Dalam Kebenaran
Bertahun-tahun lalu, saya pernah menghadiri pernikahan dari sepasang mempelai yang berasal dari negara yang berbeda. Perpaduan budaya seperti itu memang indah, tetapi perayaan tersebut mencampur unsur tradisi Kristen dengan ritual-ritual dari sebuah kepercayaan lain yang menyembah dewa-dewa.
Bahu-Membahu
Pada zaman kuno, kota yang temboknya rusak menjadi indikasi bahwa penduduknya telah dikalahkan. Mereka terancam bahaya dan berisiko dipermalukan. Itulah alasan orang Yahudi membangun kembali tembok kota Yerusalem. Nehemia 3 menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan bahu-membahu.
Seruan Orang Buta
Beberapa tahun lalu, seorang rekan perjalanan memperhatikan bahwa saya berusaha sangat keras untuk dapat melihat benda-benda yang terletak di kejauhan. Ia kemudian melakukan satu hal yang sederhana, tetapi mengubah hidup saya. Ia melepas kacamatanya dan meminta saya untuk memakainya. Ketika saya memakai kacamatanya, penglihatan saya yang semula kabur, langsung menjadi jelas. Akhirnya saya pun pergi ke dokter dan ia meresepkan sepasang kacamata yang bisa saya pesan untuk memperbaiki masalah penglihatan saya.
Membuka Mata
Saat pertama kalinya mengunjungi Gereja Chora yang sangat megah di Istanbul, saya dapat memahami beberapa cerita Alkitab yang tergambar dalam lukisan dinding dan mosaik zaman Bizantium yang terdapat pada langit-langit gereja itu. Namun, ada banyak detail yang terlewatkan oleh saya. Dalam kunjungan kedua, saya didampingi oleh seorang pemandu. Ia pun menunjukkan semua detail yang saya lewatkan sebelumnya, sehingga saya mendapatkan gambaran yang utuh! Misalnya, gambaran pada lorong pertama dari gereja itu melukiskan kehidupan Yesus sebagaimana yang dicatat dalam Injil Lukas.
Jam dan Tanggal
Ayah saya meninggal dunia pada usia 58 tahun. Sejak saat itu, di setiap tanggal kematiannya, saya akan mengambil waktu untuk mengenang dirinya dan merenungkan kembali pengaruh yang telah diberikannya dalam hidup saya. Ketika menyadari bahwa saya sudah hidup lebih lama tanpa dirinya daripada hidup bersama beliau, saya mulai merenungkan betapa singkatnya masa hidup saya sendiri.
Masa “Mengunyah”
Baru-baru ini istri saya memberikan seekor anak anjing kepada saya. Kami menamainya Max. Suatu hari Max menemani saya di ruang kerja. Saat sedang berkonsentrasi bekerja, saya mendengar suara kertas robek di belakang saya. Saya menoleh dan mendapati tampang bersalah pada anak anjing itu. Sebuah buku telah terbuka lebar dan selembar kertas dari buku itu berjuntai di mulutnya.
Diam
Suatu hari, saya dan seorang teman sedang berselonjor di pantai sambil menikmati deburan ombak yang berirama di laut. Saat matahari mulai terbenam di kejauhan, ombak demi ombak terus bergulung ke arah kami, berhenti sebentar, lalu beriak lagi hingga hampir menyentuh ujung jari kami, dan kemudian surut kembali. “Aku suka sekali dengan laut,” kata teman saya sembari tersenyum. “Laut bergerak sehingga aku cukup diam dan tidak perlu bergerak.”
Persekutuan yang Terputus
Jeritan pilu yang nyaring menembus gelapnya udara petang itu. Saya membayangkan jeritan itu mengalahkan tangis dan ratapan dari para sahabat dan orang-orang terkasih yang berada di bawah salib Yesus. Jeritan itu mengalahkan rintihan dua penjahat yang sekarat, yang disalibkan di kedua sisi Yesus. Dan jeritan itu pastilah mengejutkan semua orang yang mendengarnya.
Salah Berkata-Kata
Baru-baru ini, saya mengirimkan pesan pendek kepada istri saya, Cari, dengan menggunakan program deteksi suara untuk menuliskan pesan itu. Saat itu saya hendak keluar menuju ke mobil untuk mengajak Cari pulang dari tempat kerjanya. Saya bermaksud mengirimkan pesan, “Mau dijemput di mana, mami sayang?”