Wabah Kebohongan
“Betapa kejamnya ketidakjujuran,” tulis teolog dan biarawan Jerman, Meister Eckhart, dalam sebuah puisi yang membandingkan relasi yang dibangun atas dasar kepercayaan dengan relasi yang dirusakkan oleh kebohongan. Ia menggambarkan perkataan penuh kasih dan kebenaran bagaikan “rempah-rempah istimewa yang wangi dalam kehidupan setiap hari.” Namun, kebohongan itu seperti gempa bumi dalam pikiran dan racun bagi jiwa: “Malapetaka tercipta dalam pikiran yang tidak dapat lagi mempercayai seseorang yang pernah dicintai . . . suatu wabah disebarkan oleh orang yang tidak dapat berkata jujur.”
Luka yang Menyembuhkan
Menurut penelitian, Generasi Z sangat cepat mengenali pujian yang tidak tulus. Meski niatnya mungkin baik, generasi tersebut menghargai sesuatu yang lebih dalam, yaitu rasa hormat dan kejujuran yang tulus. Yang mereka inginkan bukanlah sanjungan, tetapi kepercayaan. Ketika kita menyampaikan kebenaran kepada Generasi Z, mereka merasa dihormati, diperlakukan dengan serius, dan tertantang untuk bertumbuh. Namun, hal ini sebenarnya juga diperlukan oleh kebanyakan orang.
Mewujudkan Kasih Allah
Ayah Branden sedang menanti ajal akibat penyakit kanker di usia 50-an. Branden mengajak kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya agar ia dapat membantu merawat mereka. Ayahnya menyukai daerah tropis, tetapi sudah tidak mampu bepergian jauh. Branden pun melakukan penyesuaian dengan kreativitasnya. Ia membuat kolam kecil di belakang rumahnya, mengisinya dengan ikan, dan memasang air terjun yang mengalir di antara bebatuan. Ia mendatangkan pasir pantai, menambahkan pohon pisang, lampu penerangan, obor hias, serta membangun kanopi peneduh. Sang ayah dapat menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya menikmati “pulau surga” di halaman belakang rumah.
Satu-satunya yang Layak Disembah
Suatu siang di bulan April, jutaan orang berkumpul di sepanjang jalur yang telah dipetakan di Meksiko dan Amerika Serikat untuk menyaksikan gerhana matahari total yang langka. Sekolah meliburkan para murid, kota-kota kecil mendadak dipenuhi turis, dan penduduk menyiapkan kursi-kursi santai di halaman rumah sambil mengenakan kacamata pelindung untuk menikmati pemandangan menakjubkan itu. Saat kru televisi menyiarkan hitungan mundur menuju “kegelapan total,” orang banyak itu terdiam, kecuali mengeluarkan satu ungkapan yang terus terdengar: “Oh my God!”
Menjadi Saksi Yesus
Saya pernah mendengar orang berkata, “Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk percaya. Yang dapat kita lakukan hanyalah memberi mereka alasan untuk mempercayai apa yang kita sendiri imani.” Sungguh pengamatan yang bijaksana, tetapi bagaimana kita melakukannya?
Ucapan Perpisahan yang Berharga
Teman saya José berada di bawah perawatan khusus menjelang akhir hayatnya. Ia masih sadar dan banyak bicara ketika saya menjenguknya minggu lalu, tetapi sekarang kondisinya sudah sangat lemah dan tidak lagi berbicara. Saya tetap berada di sana untuk mendampingi José dan keluarganya, dengan harapan kehadiran saya memberikan penghiburan bagi mereka. Di ujung kunjungan terakhir saya, sayalah orang terakhir yang mendampinginya. Saya berdiri dan berjalan pelan menuju pintu, sebelum berhenti sejenak dan berpamitan untuk terakhir kalinya. Saya berkata, “Aku mengasihimu,” tanpa mengharapkan respons apa pun. Namun kemudian, saya melihat José menggerakkan bibirnya. Ia membisikkan “Aku mengasihimu” sebagai balasan.
Pelajaran dari Mobil Sewaan
Baru-baru ini, saya mengunjungi Los Angeles dan harus menyewa sebuah mobil. Di sana, saya harus mengemudi melewati jalan-jalan sempit di pusat kota yang padat dengan lalu lintas dan orang. Saya mengemudi dengan sangat hati-hati, lebih lambat dari biasanya. Mengapa? Karena saya tidak ingin mengalami kecelakaan. Namun, sebenarnya saya tidak ingin merusak mobil sewaan saya. Mobil tersebut bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya.
Pengharapan di dalam Allah
Tidak tahan melihat ayahnya yang suka mabuk dan sering menyakiti ibunya, Pablo memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia remaja. Ia pindah ke rumah pamannya, lulus dari SMA, menikah, dan memiliki tiga orang anak. Namun sayangnya, Pablo mengulang perilaku merusak yang dulu ia jauhi. Kecanduannya terhadap alkohol dan perilakunya yang buruk mulai menghancurkan keluarganya. Tak lama kemudian, ia pun kehilangan segalanya: pernikahan, keluarga, pekerjaan, dan rumahnya. “Hidup saya sungguh kacau, dan makin lama makin buruk,” katanya.
Kesetiaan yang Mahal Harganya
Film A Hidden Life menceritakan kisah nyata tentang seorang petani Austria bernama Franz Jägerstätter pada masa Perang Dunia II. Karena merasa muak terhadap kekejaman Nazi dan memegang teguh keyakinan bahwa hanya Yesus yang patut ditinggikannya, ia menolak untuk bersumpah setia kepada Hitler. Sikap tegas itu membuatnya ditangkap, dan di sepanjang film kita menyaksikan pergumulan batin yang dihadapi Franz akibat keputusan berani itu.