Biji Helikopter
Sewaktu anak-anak kami masih kecil, mereka senang sekali berusaha menangkap “biji helikopter” yang berjatuhan dari pohon-pohon maple perak milik tetangga kami. Bentuk bijinya mirip dengan sepasang sayap. Pada akhir musim semi, biji-biji maple yang berguguran biasanya berputar-putar mirip baling-baling helikopter sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Biji itu tidak dirancang untuk terbang, melainkan untuk jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi pohon.
Masa-Masa yang Melelahkan
Di halaman belakang rumah kami, ada pohon ceri yang dahulu menjulang gagah tetapi sekarang hampir mati. Saya memanggil ahli tanaman untuk memeriksa pohon itu. Ia mengatakan bahwa pohon itu “terlalu stres” dan membutuhkan pemeliharaan khusus segera. “Bukan cuma kamu,” gumam istri saya, Carolyn, pada pohon itu sembari berlalu. Masa-masa itu memang terasa begitu melelahkan baginya.
Melihat Mahakarya
Ayah saya bekerja sebagai pembuat tempat anak panah yang dirancang khusus sesuai pesanan para pemanah. Ia mengukir gambar satwa liar dengan detail rumit di atas potongan kulit, sebelum menjahit potongan-potongan tersebut menjadi satu.
Petak Umpet
“Tidak kelihatan!”
Melayani dan Dilayani
Marilyn telah sakit selama beberapa minggu dan banyak orang menguatkannya sepanjang masa-masa sulit tersebut. Bagaimana aku dapat membalas semua kebaikan mereka? pikir Marilyn dengan cemas. Kemudian suatu hari ia membaca doa yang tertulis demikian: “Berdoalah agar [orang lain] semakin rendah hati, sehingga mereka tidak hanya bersedia melayani, tetapi juga mau dilayani.” Marilyn pun menyadari bahwa balasan yang setimpal itu tidak diperlukan, tetapi ucapan terima kasih dan mengizinkan orang lain menikmati sukacita dari melayani saja sudah cukup.
Dalam Hadirat-Nya
Brother Lawrence, biarawan dari abad ke-17, terbiasa berdoa sebelum memulai pekerjaannya sehari-hari sebagai juru masak di komunitasnya seperti ini: “Ya Allahku . . . berilah kepadaku anugerah-Mu untuk tinggal dalam hadirat-Mu. Tolonglah aku dalam pekerjaanku. Kuasailah seluruh perasaanku.” Selama bekerja, ia senantiasa berbicara kepada Allah, memperhatikan petunjuk-Nya, dan mengabdikan pekerjaannya itu kepada-Nya. Bahkan pada saat ia sangat sibuk, ia akan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri dan memohon anugerah-Nya. Apa pun yang terjadi, Lawrence mencari dan mendapati kasih dari Penciptanya.
Apalagi!
Pada Oktober 1915, semasa Perang Dunia I, Oswald Chambers tiba di Kamp Zeitoun, pusat pelatihan militer di dekat Kairo, Mesir. Di sana Chambers melayani sebagai pembina rohani bagi para tentara Persemakmuran Inggris. Dalam salah satu kebaktian di malam hari, 400 orang memenuhi sebuah tenda pertemuan yang besar untuk mendengarkan Chambers membahas tema “Apa Manfaat Doa?”. Setelah itu, saat berbincang secara pribadi dengan para prajurit yang berusaha mencari Allah di tengah medan peperangan, Oswald sering mengutip Lukas 11:13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”
Kasih yang Besar
Baru-baru ini, kami menjemput Moriah, cucu perempuan kami yang berusia 22 bulan, untuk bermalam pertama kalinya tanpa kakak-kakak lelakinya. Kami mencurahkan kasih sayang dan perhatian total kepada Moriah. Kami ikut melakukan semua aktivitas yang ia sukai. Keesokan harinya, setelah mengantar Moriah pulang, kami pamit dan melangkah menuju pintu. Saat itu juga, tanpa mengucapkan apa-apa, Moriah meraih tas yang dibawanya menginap (yang masih tergeletak di dekat pintu) dan kembali mengikuti kami keluar.
Kebaikan Berlipat Ganda
Cheryl terkejut ketika ia menepi untuk mengantar pesanan pizza. Ia pikir yang ditujunya adalah sebuah rumah, tetapi sekarang ia justru berdiri di halaman depan sebuah gereja. Cheryl yang bingung membawa masuk pesanan pizza pepperoni itu dan kemudian ditemui oleh seorang pendeta.