahatan

Akhirnya, pada 8 Januari 1964, Randy Gardner yang berusia 17 tahun melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama sebelas hari dan dua puluh lima menit: ia tertidur. Ia ingin mengalahkan rekor berapa lama manusia dapat bertahan tanpa tidur dalam Guinness Book World Record. Ditemani minuman ringan, bermain basket, dan boling, Gardner berhasil bertahan tidak tidur selama 1,5 minggu. Ketika menyerah, indera pengecap, penciuman, dan pendengarannya sudah terganggu. Ternyata, beberapa puluh tahun kemudian, Gardner mengidap insomnia akut. Ia menciptakan rekor, tetapi juga membuktikan sesuatu yang pasti: tidur itu penting.