Ingat untuk Memuji
Ketika gedung gereja kami yang pertama masih dibangun, jemaat menuliskan ucapan syukur sebagai pengingat pada kerangka dinding dan lantai beton sebelum bagian dalam gedung selesai dikerjakan. Jika Anda melepaskan lapisan penutup dinding dari kerangkanya, Anda akan menemukan tulisan-tulisan itu di sana. Ayat-ayat Kitab Suci ditulis di samping ungkapan-ungkapan pujian seperti “Tuhan, Engkau sangat baik!” Kami membiarkan tulisan- tulisan itu tetap di sana sebagai kesaksian bagi generasi mendatang, bahwa terlepas dari berbagai tantangan yang kami hadapi, Allah telah begitu baik dan memelihara kami.
Kasih yang Lebih Besar
Hanya beberapa hari sebelum Pekan Suci, ketika umat Kristen di seluruh dunia mengenang pengorbanan Yesus dan merayakan kebangkitan-Nya, seorang teroris menyerbu sebuah supermarket di barat daya Prancis. Ia melepaskan tembakan dan membunuh dua orang. Setelah negosiasi, si teroris melepaskan semua sandera kecuali satu orang, dan menjadikannya sebagai tameng. Menyadari bahaya yang mengancam, petugas polisi Arnaud Beltrame melakukan hal yang tidak terbayangkan: mengajukan diri untuk menggantikan posisi wanita yang tersandera tadi. Si teroris pun melepaskan sang wanita, tetapi dalam pergumulan yang terjadi kemudian, Beltrame terluka dan tewas.
Memulihkan Hubungan
Ketika masih muda, saya dan saudara perempuan saya sering bertengkar. Namun, ada satu momen yang terpatri dalam ingatan saya. Setelah kami saling melontarkan perkataan yang menyakitkan, ia mengucapkan sesuatu yang tidak termaafkan saat itu. Melihat kebencian di antara kami makin meningkat, nenek kami mengingatkan tanggung jawab kami untuk saling mengasihi. “Allah memberimu seorang saudara perempuan dalam hidup ini. Kalian harus lebih menghargai satu sama lain,” kata beliau. Ketika kami akhirnya meminta Allah untuk memenuhi hati kami dengan kasih dan pengertian, Dia menolong kami mengakui bagaimana kami telah saling menyakiti, dan sekarang harus saling mengampuni.
Terus Menanjak
Christina Rossetti, seorang penyair dan penulis renungan, telah menjalani kehidupan yang sulit. Sepanjang hidupnya, ia pernah mengidap depresi dan berbagai penyakit, bahkan beberapa kali pertunangannya kandas. Akhirnya, ia meninggal dunia karena kanker.
Air Mata Syukur
Bertahun-tahun lalu, saya pernah merawat ibu saya yang dirawat secara paliatif. Saya bersyukur atas empat bulan yang Allah berikan kepada saya untuk dapat merawat beliau. Saya juga meminta-Nya untuk menolong saya melewati masa duka. Sering kali saya bergumul untuk dapat memuji Allah di tengah gejolak emosi yang saya rasakan. Namun, saat ibu saya mengembuskan napas terakhir dan saya menangis tak terkendali, saya bisa membisikkan “Haleluya.” Saya sempat merasa bersalah karena bersyukur kepada Allah dalam momen duka itu, tetapi bertahun-tahun kemudian, pemahaman saya berubah setelah saya merenungkan Mazmur 30 dengan lebih dalam.
Allah Berbicara kepada Kita
Suatu hari, saya menjawab panggilan telepon dari nomor tidak dikenal. Sering kali, saya membiarkan panggilan seperti itu masuk ke kotak suara, tetapi kali itu saya mengangkatnya. Penelepon itu bertanya dengan sopan apakah saya punya waktu sebentar untuk mendengarkannya membagikan firman Tuhan secara singkat. Ia mengutip Wahyu 21:3-5 tentang Allah yang “akan menghapus segala air mata dari mata mereka.” Ia berbicara mengenai Yesus sebagai jaminan dan pengharapan kita. Saya memberi tahunya bahwa saya sudah mengenal Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya. Namun, sang penelepon tidak hendak “bersaksi” kepada saya. Ia hanya bertanya apakah ia dapat mendoakan saya. Itulah yang kemudian dilakukannya, berdoa untuk meminta Allah memberi saya dorongan dan kekuatan.
Raihlah Peluang yang Ada
Sambil menunggu masa perkuliahan dimulai, Shin Yi yang berusia dua puluh tahun memutuskan untuk mengisi tiga bulan waktu liburannya dengan melayani bersama suatu lembaga misi kaum muda. Keputusan itu sepertinya diambil pada waktu yang tidak tepat, mengingat pembatasan sosial semasa COVID-19 yang mencegah diadakannya pertemuan tatap muka. Namun, Shin Yi segera menemukan jalan. “Kami tidak dapat bertemu anak-anak muda itu di jalanan, di pusat perbelanjaan, atau pujasera seperti biasa,” ia bercerita. “Namun, kami terus menjaga hubungan dengan anak-anak muda Kristen lewat Zoom untuk saling mendoakan, dan melayani mereka yang belum percaya melalui telepon.”
Kekuatan dalam Kelemahan
Ketika putra saya hampir berusia tiga tahun, saya harus menjalani operasi dengan masa pemulihan kurang lebih satu bulan. Sebelum menjalani tindakan, saya membayangkan diri saya terbaring di tempat tidur sementara tumpukan piring kotor memenuhi bak cuci. Saya tidak yakin bisa merawat seorang balita yang sedang aktif-aktifnya atau berdiri di depan kompor untuk memasak bagi keluarga. Saya khawatir kelemahan tubuh saya akan mempengaruhi ritme kehidupan kami semua.
Penyembuhan yang Lebih Dalam
Pada Minggu Paskah 2020, patung terkenal Kristus Penebus yang menghadap ke kota Rio de Janeiro di Brasil diterangi oleh cahaya lampu yang membuatnya terlihat seolah-olah Yesus sedang memakai pakaian dokter. Penggambaran Kristus yang mengharukan sebagai dokter tersebut dimaksudkan untuk menghormati jasa para tenaga kesehatan yang berada di garis depan melawan pandemi virus corona. Penggambaran tersebut juga mewujudkan gambaran Alkitab tentang Yesus sebagai Tabib Agung (Mrk. 2:17).