Category  |  Santapan Rohani

Dunia yang Sempurna

Katie mendapat tugas sekolah untuk menulis karangan berjudul “Duniaku yang Sempurna”. Ia menulis: “Dalam duniaku yang sempurna . . . es krim itu gratis, permen ada di mana-mana, dan langit selalu biru setiap saat, dengan awan-awan kecil yang bentuknya lucu-lucu.” Kemudian isi tulisannya berkembang menjadi lebih serius. “Dalam dunia itu,” lanjutnya, “Tak ada orang yang akan menerima kabar buruk. Tak ada juga orang yang harus menyampaikan kabar buruk.”

Aku Bisa Melihatmu

Ketika Xavier berusia dua tahun, ia pernah berlari dari satu lorong ke lorong lainnya di dalam sebuah toko sepatu kecil. Sambil bersembunyi di balik tumpukan kotak sepatu, ia tertawa geli saat suami saya, Alan, berkata, “Aku bisa melihatmu.”

Menerapkan Iman

Saat menginap di sebuah hotel di Austin, Texas, saya melihat selembar kartu di meja dalam kamar saya. Pada kartu itu tertulis:

Seperti Apakah Allah Itu?

Untuk merayakan momen istimewa, saya diajak suami mengunjungi sebuah galeri seni di lingkungan kami. Ia mengatakan bahwa saya dapat memilih salah satu lukisan di sana sebagai hadiah. Saya pun memilih sebuah lukisan kecil yang menggambarkan anak sungai yang mengalir di tengah hutan. Dasar sungai hampir mengisi seluruh gambar sehingga lukisan itu tidak banyak menampilkan langit. Meskipun demikian, pantulan pada permukaan air sungai yang jernih memperlihatkan posisi matahari, puncak-puncak pohon, dan suasana yang berkabut. Satu-satunya cara untuk “melihat” langit adalah dengan memandangi permukaan air sungai itu.

Terang Dunia

Salah satu karya seni favorit saya tergantung di ruang kapel Keble College di Oxford, Inggris. Lukisan The Light of the World (Terang Dunia) karya William Holman Hunt asal Inggris itu menunjukkan Yesus yang memegang lentera dan sedang mengetuk pintu sebuah rumah.

Gambaran Kasih

Saya dan anak-anak telah mempraktikkan suatu aktivitas harian baru. Setiap malam sebelum tidur, kami mengumpulkan pensil warna-warni dan menyalakan lilin. Sembari meminta Allah untuk menerangi jalan kami, kami membuka buku jurnal kami masing-masing, lalu menggambar atau menulis jawaban dari dua pertanyaan berikut: Kapan aku menunjukkan kasih hari ini? dan Kapan aku gagal menyatakan kasih hari ini?

Cincin di Tempat Sampah

Suatu pagi, semasa kuliah, saya terbangun dan melihat teman sekamar saya Carol sedang panik. Cincin stempelnya hilang. Kami pun mencarinya ke mana saja, bahkan sampai mengubek-ubek tempat sampah.

Terbebas

Jonathan adalah anak laki-laki yang terlahir dengan cerebral palsy (kelumpuhan otak). Ia sempat tidak dapat berbicara atau berkomunikasi. Namun ibunya, Chantal Bryan, tidak pernah menyerah. Saat anak itu berusia sepuluh tahun, ibunya menemukan cara untuk berkomunikasi dengannya melalui gerak-gerik mata dan sebuah papan huruf. Setelah mengalami terobosan itu, sang ibu berkata, “Ia seakan terbebas dan kami dapat menanyakan apa pun kepadanya.” Kini Jonathan dapat membaca dan menulis, bahkan mengarang puisi; semuanya lewat komunikasi dengan kedua matanya. Saat ditanya bagaimana rasanya bisa “berbicara” dengan keluarga dan teman-temannya, ia menjawab, “Sungguh luar biasa aku bisa mengatakan bahwa aku mengasihi mereka.”

Dimerdekakan

Saat saya masih kecil dan tinggal di desa, ada satu hal tentang ayam yang menarik perhatian saya. Setiap kali berhasil menangkap seekor anak ayam, saya akan menggenggamnya sebentar, lalu dengan lembut melepaskannya. Namun, anak ayam itu tetap diam karena dikiranya masih berada dalam genggaman saya; meski bisa bebas berlari, anak ayam itu merasa terperangkap.