Category  |  Santapan Rohani

Kisah tentang Yesus

Saat masih kecil, saya senang mengunjungi perpustakaan kecil di wilayah saya. Suatu hari, sambil melihat-lihat rak-rak yang memuat buku-buku untuk dewasa-muda, saya sempat berpikir bahwa saya pasti bisa membaca setiap buku di sana. Antusiasme itu membuat saya lupa tentang satu fakta penting—buku-buku baru akan selalu rutin ditambahkan ke rak-rak itu. Sekuat apa pun usaha saya, tetap saja saya tidak akan dapat membaca buku-buku yang terlalu banyak itu.

Nyanyian untuk Regu Tembak

Dua pria yang dipidana karena mengedarkan obat terlarang telah menunggu waktu eksekusi mereka selama satu dekade. Di penjara itu, mereka mengenal kasih Allah bagi mereka di dalam Yesus Kristus dan hidup mereka pun diubahkan. Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk berhadapan dengan regu tembak, mereka menghadapi para eksekutor itu sembari mengucapkan Doa Bapa Kami dan menyanyikan pujian “Amazing Grace” (Sangat Besar Anugerah-Nya). Karena iman mereka kepada Allah, oleh kekuatan Roh Kudus, mereka sanggup menghadapi kematian dengan keberanian yang luar biasa.

Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Pada acara peresmian Alkitab yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa lokal di Afrika, kepala suku di wilayah itu menerima satu jilid Alkitab tersebut. Dengan penuh rasa syukur, ia mengangkat Alkitab itu dan berseru, ”Sekarang kita tahu bahwa Allah mengerti bahasa kita! Kini kita dapat membaca Alkitab dalam bahasa ibu kita.”

Bapa yang Bernyanyi

Sebelum saya dan istri mempunyai anak, tidak ada yang memberitahukan kami tentang pentingnya bernyanyi. Anak-anak kami sekarang berusia enam, delapan, dan sepuluh tahun. Ketika ketiganya masih lebih kecil, mereka sempat sulit tidur. Tiap malam, saya dan istri bergantian menidurkan mereka sambil berharap mereka akan segera terlelap. Ratusan jam saya habiskan untuk menggendong mereka, sambil menyanyikan lagu ninabobo yang (semoga) membuat mereka cepat tidur. Namun, ketika malam demi malam saya bernyanyi untuk mereka, sesuatu yang menakjubkan terjadi: rasa kasih sayang dan ikatan saya dengan anak-anak makin bertambah dalam lewat cara-cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sambutan yang Hangat

Dalam liburan kami baru-baru ini, saya dan istri mengunjungi sebuah kompleks olahraga yang terkenal. Pintu gerbangnya terbuka lebar, sehingga kami merasa tidak masalah masuk ke dalamnya. Kami sangat senang menyusuri lapangan dan mengagumi rumput lapangan yang terawat dengan baik. Namun, saat kami mau meninggalkan tempat itu, seseorang menegur kami dan mengatakan bahwa kami tidak seharusnya berada di tempat itu. Tiba-tiba saja kami diingatkan bahwa kami adalah orang luar—dan kami merasa tertolak.

Berkelip-kelip

“Twinkle, Twinkle, Little Star” adalah lagu pengantar tidur berbahasa lnggris yang terkenal. Liriknya yang berasal dari puisi karya Jane Taylor mengungkapkan keajaiban alam semesta ciptaan Allah dengan bintang-bintang yang tergantung “tinggi di langit”. Bait berikutnya yang jarang dinyanyikan menyatakan bahwa bintang-bintang itu memberikan panduan: “Kerlipmu yang terang menyinari jalan pengembara dalam gelapnya malam.”

Menjadi Lebih Baik

Suatu waktu, sekelompok nelayan penangkap ikan salmon di Skotlandia sedang berkumpul di sebuah restoran setelah seharian memancing. Saat salah seorang dari mereka menggambarkan ikan yang ditangkapnya kepada teman-temannya, tangannya tidak sengaja menyenggol gelas kaca hingga terpental ke dinding. Gelas itu pun pecah dan meninggalkan noda pada permukaan dinding restoran yang dicat putih. Pria tersebut meminta maaf kepada pemilik restoran dan menawarkan diri untuk membayar kerusakan yang ada, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya terhadap dinding yang sudah ternoda. Tiba-tiba, seorang pria yang duduk tidak jauh dari situ berkata, “Jangan khawatir.” Ia berdiri, mengambil alat lukis dari sakunya, dan mulai menggambar sketsa di sekitar noda pada dinding itu. Lambat laun terlihatlah gambar kepala rusa yang anggun. Pria itu adalah Sir E. H. Landseer, seorang pelukis binatang yang terkemuka di Skotlandia.

Berani Berdiri Teguh

Teresa Prekerowa masih remaja ketika tentara Nazi menyerang tanah kelahirannya, Polandia, pada awal Perang Dunia ke-2. Masa itu merupakan permulaan terjadinya Holocaust, ketika para tetangganya yang berdarah Yahudi mulai menghilang karena ditangkap oleh Nazi. Teresa dan orang-orang sebangsanya lalu mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan tetangga-tetangga mereka dari ghetto di Warsawa dan pembersihan etnis yang dilakukan pihak Nazi. Kelak Teresa menjadi salah seorang sejarawan penting di bidang Perang Dunia dan Holocaust. Namun, keberaniannya untuk berdiri teguh menentang kejahatan besar itulah yang membuatnya mendapat penghormatan masuk dalam daftar Orang Baik dari Berbagai Bangsa yang tercatat pada Museum Peringatan Holocaust Yad Vashem di Yerusalem.

Meminta Pertolongan

E-mail dari seorang teman tiba di penghujung hari yang melelahkan. Saya belum sempat membacanya karena saya sedang bekerja sampai larut malam untuk merawat anggota keluarga yang sakit parah. Saya benar-benar tak punya waktu untuk hal lain.