Penguatan dari Makanan Cepat Saji
Maria membawa makan siang cepat sajinya ke meja yang kosong. Saat ia menggigit burgernya, pandangannya tertumbuk pada seorang pria muda yang duduk beberapa meja darinya. Pakaian pria itu kotor, rambutnya lengket, dan ia memegang sebuah gelas kertas yang kosong. Jelas, ia terlihat lapar. Bagaimana Maria dapat menolong? Memberinya uang sepertinya tidak bijaksana. Namun, jika ia membelikan makanan, apakah pria itu akan merasa malu?
Allah yang Mengejar
Beberapa tahun lalu, seorang pria dengan tangan penuh bawaan berjalan sekitar satu blok jauhnya di depan saya. Tiba-tiba ia tersandung dan semua barang bawaannya berserakan. Beberapa orang membantu pria itu berdiri dan menolong mengumpulkan barang-barangnya, tetapi dompetnya ketinggalan. Saya pun memungut dompet itu dan berlari mengejar si pria, ingin mengembalikan benda penting itu kepadanya. Setelah saya berteriak, “Pak, Pak!” akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah saya. Saat saya menyodorkan dompetnya, pria itu terlihat terkejut, sekaligus lega dan penuh syukur. Saya takkan pernah melupakan ekspresinya saat itu.
Pengharapan Besar
Pada suatu hari yang sibuk menjelang Natal, seorang wanita lanjut usia mendekati gerai di kantor pos lokal yang sedang ramai. Melihat gerakannya yang perlahan, seorang petugas kantor pos yang sabar menyapanya, “Halo, Kak! Ada yang bisa saya bantu?” Maksud petugas itu baik, tetapi sapaannya bisa diartikan orang bahwa “usia muda” itu lebih baik.
Bergantung dari Hari ke Hari
Suatu hari anak-anak kami yang masih kecil bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan sendiri. Sabtu pagi itu, saya dan istri bermaksud bangun lebih siang karena merasa capek setelah melewati satu minggu yang melelahkan. Tiba-tiba, saya mendengar suara barang pecah! Saya melompat dari tempat tidur lalu bergegas turun. Di dapur, saya melihat sebuah mangkuk telah pecah dan havermut berserakan di lantai. Jonas, anak kami yang berumur lima tahun, sedang berusaha keras menyapu semua kotoran di lantai (tetapi lebih seperti melumuri lantai). Anak-anak saya lapar, tetapi mereka memutuskan untuk tidak meminta bantuan. Mereka memilih untuk mandiri, tidak mau bergantung pada kami, dan hasilnya berantakan.
Bekerja dengan Kasih
Dr. Rebecca Lee Crumpler adalah perempuan Afrika-Amerika pertama yang berhasil memperoleh gelar dokter. Namun, selama hidupnya (1831–95) ia sering sekali “diabaikan, diremehkan, dan dianggap tidak penting”. Meski demikian, ia tetap setia mengobati sesama dan menggenapi tujuan hidupnya. Meski ada orang yang menilainya hanya berdasarkan ras dan jenis kelamin, Crumpler berkata bahwa ia selalu “bersemangat dan siap memenuhi tugas kapan dan di mana saja diperlukan”. Itulah juga yang selalu dikerjakannya. Ia meyakini, dengan merawat wanita dan anak-anak, serta mengobati para budak yang sudah dimerdekakan, ia sedang melayani Allah. Sayangnya, semua pencapaiannya baru dihargai setelah hampir satu abad kemudian.
Terang Natal
Di mata saya, pohon Natal itu terlihat seperti sedang dilalap kobaran api! Bukan oleh rangkaian lampu buatan, melainkan nyala api sungguhan. Keluarga kami diundang seorang teman untuk menghadiri tradisi altdeutsche, atau ”cara Jerman kuno”. Perayaan tersebut menyajikan aneka hidangan pencuci mulut tradisional yang lezat dan pohon yang dipasangi lilin sungguhan. (Demi keamanan, pohon yang baru ditebang tersebut hanya dinyalakan satu malam.)
Menjadi Apa Adanya
Pada tahun 2011, setelah menikah satu dekade tanpa dianugerahi keturunan, saya dan istri memilih untuk memulai hidup baru di negara lain. Meski senang bisa pindah, saya harus melepaskan karier sebagai penyiar. Saya merasa gamang dan meminta nasihat dari teman saya, Liam.
Saling Menguatkan
Setelah selama seminggu kembali mengalami sakit, saya terhenyak lemas di sofa. Saya tidak ingin memikirkan apa pun. Tidak ingin bicara dengan siapa pun. Saya bahkan tidak dapat berdoa. Perasaan putus asa dan ragu menggayuti saat saya menyalakan televisi dan sebuah iklan muncul. Di sana tampak seorang gadis kecil berkata kepada adik laki-lakinya, “Kamu seorang juara,” katanya. Ia terus mengulangi ucapan yang menguatkan itu sampai adiknya tersenyum, dan saya pun ikut tersenyum.
Tanda Peringatan
Pernahkah Anda bertemu dengan ular derik? Kalau pernah, mungkin Anda memperhatikan bahwa semakin Anda mendekatinya, bunyi ular derik akan semakin keras. Riset di majalah ilmiah Current Biology menyatakan bahwa ular derik memang meningkatkan bunyi deriknya ketika merasa ada ancaman mendekat. “Mode frekuensi tinggi” itu dapat membuat kita mengira bahwa ular tersebut berada lebih dekat daripada yang sebenarnya. Seorang peneliti menulis, “Kesalahan tafsir seseorang yang mendengar bunyi itu terhadap jarak . . . akan membuatnya menjaga jarak aman.”