Category  |  Santapan Rohani

Saling Membutuhkan

Dave Kindred adalah jurnalis olahraga yang telah meliput ratusan acara olahraga dan kejuaraan bergengsi. Ia bahkan menulis riwayat hidup Muhammad Ali. Setelah pensiun, ia merasa bosan dan mulai menghadiri pertandingan basket anak perempuan di sebuah sekolah di kotanya. Tak lama kemudian ia mulai meliput setiap pertandingan dan mengunggahnya secara daring. Ketika ibu dan cucu lelakinya meninggal dunia, kemudian istrinya terkena stroke, Dave menyadari bahwa tim basket yang diliputnya itu telah memberinya rasa kebersamaan dan arti hidup. Dave dan tim basket itu saling membutuhkan. Dave berkata, “Tim ini menyelamatkanku. Hidupku berubah menjadi gelap . . . [dan[ mereka hadir membawa terang.”

Air Kehidupan

Sesampainya di rumah saya, bunga-bunga potong yang dikirim dari Ekuador itu sudah terkulai dan layu. Pada petunjuknya tertulis, bunga-bunga itu akan menjadi segar kembali jika dimasukkan ke dalam vas berisi air segar. Namun, batang-batang bunganya harus dipangkas terlebih dahulu agar dapat menyerap air dengan lebih mudah. Namun, apakah bunga-bunga itu dapat bertahan?

Keputusan yang Ceroboh

Sewaktu remaja, saya pernah mengendarai mobil terlalu cepat. Saat itu saya mencoba membuntuti teman saya sepulang latihan basket. Hujan sangat deras, dan saya kesulitan mengejar mobilnya. Tiba-tiba saat wiper mobil menyeka air dari permukaan kaca, tampaklah mobil teman saya berhenti tepat di depan! Saya menginjak rem kuat-kuat, tetapi mobil saya tergelincir, lalu menabrak pohon besar. Mobil saya hancur dan saya terbangun dari koma di bangsal rumah sakit setempat. Berkat pertolongan Tuhan, saya selamat, tetapi kecerobohan saya harus dibayar mahal.

Iman yang Imajinatif

“Lihat, Opa! Pohon-pohon itu melambai-lambai kepada Allah!” Saat kami melihat pepohonan betula muda merunduk tertiup angin sebelum badai datang, pengamatan cucu laki-laki saya yang menarik itu membuat saya tersenyum dan bertanya, Apakah saya memiliki iman yang imajinatif seperti itu?

Belajar dan Mengasihi

Di sebuah sekolah dasar di Greenock, Skotlandia, tiga guru yang sedang cuti melahirkan, membawa bayi mereka ke sekolah setiap dua minggu sekali untuk berinteraksi dengan para siswa. Bermain dengan bayi mengajar anak-anak untuk berempati, peduli, dan berbagi rasa dengan orang lain. Sering kali, yang paling cepat paham justru siswa-siswa yang “cukup menyulitkan,” ungkap salah seorang guru. “[Anak-anak] berinteraksi pada level yang lebih pribadi.” Mereka belajar “betapa tidak mudahnya merawat seorang anak,” dan “perlunya tenggang rasa terhadap satu sama lain.”

Diselamatkan dari Banjir

Pada bulan Agustus 2021 besar curah hujan di Waverly, Tennessee, tiga kali lipat dari yang diberikan ramalan cuaca. Dua puluh orang kehilangan nyawa dan ratusan rumah hancur dihantam badai. Jika bukan berkat keterampilan dan kemurahan hati pilot helikopter Joel Boyers, jumlah korban tewas mungkin akan jauh lebih besar.

Haleluya!

Sungguh menakjubkan, Handel hanya butuh dua puluh empat hari untuk menuliskan komposisi musik orkestra untuk oratorio Messiah, yang hingga sekarang merupakan komposisi musik paling terkenal di dunia, dan yang dipertunjukkan ribuan kali setiap tahunnya di seluruh dunia. Mahakarya ini mencapai puncaknya sekitar dua jam setelah dimulai, saat masuk ke bagian yang paling terkenal dari oratorio tersebut, “Hallelujah Chorus” (kor Haleluya).

Diterima dengan Hangat

Di akhir perjamuan Paskah Yahudi yang merayakan dan memperingati karya keselamatan Allah yang luar biasa, para anggota gereja mengungkapkan sukacita mereka dengan menari bersama dalam suatu lingkaran. Barry menonton sambil tersenyum, dan berkata, “Inilah keluarga saya sekarang. Inilah komunitas saya. Saya telah menemukan tempat yang membuat saya tahu bahwa saya bisa mengasihi dan dikasihi . . . tempat saya diterima.”

Keluarga yang Utuh

Pada tanggal 16 Juni 1858, ketika baru terpilih sebagai kandidat partai Republik untuk Senat Amerika Serikat dari negara bagian Illinois, Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya yang terkenal, “Keluarga yang Terpecah-pecah”, yang menyoroti ketegangan di antara berbagai pihak di Amerika terkait isu perbudakan. Pidato ini mengusik banyak orang, baik teman maupun lawan Lincoln. Lincoln menganggap penting untuk memakai istilah “keluarga yang terpecah-pecah”, yang diucapkan Yesus di Matius 12:25, karena istilah tersebut sangat dikenal dan mengena. Lincoln menggunakan ungkapan ini agar pidatonya “masuk ke benak setiap orang sehingga mereka menyadari betapa gentingnya kondisi saat ini.”