Identitas yang Diberikan Kristus
Bertahun-tahun lalu, seniman Michael Landy menghitung seluruh barang miliknya dan tiba pada angka 7.227. Yang ia lakukan setelah itu sungguh mengejutkan. Landy mendirikan sebuah pabrik di pusat perbelanjaan tersibuk di London dan menghancurkan semua miliknya di muka umum. Pakaian, karya seni, surat cinta, bahkan mobilnya dilucuti dan dibongkar, lalu ditaruh di atas ban berjalan yang membawa benda-benda itu masuk ke dalam mesin penghancur. Sementara orang-orang lalu-lalang dan sibuk berbelanja di sekitarnya, karya seni Landy seolah bertanya: “Siapakah kita tanpa kepemilikan kita?”

Satu dalam Yesus
Mimpi saya untuk menyaksikan kompetisi olahraga dan bertemu dengan para atlet menjadi nyata ketika saya menghadiri Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin sebagai jurnalis. Saya terpesona mendengar orang dari seluruh dunia berbicara dalam bahasa mereka masing-masing dan melihat berbagai bangsa bergembira bersama.
Pengingat Kehadiran Allah
Saat menjelajahi Taman Nasional Joshua Tree, California, perhatian kami terpikat oleh pepohonan unik dengan cabang berdaun jarang yang menjulang ke atas seperti tangan terangkat ke langit. Banyak yang meyakini bahwa pohon itu dinamai “Joshua Trees” (Pohon Yosua) oleh para perintis, yang teringat pada kisah dalam Perjanjian Lama ketika Yosua mengangkat lembing sebagai tanda kehadiran dan pertolongan Allah.
Para Pelayan yang Setia
Pada Maret 2024, sebuah perusahaan dirgantara gagal dalam audit keselamatan yang dilakukan oleh Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat. Audit tersebut dilakukan setelah terjadi sejumlah insiden berbahaya, seperti pesawat terbang produksi mereka yang mengalami penurunan tekanan kabin secara mendadak ketika panel pintunya terlepas di udara. Juru bicara perusahaan itu mengakui kegagalan tersebut terjadi karena instruksi bagi para karyawan sulit dipahami dan terlalu sering berubah, sehingga mereka tidak konsisten mengikuti prosedur yang berlaku.
Allah dari Kakak Perempuanku
Amina mengenal Yesus di sebuah negara yang melarang warganya memeluk agama Kristen. Ia pun membagikan imannya kepada adik laki-lakinya, tetapi sang adik menolaknya. Suatu hari, sang adik menderita penyakit paru-paru akut. Saat dirawat seorang diri di kamar rumah sakit yang gelap, ia sempat mengalami kesulitan bernapas. Ia belum berani mengakui Yesus sebagai Anak Allah, bahkan takut menyebut nama Kristus dengan lantang karena bisa saja terdengar oleh orang lain. Jadi, ia berdoa, “Allah dari kakak perempuanku, tolonglah aku sekarang!” Seketika juga ia dapat bernapas lega, dan ruangan itu dipenuhi terang yang tak dapat dijelaskan. Hari itu menjadi awal perjalanannya untuk percaya kepada Yesus.
Persembahan bagi Yesus
“Kulayangkan pandangku, yang redup oleh duka / Tiada bukit abadi yang tampak di mata,” tulis penyair era Victoria, Christina Rossetti, dalam puisinya yang menyayat hati “A Better Resurrection” (Kebangkitan yang Lebih Mulia). Puisi itu menggambarkan perjuangannya untuk terus berharap di tengah rasa hampa, “terlalu lelah ‘tuk berharap atau khawatir.” Namun, Rossetti memegang teguh pengharapan yang lebih dalam daripada perasaan putus asanya. Meski ia melihat “tiada kuncup atau tunas hijau” yang menandakan kebangkitan Kristus yang memperbarui hidupnya, ia mengaku: “Kebangkitan pasti terjadi” dan berdoa, “Ya Yesus, bangkitlah di dalamku.”
Menanggalkan Kesedihan
Penyanyi dan penulis lagu asal Kanada, Gordon Lightfoot, dikenal luas lewat tembang klasik seperti “The Wreck of the Edmund Fitzgerald” dan “If You Could Read My Mind.” Namun, salah satu karyanya yang kurang populer berjudul “The Minstrel of the Dawn.” (Minstrel adalah pujangga sekaligus penyanyi yang memakai puisinya sebagai lirik lagu.) Seperti orang pada umumnya, penyanyi dalam lagu itu rindu dapat merasa “lebih gembira daripada bersedih.” Meski selalu ada hal-hal menyedihkan yang bisa diingat, si penyanyi memilih berfokus pada hal-hal yang membahagiakan, seperti bernyanyi tentang fajar yang baru menyingsing.
Menantikan Allah
Joseph menelusuri daftar lowongan pekerjaan dengan rasa frustrasi. Pekerjaan terakhirnya sebagai pelayan memang memberinya gaji yang cukup memadai, tetapi rutinitas pekerjaan di akhir pekan—suatu hal biasa dalam industri restoran—menyulitkannya sebagai orang percaya untuk beribadah di gereja. “Mengapa Allah tidak menjawab doaku?” keluhnya. “Bukankah Dia mau aku pergi ke gereja?”