Category  |  Santapan Rohani

Kasih Karunia di Tengah Kekacauan 

Saya sudah hampir terlelap ketika tiba-tiba tersentak bangun. Dari ruang bawah tanah, anak lelaki saya memetik gitar listriknya dengan suara nyaring. Dinding-dinding rumah bergetar. Tidak ada kedamaian. Tidak ada ketenangan. Tidur pun terganggu. Beberapa waktu kemudian, terdengar musik lain yang mengalun lembut: anak perempuan saya memainkan lagu “Ajaib Benar Anugerah” dengan piano.

Meski Tak Layak Diriku

Wanita muda itu tidak dapat tidur. Sebagai penyandang disabilitas fisik selama bertahun-tahun, ia diminta untuk tampil keesokan harinya dalam acara pasar amal di gereja untuk mengumpulkan dana bagi pendidikan tinggi. Sebenarnya aku tidak layak, pikir Charlotte Elliott. Ia merasa gelisah sepanjang malam, terus meragukan kelayakan dirinya, bahkan mempertanyakan setiap aspek kehidupan rohaninya. Dengan hati yang masih resah keesokan harinya, ia pun mengambil pena dan kertas, lalu menulis lirik lagu yang sekarang menjadi himne klasik, “Just As I Am” (Meski Tak Layak Diriku, Kidung Jemaat no. 27).

Dalam Semua Urusan Kita

Pada tahun 1524, Martin Luther memperhatikan keadaan ini: “Di antara mereka sendiri, para pedagang memiliki satu aturan yang menjadi pedoman utama mereka: . . . Aku tidak peduli kepada sesamaku; asalkan aku mendapat untung dan ketamakanku terpuaskan.” Namun, lebih dari dua ratus tahun kemudian, John Woolman dari Mount Holly, New Jersey, memutuskan untuk mengutamakan komitmen kepada Yesus dalam bisnisnya sebagai penjahit. Dalam upayanya mendukung pembebasan para budak, ia menolak membeli kapas atau bahan pewarna dari perusahaan-perusahaan yang masih mempekerjakan budak. Dengan hati nurani yang tulus, ia berusaha mengasihi sesamanya, serta bersikap jujur dan menjaga integritas dalam menjalankan roda bisnisnya.

Bergerak Seirama

Cerita telah memikat manusia sejak awal penciptaan. Cerita menjadi cara untuk mewariskan pengetahuan jauh sebelum ada bahasa tulisan. Kita semua tahu nikmatnya mendengar atau membaca sebuah cerita dan langsung tertarik dengan kalimat pembukanya, seperti: “Pada suatu hari . . .”. Kekuatan sebuah cerita tampaknya lebih dari kesenangan belaka: ketika kita mendengarkan sebuah cerita bersama-sama, jantung kita seolah berdetak dengan serentak! Meski detak jantung setiap orang berbeda-beda, dan kalaupun bisa serentak itu biasanya hanya kebetulan, penelitian terbaru menunjukkan bahwa jantung kita dapat berdetak seirama ketika kita mendengarkan cerita yang sama pada waktu yang bersamaan.

Ketika Kita Takut

Saya harus menjalani pemeriksaan kesehatan yang sudah dijadwalkan, dan meskipun tidak ada keluhan baru-baru ini, saya tetap takut melakukannya. Saya dihantui ingatan tentang diagnosis tidak terduga yang pernah saya terima di masa lalu. Walaupun tahu Allah menyertai dan saya hanya perlu mempercayai-Nya, masih saja saya merasa takut.

Kartu Natal yang Sempurna

Video ucapan Natal milik keluarga Barker dibuat dengan sangat sempurna. Tiga gembala berjubah (diperankan anak-anak laki-laki yang masih kecil) duduk mengelilingi api unggun di lapangan berumput. Tiba-tiba seorang malaikat turun dari puncak bukit—kakak perempuan mereka, yang tampak anggun, meski memakai sepatu kets merah jambu. Di tengah alunan lagu pengiring yang semakin keras, para gembala itu menengadah ke langit dengan takjub. Sebuah jalan setapak membawa mereka kepada seorang bayi sungguhan—adik laki-laki mereka yang masih bayi—di dalam sebuah lumbung modern. Kakak perempuan mereka tadi sekarang berperan sebagai Maria.

Kekuatan Firman Tuhan

Pada malam Natal tahun 1968, antariksawan Apollo 8—Frank Borman, Jim Lovell, dan Bill Anders—menjadi manusia pertama yang memasuki orbit bulan. Sambil mengitari bulan sepuluh kali, mereka membagikan gambar-gambar bulan dan bumi. Dalam suatu siaran langsung, mereka bergantian membacakan Kejadian 1. Pada perayaan untuk memperingati empat puluh tahun peristiwa itu, Borman berkata, “Saat itu kami diberi tahu bahwa jumlah pendengar pada malam Natal itu akan menjadi yang terbanyak yang pernah ada. Dan satu-satunya instruksi dari NASA adalah agar kami melakukan sesuatu yang pantas bagi momen tersebut.” Hingga kini, ayat-ayat Alkitab yang dibacakan para antariksawan dari Apollo 8 itu masih menanamkan benih-benih kebenaran dalam hati orang-orang yang mendengar rekaman bersejarah tersebut.

Nenek Paus

Seekor paus orca, yang disebut “Nenek” oleh para ilmuwan, tampaknya paham betapa penting peranannya dalam hidup seekor “cucu paus” yang baru lahir. Paus muda ini baru saja kehilangan induknya, dan belum cukup dewasa untuk dapat bertahan hidup tanpa perlindungan dan dukungan dari pihak luar. “Nenek”, dalam usia delapan puluh tahun (atau mungkin lebih), mengajarkan si cucu semua yang perlu diketahuinya untuk dapat bertahan hidup. Sang nenek mengumpulkan beberapa ikan untuk si cucu, supaya paus muda itu tidak hanya memiliki makanan, tetapi juga mengetahui apa saja yang dapat dimakannya dan ke mana ia bisa mencari salmon yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup.

Membungkuk Dalam-Dalam

Seorang ibu muda mengikuti putrinya dari belakang, sementara sang putri mengayuh sepeda kecilnya secepat yang bisa dilakukan kaki-kaki mungilnya. Akan tetapi, ketika sepedanya melaju terlalu kencang, gadis kecil itu jatuh dari sepeda lalu mengadu lututnya sakit. Sang ibu dengan tenang berlutut, membungkuk dalam-dalam, dan mengecup lutut putrinya “untuk mengusir rasa sakitnya”. Berhasil! Si gadis kecil bangkit, naik lagi ke sepedanya, lalu kembali mengayuh. Tidakkah kita semua berharap penderitaan kita bisa pergi semudah itu?