Sama Seperti Bapa
Ayah saya pernah mempunyai sepatu bot koboi setinggi lutut yang kini sudah berdebu dan ditaruh di lantai ruang kerja saya. Setiap hari, saat melihat sepatu bot itu, saya teringat pada kepribadian beliau.
Apa yang Dikatakan Para Ahli?
Kolumnis surat kabar Boston Globe, Jeff Jacoby, pernah menulis tentang “kepercayaan diri para ahli yang bisa salah besar dan sangat fatal dalam memprediksi sesuatu”. Jika melihat perjalanan sejarah dari abad ke abad, kita bisa membenarkan tulisan Jacoby. Misalnya saja, penemu hebat Thomas Edison pernah menyatakan bahwa film bersuara tidak akan pernah menggantikan keberadaan film bisu. Lalu pada tahun 1928, Henry Ford menyatakan, “Manusia sudah terlalu cerdas untuk kembali masuk ke dalam peperangan.” Tak terhitung jumlah prediksi dari para “ahli” yang akhirnya melenceng jauh. Ternyata kecerdasan pun ada batasnya.
Kemuliaan yang Menakjubkan
Salah satu hal yang menyenangkan dari perjalanan ke Eropa adalah kesempatan mengunjungi katedral-katedral megah yang banyak terdapat di sana. Keindahan dari setiap katedral yang menjulang tinggi itu sungguh menakjubkan. Karya arsitektur, seni, dan simbol-simbol pada bangunan-bangunan luar biasa tersebut seakan memancarkan keajaiban dan kemegahan yang dapat membuat seseorang terpesona.
Terus Maju
Ketika berjalan di luar gedung kantor tempat saya bekerja, saya tercengang melihat sebatang tanaman bunga yang indah tumbuh di suatu celah lempengan beton yang menutupi tanah. Meskipun keadaannya tidak mendukung, tanaman itu berhasil menemukan tempat untuk berakar di retakan yang kering dan bertumbuh dengan baik. Saya kemudian menyadari bahwa tepat di atas tanaman itu terpasang unit pendingin udara yang meneteskan air pada tanaman itu sepanjang hari. Jadi, meskipun lingkungannya tidak bersahabat, tanaman tersebut menerima pertolongan yang dibutuhkannya untuk bertumbuh dari tetesan air itu.
Mulai Kembali
Setelah perayaan Natal berakhir pada akhir Desember, pikiran saya mulai tertuju pada tahun yang akan datang. Di saat anak-anak sedang libur sekolah dan rutinitas sehari-hari agak longgar, saya dapat merenungkan kembali apa saja yang telah saya alami setahun lalu dan apa yang saya harapkan di tahun yang baru. Perenungan saya terkadang disertai rasa sakit dan penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Namun, penantian untuk memulai tahun yang baru telah memenuhi hati saya dengan pengharapan dan semangat baru. Saya merasa mempunyai kesempatan untuk memulai kembali dengan awal yang baru, terlepas dari apa pun yang terjadi setahun lalu.
Memori yang Menguatkan Iman
Saat melangkah memasuki ruang ibadah yang dipenuhi dengan musik, saya melihat kerumunan orang yang telah berkumpul untuk merayakan malam Tahun Baru. Sukacita membuat hati saya melimpah dengan pengharapan, sembari mengingat kembali doa-doa yang dinaikkan setahun sebelumnya. Jemaat kami pernah berduka karena anak-anak yang bermasalah, kematian orang-orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, dan hubungan yang retak. Namun, kami juga mengalami anugerah Allah saat mengingat orang-orang yang hatinya diubahkan dan hubungannya dipulihkan. Kami merayakan kemenangan, pernikahan, wisuda, dan baptisan. Kami menyambut anak-anak yang lahir, yang diadopsi, dan yang diserahkan kepada Tuhan, dan masih banyak lagi.
Bersyukur untuk Penyelesaian
Di akhir tahun, kita bisa merasa terbebani oleh tugas yang belum kita selesaikan. Tanggung jawab di rumah dan di tempat kerja seakan tiada habisnya, dan apa yang tidak selesai hari ini akan menumpuk di hari berikutnya. Namun, dalam perjalanan iman kita, adakalanya kita perlu berhenti sejenak untuk mensyukuri kesetiaan Allah dan tugas-tugas yang telah diselesaikan.
Lekat di Mata
Nama burung kolibri dalam bahasa Inggris adalah hummingbird. Nama itu diperoleh dari suara dengungan (hum) yang terdengar saat burung itu mengepakkan sayapnya dengan cepat. Dalam bahasa Portugis, burung itu dikenal sebagai “pencium bunga”, dan dalam bahasa Spanyol disebut sebagai “permata terbang”. Salah satu nama kesukaan saya untuk burung kolibri adalah biulu, yang artinya “lekat di mata” dalam bahasa Zapotec di Meksiko. Dengan kata lain, sekali Anda melihat burung kolibri, Anda tidak akan pernah melupakannya.
Kehidupan Sehari-hari
Saya memasukkan belanjaan ke dalam mobil dan dengan hati-hati mengendarai mobil saya keluar dari tempat parkir. Tiba-tiba saja seorang pria muncul menyeberangi jalan persis di depan saya dengan tidak menyadari laju mobil saya. Saya segera menginjak rem dan berhasil menghindari tabrakan dengan orang itu. Pria itu terkejut, mengangkat wajahnya, dan menatap saya. Saat itu juga, saya tahu saya punya dua pilihan: meluapkan rasa frustrasi sambil menatapnya dengan tajam, atau memberikan senyum pengampunan. Saya memilih untuk tersenyum.