Pengingat yang Penting
Saya tidak tahu bagaimana mereka dapat mengetahui alamat saya, tetapi saya makin sering menerima selebaran melalui pos dari orang-orang yang mengundang saya untuk hadir dalam acara yang mengajarkan tentang program manfaat di masa pensiun. Semuanya berawal dari beberapa tahun yang lalu ketika saya menerima undangan untuk bergabung dengan sebuah lembaga yang melayani kebutuhan para pensiunan. Semua undangan itu menjadi semacam pengingat yang mengatakan: “Kamu sudah semakin tua. Bersiaplah!”
Menjauhi Godaan
Ketika ayah saya menjadi Kristen di masa tuanya, ia sering membuat saya kagum dengan caranya mengatasi godaan. Ketika godaan datang, ia cukup menjauhinya! Misalnya, ketika adu pendapat dengan seorang tetangga sudah mengarah pada pertengkaran, Ayah memilih untuk pergi sejenak menjauhi masalah itu daripada tergoda untuk meneruskannya menjadi pertengkaran.
Dorongan yang Berulang-Ulang
Seorang wartawan memiliki kebiasaan yang tidak lazim. Ia tidak mau menggunakan pena bertinta biru. Jadi, ketika rekannya bertanya kepadanya apakah ia mau dibelikan sesuatu dari toko, ia minta dibelikan sejumlah pena, tetapi, “Jangan yang berwarna biru,” katanya. “Aku tak mau pena biru. Aku tak suka warna biru. Warna biru tidak cocok buat saya. Jadi, tolong belikan selusin pena, warnanya boleh apa saja, asal jangan biru!” Keesokan harinya, si wartawan menerima selusin pena yang dibelikan rekannya itu, tetapi semuanya berwarna biru. Ketika ditanya, rekannya itu hanya berkata, “Kamu terus-menerus mengatakan ‘biru, biru’. Kata itu yang paling menancap di pikiranku!” Kata yang diucapkan berulang-ulang oleh wartawan itu memang memberikan dampak, tetapi berlawanan dengan apa yang sebenarnya ia kehendaki.
Begitu Dikasihi
Bertahun-tahun lalu, saya pernah memiliki kantor di Boston. Dari kantor itu, saya dapat memandang ke arah Taman Makam Granary, tempat banyak pahlawan Amerika yang penting dimakamkan. Di sana terdapat nisan dari John Hancock dan Samuel Adams, dua tokoh penanda tangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Tidak jauh dari nisan mereka, terdapat nisan Paul Revere, pahlawan perang revolusi Amerika.
Melayangkan Pandangan
Sebuah artikel dalam jurnal Surgical Technology International (Teknologi Bedah Internasional) mengatakan bahwa menatap layar ponsel dengan posisi kepala tertunduk itu setara dengan menahan beban seberat 27 kg di leher. Jika kita memikirkan bahwa jutaan orang di seluruh dunia menghabiskan rata-rata 2-4 jam setiap harinya untuk membaca dan mengirimkan pesan pendek dengan ponsel mereka, tidak heran apabila makin banyak orang yang mengalami masalah pada leher dan tulang belakang mereka sebagai akibat dari kebiasaan tersebut.
Menjaga Privasi Saya
Dalam suatu lokakarya, seorang lulusan desain industri dari universitas di Singapura ditantang untuk memberikan solusi baru bagi suatu masalah umum dengan hanya menggunakan benda-benda yang biasanya ada di sekitar kita. Ia pun menciptakan sejenis rompi untuk menjaga privasi seseorang dari gangguan selama perjalanan dalam kereta dan bus yang padat penumpang. Rompi itu dibalut dengan banyak paku plastik yang fleksibel dan berukuran panjang yang biasanya digunakan untuk melindungi tanaman dari serangan burung dan kucing.
Memperhatikan Diri Sendiri
Setelah suami saya menjalani operasi jantung, saya bermalam menemaninya di rumah sakit dengan rasa cemas. Keesokan paginya, saya teringat sudah membuat janji untuk memotong rambut di salon. “Aku harus membatalkannya,” kata saya, sembari menyusuri rambut saya yang acak-acakan.
Peringatan dari Abigail
Daud dan 400 prajuritnya bergerak menyusuri pedesaan untuk mencari Nabal, orang kaya yang dengan keji pernah menolak untuk menolong mereka. Daud mungkin sudah membunuhnya, andaikata ia tidak terlebih dahulu bertemu dengan Abigail, istri Nabal. Dengan persediaan makanan yang telah disiapkannya untuk para prajurit Daud, Abigail menemui mereka dengan harapan dapat mencegah bencana yang akan terjadi. Dengan sikap hormat, ia mengingatkan Daud tentang rasa bersalah yang akan menghantui Daud apabila ia menuntaskan rencananya membalas dendam (1Sam. 25:31). Daud sadar bahwa Abigail benar dan memujinya atas kebijaksanaan yang ditunjukkannya.
Jangan Menyerah!
Pada tahun 1952, Florence Chadwick berusaha berenang hampir sejauh 42 km dari pantai California ke Pulau Catalina. Setelah berenang selama 15 jam, kabut tebal mulai menghalangi pandangannya. Ia pun kehilangan arah dan menyerah. Ia sangat menyesal setelah menyadari bahwa ia berhenti ketika tujuannya hanya tinggal 1,5 KM lagi.