Category  |  Santapan Rohani

Pengingat Penting

Seorang antropolog bernama Anthony Graesch mengatakan bahwa bagian luar dari lemari es mengungkapkan sesuatu yang penting bagi kita. Dari penelitian tentang keluarga-keluarga di Los Angeles, Graesch dan para koleganya mencatat bahwa rata-rata ada 52 barang yang dipasang pada lemari es—antara lain, jadwal sekolah, foto keluarga, gambar buatan anak-anak, dan hiasan magnet. Graesch menyebut lemari es sebagai “gudang penyimpanan kenangan keluarga”.

Memperkuat Hati

Pusat kebugaran di lingkungan tempat saya berolahraga selama bertahun-tahun baru saja ditutup bulan lalu, sehingga saya harus bergabung dengan pusat kebugaran baru. Tempat sebelumnya itu memberikan kehangatan tersendiri, dengan fasilitas yang nyaman dan para pengunjung yang gemar bersosialisasi sambil berolahraga. Rasanya kami tak pernah sampai berkeringat. Sebaliknya, pusat kebugaran yang baru berisi fasilitas canggih dan dipenuhi dengan para pria dan wanita yang serius berolahraga dan sungguh-sungguh berupaya membentuk tubuh yang lebih sehat. Saya mengamati mereka berusaha keras dan bersusah payah melaku-kannya. Tubuh mereka terlihat kuat, tetapi saya tidak tahu apakah organ jantung di dalam tubuh mereka juga diperkuat.

Selalu Mendampingi

Dengan gugup, Mi’Asya berjalan menuju mimbar untuk berpidato dalam upacara wisuda kelas 5 dengan disaksikan oleh 30 teman sekelasnya dan orangtua mereka. Sementara kepala sekolah menyesuaikan ketinggian mikrofon dengan tinggi badan Mi’Asya, ia justru berbalik membelakangi mikrofon dan hadirin. Orang-orang berusaha memberi Mi’Asya dorongan dengan membisikkan: “Ayo Nak, kamu bisa melakukannya.” Namun ia bergeming. Lalu seorang teman sekelas Mi’Asya berjalan ke depan dan berdiri di sisinya. Akhirnya Mi’Asya pun membacakan pidatonya bersama-sama sang kepala sekolah dan sahabat yang mendampinginya. Sungguh suatu contoh dukungan yang luar biasa!

Ikut Berseru

Kelompok persekutuan doa wanita di negara saya rutin meng-adakan kebaktian doa bulanan untuk mendoakan Ghana dan negara-negara Afrika lainnya. Saat ditanya mengapa mereka begitu setia mendoakan bangsa-bangsa, pemimpin persekutuan doa itu, Gifty Dadzie, berkata, “Lihatlah di sekeliling Anda, dengar dan tontonlah berita. Banyak bangsa yang sedang menderita—karena perang, bencana, penyakit, dan kekerasan—telah membutakan orang akan kasih Allah bagi umat manusia dan berkat yang dicurahkan-Nya kepada kita. Kami percaya Allah turut bekerja dalam pergumulan bangsa-bangsa, maka kami memuji Dia atas berkat-berkat-Nya dan berseru memohon campur tangan-Nya.”

Menantikan Allah

Suatu hari saya duduk bersama para penumpang lainnya dalam bus yang membawa kami ke ruang tunggu penerbangan selanjutnya. Tiba-tiba pengemudi bus mendapat perintah untuk berhenti sejenak. Karena waktu terbang sudah mepet, seorang penumpang tidak bisa menerima penundaan itu dan kehilangan kesabaran. Ia memarahi si pengemudi, memaksanya untuk mengabaikan perintah, bahkan mengancam akan menuntutnya. Tak lama kemudian, seorang petugas dari maskapai sambil berlari datang membawa sebuah koper. Dengan memandangi penumpang yang marah itu, si petugas menyo-dorkan koper yang dibawanya dan berkata, “Koper Anda ketinggalan. Saya dengar Anda akan menghadiri pertemuan penting, jadi saya pikir Anda pasti membutuhkan koper ini.”

Mampir Sebentar

Semasa saya kanak-kanak, keluarga kami melakukan perjalanan dari Ohio ke Virginia Barat setiap bulannya untuk mengunjungi orangtua dari ibu saya. Setiap kali kami tiba di depan pintu peternakan mereka, nenek akan menyambut kami dan berkata, “Ayo, mampir sebentar.” Itulah caranya mengajak kami masuk ke rumah-nya, menikmati waktu, dan bercengkerama sambil melepas rasa rindu.

Bersikap Dingin

Karena putus asa, seorang wanita menghubungi Pusat Layanan Perumahan tempat saya bekerja. Rusaknya alat pemanas ruangan di rumah kontrakannya membuat dirinya hampir membeku. Dengan panik, ia mengungkapkan kekhawatirannya atas keadaan anak-anaknya. Tanpa pikir panjang, saya menjawab sesuai prosedur resmi: “Pindah saja ke hotel dan kirimkan tagihannya kepada pemilik kontrakan Anda.” Ia pun marah dan menutup teleponnya.

Namaku Dipanggil

Pertama kalinya saya bertemu dengan sekelompok mahasiswa baru di mata kuliah penulisan yang saya ajar, saya sudah tahu nama mereka masing-masing. Saya sudah meluangkan waktu untuk mempelajari nama dan foto mereka dari daftar kehadiran di kelas, sehingga ketika mereka masuk kelas, saya bisa menegur mereka, “Halo, Jessica,” atau “Selamat datang, Trevor.” Saya melakukannya karena saya tahu betapa berartinya ketika seseorang mengenal dan memanggil nama kita.

Gaya Hidup Kita

Saya tergugah oleh frasa “gaya hidup kita” yang dicantumkan pada salah satu ayat dari Alkitab terjemahan kontemporer. Ketika mencari frasa itu dengan Google, kebanyakan hasil pencarian terfokus pada hal-hal yang dianggap orang dapat mengancam gaya hidup mereka selama ini. Di antaranya yang dianggap paling mengancam adalah masalah perubahan iklim, terorisme, dan kebijakan pemerintah.