Category  |  Santapan Rohani

Kuasa Pengampunan

Sebuah berita dari tahun 2021 melaporkan tentang tujuh belas misionaris yang diculik sebuah geng. Geng tersebut mengancam akan membunuh mereka (beserta anak-anak) apabila tebusan yang mereka tuntut tidak dipenuhi. Namun, luar biasa, semua misionaris itu akhirnya dilepaskan atau berhasil melarikan diri. Setelah selamat, mereka mengirimkan pesan kepada para penculik: “Tuhan Yesus mengajar kami melalui perkataan dan teladan hidup-Nya bahwa kuasa pengampunan yang dilandasi kasih lebih kuat daripada kebencian terhadap kekerasan. Oleh karena itu, kami mengampuni kalian.”

Menemukan Ciptaan Allah

Krubera-Voronja, yang terletak di negara Georgia, di kawasan perbatasan Eropa dan Asia, merupakan salah satu gua paling dalam yang pernah dijelajahi manusia. Sebuah regu penjelajah sudah pernah memasuki bagian tergelap dan menakutkan dari gua yang sebagian besar memanjang secara vertikal itu, hingga mencapai kedalaman 2.197 meter! Masih ada gua-gua serupa, sekitar 400 buah banyaknya, yang terdapat di bagian lain dari negara tersebut dan di belahan bumi lainnya. Semakin banyak gua yang ditemukan dan rekor kedalaman gua pun terus diperbarui.

Terus Maju dalam Yesus

Saat mengikuti suatu lomba lari di hutan, saya mencoba mencari jalan pintas dan melewati rute yang asing. Karena tidak yakin apakah saya masih berada di jalan yang benar, saya menanyai seorang pelari yang datang dari arah berlawanan.

Menyewa Teman?

Bagi banyak orang di dunia, hidup terasa semakin sepi. Jumlah warga Amerika Serikat yang tidak memiliki teman meningkat empat kali lipat sejak tahun 1990. Di beberapa negara Eropa, persentase penduduk yang kesepian naik 20%, sedangkan di Jepang sejumlah lansia sampai melakukan kejahatan agar dapat memiliki teman—sesama narapidana di sel penjara.

Kesetiaan di Masa Depan

Sara kehilangan ibunya ketika ia baru berusia empat belas tahun. Tak lama kemudian, ia dan saudara-saudaranya kehilangan rumah mereka dan menjadi tunawisma. Bertahun-tahun kemudian, Sara bertekad untuk menyediakan bagi anak-anaknya di masa depan suatu warisan yang dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Ia pun bekerja keras untuk membeli sebuah rumah, supaya keluarganya dapat memiliki kehidupan yang stabil, sesuatu yang tidak pernah ia miliki.

Ingat untuk Memuji

Ketika gedung gereja kami yang pertama masih dibangun, jemaat menuliskan ucapan syukur sebagai pengingat pada kerangka dinding dan lantai beton sebelum bagian dalam gedung selesai dikerjakan. Jika Anda melepaskan lapisan penutup dinding dari kerangkanya, Anda akan menemukan tulisan-tulisan itu di sana. Ayat-ayat Kitab Suci ditulis di samping ungkapan-ungkapan pujian seperti “Tuhan, Engkau sangat baik!” Kami membiarkan tulisan- tulisan itu tetap di sana sebagai kesaksian bagi generasi mendatang, bahwa terlepas dari berbagai tantangan yang kami hadapi, Allah telah begitu baik dan memelihara kami.

Kasih yang Lebih Besar

Hanya beberapa hari sebelum Pekan Suci, ketika umat Kristen di seluruh dunia mengenang pengorbanan Yesus dan merayakan kebangkitan-Nya, seorang teroris menyerbu sebuah supermarket di barat daya Prancis. Ia melepaskan tembakan dan membunuh dua orang. Setelah negosiasi, si teroris melepaskan semua sandera kecuali satu orang, dan menjadikannya sebagai tameng. Menyadari bahaya yang mengancam, petugas polisi Arnaud Beltrame melakukan hal yang tidak terbayangkan: mengajukan diri untuk menggantikan posisi wanita yang tersandera tadi. Si teroris pun melepaskan sang wanita, tetapi dalam pergumulan yang terjadi kemudian, Beltrame terluka dan tewas.

Memulihkan Hubungan

Ketika masih muda, saya dan saudara perempuan saya sering bertengkar. Namun, ada satu momen yang terpatri dalam ingatan saya. Setelah kami saling melontarkan perkataan yang menyakitkan, ia mengucapkan sesuatu yang tidak termaafkan saat itu. Melihat kebencian di antara kami makin meningkat, nenek kami mengingatkan tanggung jawab kami untuk saling mengasihi. “Allah memberimu seorang saudara perempuan dalam hidup ini. Kalian harus lebih menghargai satu sama lain,” kata beliau. Ketika kami akhirnya meminta Allah untuk memenuhi hati kami dengan kasih dan pengertian, Dia menolong kami mengakui bagaimana kami telah saling menyakiti, dan sekarang harus saling mengampuni.

Terus Menanjak

Christina Rossetti, seorang penyair dan penulis renungan, telah menjalani kehidupan yang sulit. Sepanjang hidupnya, ia pernah mengidap depresi dan berbagai penyakit, bahkan beberapa kali pertunangannya kandas. Akhirnya, ia meninggal dunia karena kanker.