Category  |  Santapan Rohani

Jurnal Ucapan Syukur

Ketika saya baru beriman kepada Tuhan Yesus, seorang pembimbing rohani mendorong saya untuk membuat jurnal ucapan syukur. Setelah itu, saya selalu membawa buku kecil itu ke mana pun saya pergi. Terkadang saya langsung menuliskan ucapan syukur saya. Di lain waktu, saya menuliskan ucapan syukur saya di akhir pekan dalam waktu perenungan pribadi.

Sebagai Anak Raja

Ketika Andrew Cheatle kehilangan ponselnya di pantai, ia menyangka ponsel itu telah hilang selamanya. Namun seminggu kemudian, seorang nelayan bernama Glen Kerley meneleponnya. Ia mengeluarkan ponsel milik Cheatle dari dalam perut seekor ikan kod yang beratnya sekitar 11 kg. Ponsel itu ternyata masih berfungsi setelah dikeringkan.

Natal dan Tradisi

Jika Anda menikmati sebatang candy cane (permen berbentuk tongkat bergaris-garis merah dan putih dengan rasa mint), Anda patut mengucapkan “danke schön” (terima kasih) kepada bangsa Jerman, sebab merekalah yang pertama kalinya menciptakan permen itu di kota Cologne. Saat Anda mengagumi tanaman poinsettia, ucapkan “gracias” kepada bangsa Meksiko, tempat asal tanaman itu. Anda juga bisa mengucapkan “merci beaucoup” kepada bangsa Prancis untuk istilah noel, dan ucapkan “cheers” kepada bangsa Inggris untuk tanaman mistletoe. Semua itu adalah bagian dari tradisi dalam perayaan Natal, terutama di dunia Barat.

Kabar Pengharapan

Reginald Fessenden telah berupaya selama bertahun-tahun untuk dapat menyiarkan komunikasi lewat gelombang radio nirkabel. Para ilmuwan lain menganggap idenya radikal dan tidak lazim. Mereka tidak yakin bahwa Fessenden akan berhasil. Namun, ia berhasil melakukannya pada tanggal 24 Desember 1906, dengan menjadi orang pertama yang memainkan musik melalui gelombang radio.

Allah Menyertai Kita

“Kristus ada besertaku, Kristus ada di depanku, Kristus ada di belakangku, Kristus ada di dalamku, Kristus ada di bawahku, Kristus ada di atasku, Kristus ada di kananku, Kristus ada di kiriku . . .” Lirik himne itu ditulis oleh Santo Patrick, seorang Kristen asal Irlandia dari abad ke-5. Himne tersebut bergema di dalam benak saya ketika membaca tulisan Matius tentang kelahiran Yesus. Membaca bagian itu terasa seperti sebuah pelukan hangat yang mengingatkan bahwa saya tidak pernah sendiri.

Malam Kudus bagi Jiwa

Lama sebelum Joseph Mohr dan Franz Gruber menciptakan lagu Natal “Silent Night” (Malam Kudus) yang terkenal, Angelus Silesius telah menulis puisi berikut:

Rumah di Hari Natal

Suatu waktu di hari Natal, saya mendapat tugas di suatu tempat yang lokasinya tidak lazim bagi kebanyakan orang. Dalam perjalanan kembali ke kamar, saya diterpa udara dingin yang tertiup dari Laut Hitam. Saat itu, saya sangat merindukan rumah.

Memecah Kesunyian

Di akhir Perjanjian Lama, Allah seperti sedang bersembunyi. Selama empat abad, orang Yahudi menanti dan bertanya-tanya. Allah terlihat seperti pasif, tidak peduli, dan tidak mendengarkan doa-doa mereka. Hanya tersisa satu harapan: janji tentang Mesias yang sudah dikumandangkan sejak lama. Orang Yahudi mempertaruhkan segalanya demi janji itu. Lalu sesuatu yang monumental terjadi. Kabar kelahiran seorang bayi pun tersiar.

Langkah yang Radikal

Beberapa tahun lalu, sahabat saya sempat kehilangan putra kecilnya saat berjalan menerobos kerumunan orang di salah satu stasiun kereta di pusat kota Chicago. Sungguh pengalaman yang menakutkan. Dengan kalang kabut, ia meneriakkan nama anaknya dan berlari balik ke eskalator untuk menelusuri langkahnya kembali dengan harapan akan menemukan putranya. Berpisah selama beberapa menit terasa seperti berjam-jam, dan syukurlah, putranya tiba-tiba menyeruak dari kerumunan dan berlari menuju dekapannya.