Category  |  Santapan Rohani

Mulai dari Atas

Rumah saya terletak di tepi anak sungai pada ngarai di dekat sebuah gunung besar. Setelah salju mencair di musim semi dan hujan turun dengan lebat, aliran anak sungai itu meluap dan lebih menyerupai aliran sungai. Banyak orang pernah tenggelam di anak sungai itu. Suatu hari saya menyusuri anak sungai itu hingga ke sumbernya—padang salju di puncak gunung. Dari sanalah salju yang mencair memulai perjalanannya menuruni gunung dan bergabung dengan aliran air lainnya membentuk anak sungai yang mengalir di bawah rumah saya.

Lonceng Pengingat

Menara jam di Westminster, dengan loncengnya yang dikenal dengan nama Big Ben, merupakan simbol terkenal di kota London, Inggris. Konon melodi dari dentangan lonceng itu diambil dari nada lagu “I Know That My Redeemer Liveth” (Ku Tahu Penebusku Hidup) dari Messiah karya Handel. Lirik pun ditambahkan dan dipajang di ruang menara jam tersebut:

Saat-Saat Kesepian

Di antara tumpukan surat yang saya terima setelah masa Natal, saya menemukan sesuatu yang berharga, yakni selembar kartu Natal buatan tangan dengan lukisan yang dibuat di atas karton tebal hasil daur ulang. Sapuan cat air yang sederhana itu melukiskan suasana perbukitan di musim dingin yang dicerahkan oleh pepohonan hijau yang asri. Di bagian tengah bawah, tergores tulisan tangan yang dibingkai gambar buah beri merah, dengan kata-kata:

Apakah Dia Mendengarkan?

Kerap kali aku merasa seolah Allah tak mendengarkanku.” Kata-kata itu diucapkan seorang wanita yang berusaha tetap teguh dalam perjalanan imannya bersama Allah sementara ia masih mendampingi suaminya yang kecanduan alkohol. Kata-kata itu juga menggemakan jeritan hati banyak orang percaya. Bertahun-tahun lamanya, wanita itu meminta Allah untuk mengubah suaminya. Namun perubahan itu tidak pernah terjadi.

Segala Kebaikan-Nya

Perjalanan hidup kita sering menjadi sulit karena perhatian kita begitu tersita pada apa yang kita pikir kita butuhkan saat ini sehingga kita lupa pada apa yang sesungguhnya sudah kita miliki. Saya diingatkan akan hal itu ketika paduan suara di gereja kami menyanyikan sebuah pujian yang indah dari Mazmur 103. “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (ay.2). Bagi kita, Tuhan itu maha pengampun, penyembuh, penebus, penyedia, pemuas, dan pembaru (ay.4-5). Bagaimana mungkin kita melupakan semua itu? Namun kenyataannya, itulah yang sering kita lakukan ketika pengalaman hidup sehari-hari membuat perhatian kita tersita oleh berbagai kebutuhan yang mendesak, kegagalan yang berulang, dan keadaan yang tidak lagi dapat kita kendalikan.

Dia akan Menjawab

Saya begitu gembira ketika menemukan halaman Twitter dari bintang film Korea favorit saya. Saya pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat untuknya. Saya menuliskan pesan terbaik yang bisa saya tuliskan, lalu menunggu jawaban darinya. Saya sadar, kecil kemungkinan saya akan mendapatkan balasan. Seorang selebriti seperti dirinya bisa menerima banyak sekali surat dan pesan dari para penggemar setiap harinya. Namun demikian, saya berharap ia akan membalas pesan saya. Saya pun sangat kecewa ketika tak ada balasan yang saya terima. 

Bisa Jadi Tahun Ini

Ayah saya adalah seorang pendeta, dan pada hari Minggu pertama di setiap tahun baru, ia selalu berkhotbah tentang kedatangan Kristus dan biasanya mengutip dari 1 Tesalonika 4. Inti khotbahnya selalu sama: “Bisa jadi tahun ini, Yesus akan datang kembali. Sudah siapkah Anda bertemu dengan-Nya?” Saya tidak akan pernah melupakan khotbah yang saya dengar saat berusia 6 tahun itu. Sembari mendengarkan, saya berpikir: Jika itu benar, aku tidak yakin apakah aku termasuk di antara orang-orang yang akan Dia jemput.

Terbang di Udara

Dalam bukunya yang berjudul On the Wing (Di Atas Sayap), Alan Tennant menceritakan usahanya untuk melacak migrasi burung alap-alap kawah (Peregrine Falcon). Pemangsa yang dikagumi karena keindahan, kegesitan, dan kekuatannya itu dahulu menjadi sahabat berburu bagi para kaisar dan bangsawan. Sayangnya, maraknya penggunaan pestisida DDT pada dekade 1950-an mengganggu siklus reproduksi burung tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu spesies yang terancam punah.

Undangan untuk Beristirahat

Ketika sedang mendampingi seorang sahabat di ruang Unit Gawat Darurat di sebuah rumah sakit, saya tergerak oleh suara rintihan pasien-pasien lain yang sedang kesakitan. Sembari berdoa bagi sahabat saya dan para pasien lain yang menderita, saya menyadari kembali betapa singkatnya kehidupan kita di bumi ini. Saya pun teringat pada sebuah lagu lama yang menyatakan bahwa dunia ini bukanlah kediaman kita—kita “hanya numpang lewat”.