Category  |  Santapan Rohani

Mensyukuri Diri Allah

Dari ribuan pesan yang tercetak dalam kartu ucapan, salah satu pernyataan yang mungkin paling menyentuh adalah kalimat sederhana ini: “Terima kasih untuk dirimu.” Jika Anda menerima kartu dengan ucapan itu, Anda tahu bahwa orang tersebut mempedulikan Anda bukan karena Anda telah melakukan sesuatu yang luar biasa baginya, tetapi karena Anda hadir sebagai diri Anda sendiri.

Gangguan Berbahaya

Seniman Sigismund Goetze mengejutkan masyarakat Inggris pada zaman kekuasaan Ratu Victoria dengan lukisannya “Despised and Rejected of Men” (Dihina dan Dihindari Orang). Di lukisan itu, ia menggambarkan Yesus yang dihukum dan menderita sambil dikelilingi oleh orang dari generasi Goetze sendiri. Orang-orang itu tampak sibuk dengan urusan pribadi mereka—bisnis, percintaan, politik—hingga mereka sama sekali tak menyadari pengorbanan Sang Juruselamat. Kerumunan orang yang tak acuh terhadap Kristus itu, sama seperti kerumunan orang di bawah salib Yesus, tak memahami apa—atau siapa—yang telah mereka abaikan.

Mari Saling Mendorong

The Steven Thompson Memorial Centipede adalah lomba lari lintas alam yang unik. Tiap tim yang beranggotakan tujuh orang harus berlari sebagai satu rangkaian dengan memegang seutas tali sampai jarak 3,2 km dari total jarak 4,8 km. Saat mencapai titik 3,2 km, tali itu mereka lepaskan dan tiap pelari menyelesaikan perlombaannya masing-masing. Oleh karena itu, waktu tempuh setiap pelari merupakan kombinasi dari kecepatan bersama sebagai tim dan kecepatannya sendiri.

Domba Bodoh, Gembala yang Baik

Kawan saya, Chad, pernah bekerja selama setahun sebagai gembala di Wyoming. “Domba itu begitu bodoh sehingga mereka hanya makan apa yang ada di depan mereka,” ceritanya kepada saya. “Bahkan ketika domba telah memakan habis semua rumput yang ada di depan mereka, bukannya mencari rerumputan segar di tempat lain, mereka justru akan makan tanah!”

Siapa yang Menyetir?

Di atas dasbor mobil tetangga saya, Tim, terdapat miniatur tokoh “wild thing” (makhluk liar) yang diambil dari buku cerita anak favorit berjudul Where the Wild Things Are (Tempat Tinggal Makhluk Liar) karya Maurice Sendak.

Harapan yang Pasti

Dr. William Wallace pernah melayani sebagai misionaris dengan profesi ahli bedah di Wuzhou, Tiongkok, di dekade 1940-an, tepat pada saat Jepang menyerang negara itu. Wallace, yang saat itu memimpin Rumah Sakit Stout Memorial, memberikan instruksi kepada pihak rumah sakit untuk mengangkut peralatan medis ke atas kapal tongkang agar dapat terus berfungsi sebagai rumah sakit sambil berlayar menyusuri sungai guna menghindari serangan dari darat.

Kehadiran-Nya

Seorang ayah yang cemas dan anak remajanya duduk di hadapan seorang paranormal. “Seberapa jauh anakmu akan pergi?” tanya si paranormal. “Ia akan pergi ke kota besar,” jawab sang ayah, “dan pergi cukup lama.” Sembari memberikan semacam jimat keberuntungan kepada sang ayah, paranormal itu berkata, “Jimat ini akan melindungi anakmu ke mana pun ia pergi.”

Berbuat Semampu Kita

Meski hanya bisa berbaring di tempat tidur, Morrie Boogaart yang berusia 92 tahun tetap bekerja merajut topi untuk para tunawisma di Michigan. Kabarnya Boogaart berhasil membuat lebih dari 8.000 topi dalam waktu 15 tahun. Alih-alih memikirkan masalah kesehatan dan keterbatasannya, Boogaart berbuat semampunya untuk menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri. Ia berkata bahwa pekerjaan itu membuatnya senang dan memberinya tujuan hidup. Ia berkata, “Saya akan terus melakukannya sampai saya pulang ke rumah Bapa”—dan Allah memanggilnya pulang pada Februari 2018. Meski sebagian besar penerima topi buatannya tidak tahu kisah hidup Boogaart atau pengorbanan yang ia berikan untuk merajut setiap topi, ketekunan kasihnya dalam perbuatan yang sederhana itu kini menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.

Ayah dan Anak

Ayah saya adalah ayah yang baik, dan saya pun anak yang cukup taat. Namun, saya telah lalai memberikan kepada ayah satu hal yang seharusnya bisa saya berikan, yaitu diri saya sendiri.