Category  |  Santapan Rohani

Visi yang Baru

Suatu hari, saya melangkah memasuki gereja dengan mengenakan kacamata baru. Begitu duduk, saya melihat seorang kawan duduk tepat di seberang lorong. Saya melambai kepada dirinya yang tampak sangat dekat dan jelas. Rasanya saya dapat menyentuhnya meskipun ia duduk beberapa meter jauhnya dari saya. Ketika kami mengobrol sehabis kebaktian, saya baru sadar bahwa ia selalu duduk di bangku yang sama. Kini saya dapat melihatnya dengan lebih jelas berkat penglihatan saya yang sudah diperbarui.

Misi Penyelamatan

Para relawan yang bekerja bagi lembaga penyelamatan hewan ternak di Australia menemukan seekor domba kesasar dengan bulu gimbal yang kotor seberat hampir tiga puluh lima kilogram. Mereka menduga domba tersebut telah terlupakan dan terhilang di padang belantara selama setidaknya lima tahun. Sambil menenangkan domba tersebut, para relawan mencukur bulunya yang tebal. Begitu terbebas dari bulu-bulu yang membebaninya, domba itu pun makan. Kaki-kakinya bertambah kuat. Domba yang diberi nama Baarack itu menjadi lebih nyaman dan gembira setelah melewati hari-harinya bersama para penyelamatnya dan hewan-hewan lain di tempat perlindungan tersebut.

Permulaan yang Kecil

Setelah selesai dibangun pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn dinobatkan sebagai “keajaiban dunia kedelapan”. Namun, struktur jembatan itu bisa dibangun berkat sehelai kabel baja tipis yang dipasang dari satu menara ke menara lainnya. Kabel lain kemudian ditambahkan kepada kabel pertama tadi, demikian seterusnya hingga membentuk satu kabel yang sangat besar, lalu dijalin hingga terikat dengan tiga kabel besar lainnya. Ketika selesai, setiap kabel yang terdiri dari lima ribu kabel lebih yang telah digalvanisasi turut menyokong berdirinya jembatan gantung terpanjang pada masanya itu. Sesuatu yang awalnya kecil berubah menjadi bagian besar dari Jembatan Brooklyn.

Pilihlah Sukacita

Keith merasa sedih sambil berjalan gontai menyusuri lorong tempat buah dan sayur-sayuran. Tangannya gemetar, menunjukkan tanda-tanda awal penyakit Parkinson. Berapa lama lagi sebelum kondisinya memburuk? Bagaimana ini akan mempengaruhi kehidupan istri dan anak-anaknya? Suara tawa menghentikan lamunan Keith. Di dekat rak kentang, tampak seorang pria mendorong anak laki-lakinya yang cekikikan di kursi roda. Pria itu membungkuk dan berbisik kepada anaknya yang terus tertawa. Kondisi anak itu lebih buruk daripada Keith, tetapi ia dan ayahnya berusaha untuk tetap bersukacita.

Mengakhiri dengan Baik

Di usianya yang ke-103, seorang wanita bernama Man Kaur bertanding sebagai atlet wanita tertua dari India dalam World Masters Athletic Championship 2019 di Polandia. Hebatnya, Kaur meraih medali emas dalam empat cabang (lempar lembing, tolak peluru, lari jarak pendek 60 meter, dan lari 200 meter). Namun, yang paling menakjubkan adalah kini ia berlari lebih cepat dibandingkan rekornya pada kejuaraan tahun 2017. Sebagai nenek buyut yang masih aktif pada usia lebih dari satu abad, Kaur menunjukkan teladan bagaimana seseorang harus mengakhiri pertandingan dengan baik.

Kasih Karunia di Tengah Kekacauan 

Saya sudah hampir terlelap ketika tiba-tiba tersentak bangun. Dari ruang bawah tanah, anak lelaki saya memetik gitar listriknya dengan suara nyaring. Dinding-dinding rumah bergetar. Tidak ada kedamaian. Tidak ada ketenangan. Tidur pun terganggu. Beberapa waktu kemudian, terdengar musik lain yang mengalun lembut: anak perempuan saya memainkan lagu “Ajaib Benar Anugerah” dengan piano.

Meski Tak Layak Diriku

Wanita muda itu tidak dapat tidur. Sebagai penyandang disabilitas fisik selama bertahun-tahun, ia diminta untuk tampil keesokan harinya dalam acara pasar amal di gereja untuk mengumpulkan dana bagi pendidikan tinggi. Sebenarnya aku tidak layak, pikir Charlotte Elliott. Ia merasa gelisah sepanjang malam, terus meragukan kelayakan dirinya, bahkan mempertanyakan setiap aspek kehidupan rohaninya. Dengan hati yang masih resah keesokan harinya, ia pun mengambil pena dan kertas, lalu menulis lirik lagu yang sekarang menjadi himne klasik, “Just As I Am” (Meski Tak Layak Diriku, Kidung Jemaat no. 27).

Dalam Semua Urusan Kita

Pada tahun 1524, Martin Luther memperhatikan keadaan ini: “Di antara mereka sendiri, para pedagang memiliki satu aturan yang menjadi pedoman utama mereka: . . . Aku tidak peduli kepada sesamaku; asalkan aku mendapat untung dan ketamakanku terpuaskan.” Namun, lebih dari dua ratus tahun kemudian, John Woolman dari Mount Holly, New Jersey, memutuskan untuk mengutamakan komitmen kepada Yesus dalam bisnisnya sebagai penjahit. Dalam upayanya mendukung pembebasan para budak, ia menolak membeli kapas atau bahan pewarna dari perusahaan-perusahaan yang masih mempekerjakan budak. Dengan hati nurani yang tulus, ia berusaha mengasihi sesamanya, serta bersikap jujur dan menjaga integritas dalam menjalankan roda bisnisnya.

Bergerak Seirama

Cerita telah memikat manusia sejak awal penciptaan. Cerita menjadi cara untuk mewariskan pengetahuan jauh sebelum ada bahasa tulisan. Kita semua tahu nikmatnya mendengar atau membaca sebuah cerita dan langsung tertarik dengan kalimat pembukanya, seperti: “Pada suatu hari . . .”. Kekuatan sebuah cerita tampaknya lebih dari kesenangan belaka: ketika kita mendengarkan sebuah cerita bersama-sama, jantung kita seolah berdetak dengan serentak! Meski detak jantung setiap orang berbeda-beda, dan kalaupun bisa serentak itu biasanya hanya kebetulan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa jantung kita dapat berdetak seirama ketika kita mendengarkan cerita yang sama pada waktu yang bersamaan.