Category  |  Santapan Rohani

Musim Kasih

Bunga tidak harus mekar untuk terlihat indah, kata desainer tata ruang luar ternama Piet Oudolf. Bahkan di tengah musim dingin, desain karya ahli taman asal Belanda yang meraih penghargaan itu tetap memukau dengan keindahannya. “Keindahan dapat ditemukan dalam banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kita,” ujar Oudolf, meski ada yang mungkin tidak sependapat. “Saat saya mengatakan bahwa saya menyukai tanaman yang terlihat mati [dorman],” katanya, “saya dianggap aneh, karena pada umumnya orang tidak menyukai tanaman mati.”

Siap Sedia untuk Berbagi

Gadis remaja itu berdiri teguh pada pendiriannya. Saat bersama teman-teman sekolahnya mengunjungi rumah rehabilitasi bagi orang-orang yang kecanduan, Claire berbincang dengan pria yang berusia 20-an yang berperawakan jauh lebih besar darinya. Mereka sedang berbicara tentang iman.

Masa Depan Kita bersama Kristus

Ayah saya sudah sejak lama ingin mengunjungi Swiss. Sejak beliau didiagnosis mengalami demensia frontotemporal (gangguan otak akibat penyusutan sel saraf), ibu saya memutuskan untuk menemaninya selagi ia masih kuat secara fisik. Ibu saya lalu bercerita, “Suatu hari, saat salju berhembus di sekitar kami di Gunung Titlis, ibu melihat sukacita besar di wajah ayahmu. Itulah kebahagiaan karena mimpinya menjadi kenyataan.” Namun, beberapa waktu kemudian, air mata ibu saya mengalir sewaktu ayah saya bertanya, “Beri tahu aku, kita sedang ada di mana?”

Kemuliaan dan Keagungan Allah

Langit-langit dari Gedung Perjamuan London sungguh menakjubkan. Lukisan pada langit-langit itu adalah karya Sir Peter Paul Rubens, yang dibuat dari tahun 1629 sampai 1634 atas perintah Raja Charles I untuk mengagungkan masa pemerintahan dinastinya. Dalam salah satu lukisan, dewi Minerva digambarkan merayakan pencapaian ayah Charles, Raja James I. Lukisan lain menampilkan Raja James yang sedang dibawa ke surga di atas sayap elang. Para tamu perjamuan yang menatap langit-langit itu akan menangkap pesan yang jelas: Raja-raja seperti Charles dan ayahnya begitu didewakan.

Saling Menunjukkan Kemurahan Hati

Ketika Melanie mulai sering sakit kepala, dokter yang memeriksanya menemukan tumor jinak pada kelenjar pituitarinya. Tumor seukuran buah prem itu diangkat lewat operasi pada tahun 2003, dan sekali lagi pada tahun 2006 setelah sempat kambuh. Kemudian, pada tahun 2017, ketika tumor itu muncul untuk ketiga kalinya, Melanie memilih menjalani terapi radiasi yang menyebabkan kerontokan rambutnya. Matt, putranya yang berusia 27 tahun, memutuskan untuk memanjangkan rambutnya sendiri agar dapat membuat wig untuk sang ibu.

Mengingat Identitas Kita

Suatu hari, seorang karyawan restoran menemukan seorang pria yang pingsan di samping tempat sampah. Kulitnya terbakar matahari, digigiti semut, dan menunjukkan tanda-tanda cedera akibat benturan keras. Ia sendiri tidak ingat siapa dirinya. Pria yang kemudian menamai dirinya “Benjamin Kyle” itu hidup dalam ketidakpastian selama lebih dari sepuluh tahun. Ia tidak bisa bekerja, menerima tunjangan, atau bahkan memperoleh kembali masa lalunya. Proses pemulihannya dimulai ketika sebuah sekelompok orang yang tidak mengenalnya membantu menemukan kembali identitasnya melalui tes genetik dan investigasi. “Akhirnya, aku tahu riwayat hidupku,” katanya. “Aku bukan orang asing yang muncul entah dari mana.”

Kue Pastri dan Pemeliharaan Allah

Suatu malam, saya sedang menidurkan cucu laki-laki saya dengan membaca Alkitab. Saat kami membuka Mazmur 23, ia memprotes, “Kita sudah pernah baca ini, Nek.” Namun, setelah saya membujuknya dengan menyatakan bahwa mungkin ada hal baru yang dapat dipelajari, ia membaca dengan keras-keras, “The Lord is my shepherd, I lack nothing. He makes me lie down in green pastries.” Green pastries?! Saya menjelaskan bahwa yang benar adalah pastures (padang rumput), bukan pastries (kue pastri). Memang sebelumnya di hari itu, ia sempat dibawa ke toko roti untuk memilih-milih camilan kesukaannya. Karena itu, baginya toko roti adalah tempat untuk beristirahat dan menikmati sesuatu yang menyenangkan.

Datang kepada Allah dalam Doa

Suatu hari Adrián Simancas sedang bermain perahu kayak bersama ayahnya di Selat Magellan, Chili. Tiba-tiba saja, pria berusia 24 tahun itu dilahap oleh seekor paus bungkuk. “Aku pikir aku sudah mati,” kata Adrián kepada media. Setelah beberapa detik, paus itu memuntahkannya kembali ke perairan yang sangat dingin. Rompi pelampung yang dikenakan Adrián membuatnya mengapung di permukaan air, dan sang ayah segera membawanya ke tempat yang aman.