Lembah Penglihatan
Buku doa kaum Puritan berjudul “Lembah Penglihatan” menggambarkan jarak yang terbentang antara seorang manusia berdosa dan Allah yang kudus. Manusia itu berkata kepada Allah, “Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan . . . ; dikungkung oleh dosa yang menggunung, telah kulihat kemuliaan-Mu.” Setelah menyadari kesalahannya, manusia itu tetap memegang pengharapan. Ia melanjutkan, “Bintang dapat terlihat dari sumur yang terdalam, dan semakin dalam sumurnya, semakin terang bintang-Mu bersinar.” Akhirnya, puisi itu diakhiri dengan permohonan: “Kiranya aku menemukan terang-Mu dalam kegelapanku, . . . kemuliaan-Mu di tengah lembahku.”
Menembus Kegelapan
Saya pertama kali melihat kilasan cahayanya ketika saya masih kuliah. Suatu malam di musim gugur yang sangat dingin, jauh dari sinar lampu kota, saya sedang naik di atas kereta pengangkut jerami yang dijejali oleh beberapa orang teman. Kala itu langit bercahaya dan kilauan warna-warni terbentang di cakrawala. Saya dibuat terpana. Sejak malam itu, saya selalu terpesona pada fenomena alam yang disebut aurora borealis itu, yang juga dikenal sebagai Cahaya Utara. Kebanyakan cahaya itu terlihat jauh di Utara dari tempat tinggal saya, tetapi adakalanya muncul di garis lintang yang lebih rendah. Sekali melihat fenomena itu, saya jadi ingin melihatnya lagi. Kapan pun kondisinya memungkinkan, saya berkata kepada teman-teman yang juga ikut terpesona pada fenomena itu, “Mungkin malam ini . . .”
Meneruskan dan Melepaskan
Banyak badan amal yang membantu orang-orang yang membutuhkan bergantung pada sumbangan pakaian dan barang rumah tangga yang sudah tak terpakai dari pihak-pihak yang berkecukupan. Memang tidak salah kita meneruskan kepada orang lain barang-barang yang tidak lagi kita perlukan agar dapat bermanfaat bagi mereka. Namun kita sering merasa berat hati untuk melepaskan hal-hal berharga yang masih kita pakai setiap hari.
Memikirkan Orang Miskin
Di tahun 1780, hati Robert Raikes tergerak ketika melihat anak-anak yang buta huruf dan miskin di sekitar tempat tinggalnya di London. Ia memperhatikan bahwa tidak ada usaha yang dilakukan untuk menolong anak-anak itu sehingga ia memutuskan untuk turun tangan dan melakukan sesuatu.
Ciptaan Baru
Pada saat saya baru mulai bekerja, saya mempunyai seorang rekan kerja yang senang sekali menggunakan nama Tuhan sebagai sumpah serapah. Tanpa rasa bersalah, ia mengejek orang Kristen yang baru percaya atau mereka yang mencoba berbicara tentang Yesus kepadanya. Pada hari saya keluar dari pekerjaan itu untuk pindah ke komunitas dan tempat kerja yang baru, saya teringat pernah berpikir bahwa orang itu tak akan mungkin menjadi pengikut Yesus.
Belajar Berjalan
Baru-baru ini seorang kawan menemui saya dengan membawa kabar yang menggembirakan dan ia menghabiskan waktu 10 menit untuk bercerita tentang keponakannya yang berumur 1 tahun dan baru bisa berjalan sendiri. Ia sudah bisa melangkah! Lalu saya menyadari bahwa pembicaraan kami mungkin terdengar aneh di telinga orang lain yang kebetulan lewat. Kebanyakan orang bisa berjalan. Apa istimewanya?
Sisi Positif Suatu Kemunduran
Perenang Amerika Serikat Dara Torres memiliki karier yang menakjubkan. Ia tercatat pernah berlomba dalam lima Olimpiade dari tahun 1984 hingga 2008. Di penghujung kariernya, Torres berhasil memecahkan rekor nasional untuk gaya bebas 50 meter—rekor yang pernah dibuatnya sendiri 25 tahun sebelumnya. Namun Torres tidak selalu berhasil. Ia pernah juga menemui hambatan dalam karier atletiknya: cedera, operasi, dan usia yang hampir dua kali lebih tua dari kebanyakan pesaingnya. Torres berkata, “Saya selalu ingin menang dalam segala hal, setiap hari, sejak saya kecil. . . . Saya juga sadar ternyata suatu kemunduran mempunyai sisi positif, karena kegagalan justru memacu saya mengejar impian-impian baru.”
Pantaslah!
“Ia sempurna untukmu,” kata seorang teman kepadaku. Ia sedang berbicara tentang seorang pria yang baru saja dikenalnya. Ia menceritakan tatapan lembut pria itu, senyum ramahnya, dan kebaikan hatinya. Ketika saya bertemu pria itu, saya sependapat dengan teman saya itu. Sekarang pria itu sudah menjadi suami saya, dan pantaslah saya mencintainya!
Pelajaran Memancing
Saya sedang asyik memancing di perairan yang jernih dan tenang di Danau Piatt, yang terletak di dekat rerumputan liar yang rimbun. Saya menyaksikan seekor ikan kerapu yang besar menyelinap keluar dari rerumputan yang lebat itu untuk melihat-lihat keadaan. Ikan itu mendekati cacing yang kelihatannya nikmat di ujung pancing saya, menatapnya, dan kembali ke balik rerumputan. Hal itu terjadi beberapa kali sampai si ikan melihat kailnya. Kemudian ia mengibaskan ekornya, pergi menghilang ke sarangnya, dan tidak pernah muncul lagi.