Mewujudkan Kasih Allah
Ayah Branden sedang menanti ajal akibat penyakit kanker di usia 50-an. Branden mengajak kedua orangtuanya untuk tinggal bersamanya agar ia dapat membantu merawat mereka. Ayahnya menyukai daerah tropis, tetapi sudah tidak mampu bepergian jauh. Branden pun melakukan penyesuaian dengan kreativitasnya. Ia membuat kolam kecil di belakang rumahnya, mengisinya dengan ikan, dan memasang air terjun yang mengalir di antara bebatuan. Ia mendatangkan pasir pantai, menambahkan pohon pisang, lampu penerangan, obor hias, serta membangun kanopi peneduh. Sang ayah dapat menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya menikmati “pulau surga” di halaman belakang rumah.
Satu-satunya yang Layak Disembah
Suatu siang di bulan April, jutaan orang berkumpul di sepanjang jalur yang telah dipetakan di Meksiko dan Amerika Serikat untuk menyaksikan gerhana matahari total yang langka. Sekolah meliburkan para murid, kota-kota kecil mendadak dipenuhi turis, dan penduduk menyiapkan kursi-kursi santai di halaman rumah sambil mengenakan kacamata pelindung untuk menikmati pemandangan menakjubkan itu. Saat kru televisi menyiarkan hitungan mundur menuju “kegelapan total,” orang banyak itu terdiam, kecuali mengeluarkan satu ungkapan yang terus terdengar: “Oh my God!”
Menjadi Saksi Yesus
Saya pernah mendengar orang berkata, “Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk percaya. Yang dapat kita lakukan hanyalah memberi mereka alasan untuk mempercayai apa yang kita sendiri imani.” Sungguh pengamatan yang bijaksana, tetapi bagaimana kita melakukannya?
Ucapan Perpisahan yang Berharga
Teman saya José berada di bawah perawatan khusus menjelang akhir hayatnya. Ia masih sadar dan banyak bicara ketika saya menjenguknya minggu lalu, tetapi sekarang kondisinya sudah sangat lemah dan tidak lagi berbicara. Saya tetap berada di sana untuk mendampingi José dan keluarganya, dengan harapan kehadiran saya memberikan penghiburan bagi mereka. Di ujung kunjungan terakhir saya, sayalah orang terakhir yang mendampinginya. Saya berdiri dan berjalan pelan menuju pintu, sebelum berhenti sejenak dan berpamitan untuk terakhir kalinya. Saya berkata, “Aku mengasihimu,” tanpa mengharapkan respons apa pun. Namun kemudian, saya melihat José menggerakkan bibirnya. Ia membisikkan “Aku mengasihimu” sebagai balasan.
Pelajaran dari Mobil Sewaan
Baru-baru ini, saya mengunjungi Los Angeles dan harus menyewa sebuah mobil. Di sana, saya harus mengemudi melewati jalan-jalan sempit di pusat kota yang padat dengan lalu lintas dan orang. Saya mengemudi dengan sangat hati-hati, lebih lambat dari biasanya. Mengapa? Karena saya tidak ingin mengalami kecelakaan. Namun, sebenarnya saya tidak ingin merusak mobil sewaan saya. Mobil tersebut bukan milik saya. Saya hanya meminjamnya.
Pengharapan di dalam Allah
Tidak tahan melihat ayahnya yang suka mabuk dan sering menyakiti ibunya, Pablo memutuskan untuk keluar dari rumah pada usia remaja. Ia pindah ke rumah pamannya, lulus dari SMA, menikah, dan memiliki tiga orang anak. Namun sayangnya, Pablo mengulang perilaku merusak yang dulu ia jauhi. Kecanduannya terhadap alkohol dan perilakunya yang buruk mulai menghancurkan keluarganya. Tak lama kemudian, ia pun kehilangan segalanya: pernikahan, keluarga, pekerjaan, dan rumahnya. “Hidup saya sungguh kacau, dan makin lama makin buruk,” katanya.
Kesetiaan yang Mahal Harganya
Film A Hidden Life menceritakan kisah nyata tentang seorang petani Austria bernama Franz Jägerstätter pada masa Perang Dunia II. Karena merasa muak terhadap kekejaman Nazi dan memegang teguh keyakinan bahwa hanya Yesus yang patut ditinggikannya, ia menolak untuk bersumpah setia kepada Hitler. Sikap tegas itu membuatnya ditangkap, dan di sepanjang film kita menyaksikan pergumulan batin yang dihadapi Franz akibat keputusan berani itu.
Mempengaruhi Generasi Mendatang
Sewaktu latihan bola basket, Enrique dan temannya diminta ayahnya untuk menunjukkan cara mengoper bola dengan benar di depan seluruh tim. Enrique telah berlatih selama berminggu-minggu, tetapi ia masih takut melakukan kesalahan. Ia berdoa, lalu melakukan apa yang diminta darinya, dan berkata, “Terima kasih, Tuhan!” Setelahnya, sang ayah berkata, “Ayah bangga karena kamu bekerja keras, Nak. Namun, ayah lebih bangga karena kamu berdoa dan memuji Tuhan.” Sambil mengangkat bahu, Enrique menjawab, “Aku hanya melakukan yang biasa Ayah lakukan.”
Allah Lebih Besar
Sebelum menjadi terkenal, panglima perang Mongolia, Jenghis Khan (±1162–1227), membunuh saudara tirinya sendiri demi memperkuat kedudukannya dalam keluarga. Setelah kekuasaannya semakin kokoh, ia mulai membangun kekaisaran yang lebih luas daripada yang pernah dimiliki oleh Alexander Agung, membentang dari pesisir Pasifik di Asia hingga Eropa Timur. Dengan taktik yang kejam, Khan dan pasukannya yang disebut “Gerombolan Emas” meninggalkan jejak kematian dan kehancuran di setiap wilayah yang mereka serbu. Penaklukan militernya yang dahsyat sungguh tidak tertandingi dalam sejarah.