Category  |  Santapan Rohani

Mengikuti Pimpinan Allah

Pada bulan Agustus 2015, ketika sedang menyiapkan diri untuk berkuliah di universitas yang kampusnya berjarak lumayan jauh dari rumah, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan kembali tinggal di rumah setelah lulus. Pikiran saya pun menjadi kalut. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Keluargaku? Gerejaku? Bagaimana jika nanti Allah memanggilku pergi ke daerah atau negara lain?

Sidik Jari Allah

Lygon Stevens suka sekali mendaki gunung bersama saudaranya, Nick. Mereka berdua adalah pendaki yang berpengalaman dan sama-sama pernah mencapai Puncak Denali di Gunung McKinley, puncak gunung tertinggi di Amerika Utara. Namun pada bulan Januari 2008, longsoran salju pada sebuah gunung di Colorado membuat Nick terluka dan menewaskan Lygon yang masih berusia 20 tahun. Ketika suatu hari Nick menemukan catatan harian Lygon di salah satu tasnya, ia sangat terhibur oleh isinya. Catatan harian adik perempuannya itu dipenuhi dengan perenungan, doa, dan pujian kepada Allah. Salah satu tulisannya adalah sebagai berikut: “Aku adalah karya seni buatan Allah. Akan tetapi, Dia belum selesai; bahkan Dia baru saja memulai karyanya. . . . Sidik jari Allah membekas di setiap bagian hidupku. Takkan pernah ada orang lain yang sama seperti diriku . . . dalam hidup ini, aku mendapat tugas yang harus kulakukan dan tugas itu tak bisa dilakukan oleh orang lain.”

Berpegang pada Janji Allah

Saat masih anak-anak, teman saya diyakinkan kakaknya bahwa sebuah payung cukup kuat untuk membuatnya terbang jika ia “percaya saja”. Jadi “dengan iman”, teman saya meloncat dari atap sebuah lumbung hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri dan menderita gegar otak ringan.

Memegang Erat

Saat berjalan kaki pulang setelah mengantar putri saya ke sekolah, saya berkesempatan untuk menghafalkan beberapa ayat Alkitab. Ketika saya menggunakan menit-menit itu untuk memusatkan pikiran saya pada firman Allah, firman itu sering saya ingat kembali di sepanjang hari dan itu memberikan penghiburan dan hikmat kepada saya.

Sebelum Segalanya Bermula

“Tetapi kalau Allah tidak memiliki awal dan akhir, dan selalu ada, apa yang dilakukan-Nya sebelum Dia menciptakan semuanya? Bagaimana Dia mengisi waktu-Nya?” Sejumlah anak sekolah Minggu yang ingin tahu selalu menanyakan hal-hal itu ketika kami membahas tentang natur kekekalan Allah. Saya biasanya menjawab bahwa sebagian dari hal itu merupakan misteri. Namun baru-baru ini, saya belajar bahwa Alkitab memberi kita jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Perubahan Sudut Pandang

Kota tempat saya tinggal pernah mengalami hujan salju yang terdahsyat dalam 30 tahun terakhir. Otot-otot saya terasa nyeri setelah berjam-jam mengeruk timbunan salju yang tidak habis-habisnya. Saya pun masuk ke rumah setelah bekerja keras dalam upaya yang sepertinya tidak membuahkan hasil. Setelah melepas sepatu bot, saya pun disambut oleh hangatnya perapian dan anak-anak saya yang berkumpul di sekelilingnya. Saat saya memandang keluar dari jendela rumah, sudut pandang saya terhadap cuaca buruk itu berubah total. Saya tidak lagi memandang timbunan salju di luar sebagai beban pekerjaan, melainkan saya menikmati keindahan dari ranting-ranting pohon yang membeku dan bentangan salju putih yang menyelimuti pemandangan suram di musim dingin.

Merindukan Allah

Suatu hari putri saya berkunjung ke rumah kami bersama anak laki-lakinya yang berumur satu tahun. Saat itu saya sedang bersiap-siap meninggalkan rumah untuk sebuah pekerjaan. Namun, begitu saya keluar dari ruangan, cucu saya mulai menangis. Itu terjadi dua kali, dan setiap kali saya selalu kembali ke ruangan untuk menemaninya sebentar. Begitu saya mengarah ke pintu untuk ketiga kalinya, bibir mungilnya mulai bergetar lagi. Saat itu putri saya berkata, “Ayah, ajak saja ia ikut denganmu.”

Menanti dengan Penuh Harap

Setiap hari May Day (1 Mei) di Oxford, Inggris, orang-orang sudah berkumpul sejak pagi-pagi buta untuk menyambut musim semi. Pada jam 6 pagi, Magdalen College Choir akan menyanyi dari atas Magdalen Tower. Ribuan orang menanti dengan penuh harap ketika kegelapan dihalau oleh fajar yang merekah diiringi lantunan lagu dan dentang lonceng.

Mematahkan Belenggu

Kami merasakan kunjungan ke Christ Church Cathedral di Stone Town, Zanzibar, begitu menyentuh hati. Itu karena bangunan katedral tersebut tepat berada di lokasi yang sebelumnya merupakan pasar budak terbesar di Afrika Timur. Para perancang katedral itu ingin menunjukkan melalui simbol-simbol fisik bagaimana Injil telah mematahkan belenggu perbudakan. Lokasi tersebut tidak lagi menjadi lambang dari kekejaman dan kejahatan yang mengerikan, melainkan lambang dari anugerah Allah yang menjadi nyata.