Tak Pernah Terlambat
Saat mengunjungi sebuah kota kecil di Afrika Barat, pendeta saya yang berkebangsaan Amerika memastikan dirinya datang tepat waktu untuk kebaktian Minggu pukul 10.00. Meski demikian, ia mendapati ruang ibadah di gereja sederhana tersebut kosong. Jadi ia menunggu. Satu jam. Dua jam. Akhirnya, ketika pendeta setempat tiba setelah menempuh perjalanan panjang, diikuti beberapa anggota paduan suara dan sekelompok penduduk kota yang ramah, ibadah pun dimulai sekitar pukul 12.30, “setelah genap waktunya”, demikian kata pendeta saya. “Roh Kudus menyapa kami, dan Allah tidak terlambat.” Pendeta saya mengerti budaya di sana berbeda karena alasan-alasan yang wajar.
Dipuaskan
Pembunuhan Dr. Martin Luther King Jr. yang mengerikan terjadi pada puncak gerakan hak-hak sipil Amerika pada era 1960-an. Namun, hanya empat hari berselang, istri mendiang yang bernama Coretta Scott King dengan berani mengambil alih peranan sang suami dengan memimpin unjuk rasa. Coretta, seorang pejuang hak-hak asasi yang gigih, memiliki kerinduan mendalam akan tegaknya keadilan.
Ratapan Menjadi Pujian
Monica berdoa tanpa kenal lelah agar putranya berpaling kepada Allah. Ia menangisi cara hidup anaknya yang menyimpang, bahkan sampai mencari jejak anaknya yang berpindah-pindah kota. Situasinya seolah tanpa harapan. Lalu, pada suatu hari terjadilah: putranya mengalami perjumpaan dengan Allah yang mengubahkan hidupnya. Ia pun kemudian menjadi salah seorang teolog terbesar yang pernah dimiliki gereja. Kita mengenalnya sebagai Agustinus, Uskup dari Hippo.
Awal yang Baru
“Kesadaran Kristen diawali dengan kesadaran yang pahit bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran, sebenarnya merupakan kebohongan,” tulis Eugene Peterson dalam perenungannya yang luar biasa mengenai Mazmur 120. Mazmur 120 adalah mazmur pertama dari rangkaian “nyanyian ziarah” (Mzm. 120–134) yang dinyanyikan para musafir dalam perjalanan ke Yerusalem. Seperti yang ditelusuri Peterson dalam buku A Long Obedience in the Same Direction, mazmur-mazmur tersebut juga memberikan kepada kita gambaran mengenai perjalanan rohani seseorang kepada Allah.
Melawan Orang Banyak
“Adakalanya manusia berani melawan raja-raja yang paling berkuasa dan menolak tunduk di hadapan mereka,” demikian hasil pengamatan filsuf dan penulis Hannah Arendt (1906–75). Ia menambahkan, “Namun, tidak banyak yang berani melawan orang banyak, yang berjuang seorang diri menentang sekumpulan orang yang sesat pikir, untuk menghadapi kegilaan mereka yang tak kenal ampun tanpa menggunakan senjata.” Sebagai seorang Yahudi, Arendt menyaksikan sendiri kenyataan tersebut di negeri asalnya, Jerman. Ada kengerian tersendiri ketika ditolak oleh satu kelompok.
Cerita Selengkapnya
Selama lebih dari enam dekade, suara jurnalis berita Paul Harvey begitu akrab di telinga pendengar radio di Amerika. Enam hari seminggu, ia biasa menyapa mereka dengan gaya khasnya, “Anda sudah tahu beritanya, sebentar lagi Anda akan mendengar cerita selengkapnya.” Setelah iklan singkat, ia akan membacakan suatu kisah yang jarang didengar mengenai seorang tokoh terkenal. Biasanya Harvey baru akan menyebutkan nama tokoh tersebut atau beberapa elemen kunci lainnya pada akhir segmen. Para pendengar yang terhibur akan mendengar penutup yang diucapkannya dengan jeda dramatis dan deskripsi khas: “Sekarang Anda tahu . . . cerita selengkapnya.”
Terlepas dari Gua Singa
Ketika Taher dan istrinya, Donya, percaya kepada Tuhan Yesus, mereka menyadari ancaman penganiayaan yang bisa mereka terima di negara asal mereka. Benar saja, suatu hari mata Taher ditutup, tangannya diborgol, dan ia dipenjara dengan tuduhan murtad. Sebelum diseret ke pengadilan, Taher dan Donya sepakat tidak akan mengkhianati Yesus.
Allah yang Menebus
Sebagai bagian dari ilustrasi khotbah, saya menghampiri sebuah lukisan indah yang baru saja dibuat seorang pelukis di atas panggung, lalu menggoreskan garis hitam pada tengah-tengah lukisan itu. Jemaat pun terkesiap ngeri. Sang pelukis hanya berdiri menyaksikan saat saya merusak karyanya. Kemudian, setelah mengambil kuas baru, ia dengan telaten memperbaiki lukisan yang rusak itu menjadi karya seni yang kembali indah.
Yesus yang Benar
Keramaian percakapan berangsur-angsur mereda dan suasana menjadi sunyi ketika sang pemimpin grup diskusi buku menyampaikan ringkasan isi novel yang akan mereka diskusikan. Kawan saya, Joan, mendengarkan dengan saksama, tetapi tidak mengenali alur ceritanya. Akhirnya, ia sadar telah membaca buku nonfiksi yang judulnya mirip dengan karya fiksi yang dibaca teman-teman sekelompoknya. Meski menikmati membaca buku yang “salah”, ia tidak dapat mengikuti pembicaraan teman-temannya saat mereka mendiskusikan buku yang “benar”.