Pelayanan yang Setia
Karena pernah bertugas di Perang Dunia I, C. S. Lewis tidak asing lagi dengan tekanan dalam dinas militer. Dalam sebuah pidato pada khalayak umum semasa Perang Dunia II, ia dengan fasih melukiskan kesukaran yang harus dihadapi seorang prajurit: “Segala hal yang kita takutkan dari segala jenis penderitaan . . . ditemukan dalam kehidupan seorang prajurit yang sedang bertugas. Seperti penyakit yang menyebabkan penderitaan dan kematian. Seperti kemiskinan yang membuat seseorang tak mempunyai tempat berlindung, kedinginan, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Seperti perbudakan yang menyebabkan seseorang harus kerja paksa, menerima penghinaan, perlakuan tidak adil, dan peraturan yang sewenang-wenang. Seperti pengasingan yang memisahkan kita dari segala sesuatu yang kita kasihi.”
Memuji Allah yang Hidup
Pada tahun 2005, saat Rosa Parks, pahlawan hak sipil Amerika, meninggal dunia, Oprah Winfrey merasa terhormat atas kesempatan untuk memberikan eulogi pada mendiang. Tentang wanita yang menolak memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang pria kulit putih di tahun 1955 tersebut, Oprah berkata, “Saya sering memikirkan tentang risikonya—mengingat suasana masa itu dan apa yang bisa menimpa Rosa—risiko dari mempertahankan tempat duduk itu. Rosa bertindak tanpa mempedulikan dirinya sendiri dan menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi kita semua.”
Semaunya Sendiri
Ada dua anak laki-laki sedang memainkan suatu permainan yang rumit dengan menggunakan sejumlah tongkat dan tali. Setelah beberapa menit anak yang lebih tua berkata dengan marah kepada temannya, “Kamu tak bermain dengan benar. Ini permainanku, dan kita mainkan sesuai aturanku. Kamu tak boleh main lagi!” Sejak usia muda pun, sudah ada keinginan untuk melakukan segala sesuatu semaunya sendiri!
Air Mata Seorang Remaja
Ketika saya sedang duduk dengan empat anak remaja dan seorang pria tunawisma berumur 20-an di sebuah dapur umum di Alaska, saya dibuat terharu oleh belas kasihan yang ditunjukkan para remaja tersebut terhadap pria tunawisma itu. Mereka sungguh-sungguh mendengarkan ketika pria itu bercerita tentang apa yang ia percaya, dan kemudian dengan lemah lembut mereka membagikan Injil kepada pria tersebut—menawarkan pengharapan di dalam Yesus dengan penuh kasih. Sayangnya, pria tersebut menolak untuk mempertimbangkan dengan serius kabar Injil tersebut.
Nama yang Diberikan
Kebanyakan keluarga mempunyai kisah mereka masing-masing. Salah satu kisah dalam keluarga kami adalah cerita tentang bagaimana saya memperoleh nama saya. Rupanya, saat orangtua saya baru menikah, mereka berbeda pendapat tentang nama yang akan diberikan kepada anak laki-laki sulung mereka. Ibu saya menginginkan nama anak laki-lakinya sama dengan nama Ayah, tetapi Ayah tidak mau menamai anaknya “Junior”. Setelah berdiskusi cukup lama, mereka akhirnya sepakat untuk menamai anak laki-laki mereka sama dengan nama Ayah, hanya apabila anak itu lahir persis di hari ulang tahun Ayah. Yang menakjubkan, saya lahir tepat di hari ulang tahun Ayah. Maka saya pun diberi nama yang persis sama dengan nama Ayah dengan tambahan kata “Junior”.
Hati yang Diubahkan
Di awal dekade 1970-an di Ghana, terpampang sebuah poster berjudul “The Heart of Man” (Hati Manusia) di banyak dinding dan papan pengumuman layanan masyarakat. Di salah satu gambarnya, ada berbagai jenis reptil—simbol dari segalanya yang buruk dan tercela—memenuhi lukisan berbentuk hati dengan gambar kepala seorang pria yang sangat tidak bahagia di atasnya. Sementara itu, di gambar yang lain, terlukis hati yang bersih dan teduh dan di atasnya ada lukisan kepala seorang pria yang bahagia. Di bawah kedua gambar hati itu ada tulisan: “Bagaimana keadaan hatimu?”
Manusia Biasa Seperti Kita
Pada akhir abad ke-19, William Carey merasakan sebuah panggilan untuk pergi ke India sebagai seorang misionaris yang memberitakan kabar baik tentang Yesus. Para hamba Tuhan di sekeliling Carey mencemoohnya: “Anak muda, jika Allah ingin menyelamatkan [jiwa orang] di India, Dia akan melakukannya tanpa perlu bantuan darimu atau dariku!” Mereka tidak memahami arti penting dari kerja sama. Sangat sedikit yang dilakukan Allah di atas bumi ini tanpa melibatkan manusia biasa seperti kita.
Bukan Ucapan Selamat Jalan
Francis Allen pernah membimbing saya untuk mengenal Yesus, dan hampir tiba saatnya bagi Francis untuk berpulang dan bertemu Yesus muka dengan muka. Saya berada di rumahnya ketika waktunya makin dekat untuk mengucapkan selamat jalan. Saya ingin mengucapkan sesuatu yang berkesan dan berarti.
Melihat Melampaui Kehilangan
Penulis William Zinsser bercerita tentang kunjungan terakhirnya untuk melihat rumah tempat ia dibesarkan, suatu tempat yang sangat dicintainya di masa kecil. Ketika ia dan istri tiba di bukit di atas Teluk Manhasset dan Selat Long Island, mereka mendapati ternyata rumah itu sudah dirobohkan. Yang tersisa hanyalah sebuah lubang besar. Dengan sangat kecewa, mereka berjalan menuju ke tanggul laut terdekat. Zinsser memandangi teluk sambil menikmati pemandangan yang ada. Di kemudian hari, ia menuliskan tentang pengalamannya tersebut, “Aku merasa tenang dan tidak terlalu sedih. Pemandangannya lengkap: paduan unik dari daratan dan lautan yang begitu berkesan sampai-sampai aku masih memimpikannya.”