Iman Seorang Anak
Nenek angkat kami sempat terbaring di rumah sakit setelah beberapa kali terserang stroke. Para dokter tidak tahu pasti seberapa luas kerusakan otak yang dialaminya. Mereka harus menunggu sampai kondisi nenek kami sedikit membaik untuk menguji fungsi otaknya. Wanita berusia delapan puluh enam tahun itu hanya bisa mengucapkan beberapa kata, itu pun sedikit sekali yang dapat dimengerti. Namun, ketika nenek yang pernah mengasuh putri saya selama dua belas tahun itu melihat saya, beliau langsung membuka mulut dan bertanya: “Bagaimana Kayla?” Kata-kata pertama yang dilontarkannya kepada saya adalah tentang putri saya yang sangat ia sayangi.
Tetap Berada di Jalur Allah
Bertahun-tahun lalu di wilayah barat laut Spanyol, sebuah kereta yang membawa 218 penumpang terguling dan menewaskan 79 orang serta mencederai 66 lainnya. Masinis tidak dapat memberikan alasan kecelakaan itu, tetapi ada rekaman video yang dapat menjelaskannya. Ternyata, kereta tersebut melaju terlalu cepat saat melewati tikungan tajam. Aturan tentang batas kecepatan yang diizinkan telah ditetapkan demi melindungi semua orang di dalam kereta. Meski telah bekerja selama 30 tahun sebagai masinis, entah mengapa, ia mengabaikan aturan tersebut dan mengakibatkan banyak nyawa melayang.
Pekerja di Dek Bawah
Seorang teman saya bekerja di rumah sakit apung bernama Africa Mercy yang menyediakan layanan kesehatan cuma-cuma di berbagai negara berkembang. Setiap harinya para staf melayani ratusan pasien yang tidak akan terobati tanpa layanan mereka.
Tempat Sunyi
Green Bank, Virginia Barat, adalah sebuah kota kecil di Pegunungan Appalachia. Kota itu sama dengan kota-kota kecil lainnya di wilayah tersebut—dengan satu pengecualian. Tak satu pun dari 142 penduduknya memiliki akses ke Wi-Fi. Hal itu untuk mencegah terjadinya gangguan dari jaringan Wi-Fi atau menara telepon seluler di dekat Observatorium Green Bank, dengan teleskop yang terus-menerus diarahkan ke langit. Alhasil, Green Bank menjadi salah satu wilayah paling sunyi dalam hal teknologi di Amerika Utara.
Pergumulan Panjang
Ketika di negara Tun terjadi kudeta, pemerintah militer yang berkuasa mulai meneror umat Kristen dan membantai ternak mereka. Keluarga Tun kehilangan mata pencaharian dan tercerai-berai ke berbagai negara. Sembilan tahun lamanya Tun hidup di kamp pengungsian, jauh dari sanak keluarga. Tun tahu Allah senantiasa menyertainya, tetapi ia mulai merasa putus asa, karena selama hidup terpisah itu, dua anggota keluarganya meninggal dunia.
Butuh Anugerah Ekstra
Sewaktu kami mendekor untuk sebuah acara gereja, wanita yang menjabat sebagai ketua tim dekorasi mengeluhkan pengalaman saya yang masih kurang. Setelah ia pergi, seorang wanita lain menghampiri saya. “Tidak usah dimasukkan ke hati. Ia kami juluki sebagai B.A.E.—Butuh Anugerah Ekstra.”
Iman Orang Terbuang
Pada Juni 1965, enam remaja asal Tonga pergi berlayar dari pulau tempat tinggal mereka untuk bertualang. Namun, pada malam pertama, badai kencang menghancurkan tiang dan kemudi kapal mereka. Berhari-hari lamanya mereka terombang-ambing tanpa makanan dan air minum. Akhirnya mereka terdampar di Pulau ‘Ata yang tak berpenghuni dan baru ditemukan lima belas bulan kemudian.
Setiap Duka
“Kutimbang setiap Duka yang kujumpai,” tulis penyair abad ke-19 Emily Dickinson, “Dengan mata menyipit penuh selidik – / Apakah bobotnya serupa dengan Lukaku, ingin aku tahu – / Ataukah bebannya sedikit lebih Mudah.” Puisi tersebut merupakan perenungan yang mendalam tentang kecenderungan manusia untuk terus mengingat-ingat bagaimana mereka telah dilukai di sepanjang hidup mereka. Dickinson mengakhiri puisinya, hampir seperti bimbang, dengan satu-satunya pelipur lara yang ia dapatkan: “Penghiburan dari luka tusukan paku” saat memandang Kalvari, dan menemukan lukanya sendiri tecermin dalam luka Sang Juruselamat: “Masih tertegun saat menyadari / Ada Luka – yang tak berbeda dari lukaku sendiri –.”
Pengharapan dalam Duka
Louise adalah seorang anak perempuan yang aktif, ceria, dan menyenangkan semua orang yang dijumpainya. Sayangnya, pada usia lima tahun, hidupnya direnggut oleh sebuah penyakit langka. Kematiannya yang mendadak mengguncang kedua orangtuanya, Day Day dan Peter, dan kami semua yang bekerja bersama mereka. Kami ikut merasakan dukacita yang mendalam.