Category  |  Santapan Rohani

Memberi Selagi Masih Hidup

Seorang pengusaha sukses memutuskan untuk membagi-bagikan hartanya dalam beberapa dekade terakhir hidupnya. Sebagai seorang miliuner, ia mendonasikan uang kepada berbagai gerakan sosial, seperti usaha menciptakan perdamaian di Irlandia Utara dan upaya modernisasi sistem perawatan kesehatan di Vietnam. Tak lama sebelum meninggal dunia, ia mendonasikan 350 juta dolar untuk menjadikan Pulau Roosevelt di kota New York sebagai pusat pengembangan teknologi. Beliau berkata, “Saya percaya kita harus memberi selagi masih hidup. Tidak ada alasan untuk menunda-nunda dalam memberi . . . Lagi pula, lebih bahagia memberi selagi masih hidup daripada setelah meninggal.” Memberi selagi masih hidup adalah sikap yang luar biasa.

Senang Belajar

Ketika ditanya bagaimana awal mulanya ia menjadi wartawan, seorang pria bercerita tentang tekad kuat sang ibu agar ia dapat meneruskan pendidikannya. Setiap kali naik kereta bawah tanah, ibunya mengumpulkan koran yang ditinggalkan oleh para penumpang dan memberikan koran-koran itu kepadanya. Selain menikmati berita olahraga, koran-koran itu juga menyajikan pengetahuan tentang dunia, yang kemudian membuka pikirannya kepada banyak hal baru.

Berjaga-jagalah!

Seorang pegawai bank di Jerman yang tengah mentransfer 62,40 euro dari bank ke rekening seorang nasabah tanpa sadar tertidur sejenak di mejanya. Ia tertidur dengan jari memencet tombol “2”. Alhasil, 222 juta euro (300 juta dolar) berpindah ke rekening nasabah tersebut. Akibat kesalahan ini, si pegawai dan koleganya yang mengesahkan transfer tersebut ikut dipecat. Kekeliruan ini memang segera diketahui dan dapat diperbaiki, tetapi karena kelalaian pegawai yang mengantuk tadi, kesalahan kecil itu nyaris menjadi mimpi buruk bagi bank tersebut.

Anugerah Kasih yang Terbesar

Ketika meninggalkan toko, putra saya, Geoff, melihat sebuah alat bantu jalan tergeletak tak bertuan di jalan. Semoga tidak ada yang kenapa-kenapa, pikirnya. Ia memeriksa ke balik bangunan dan melihat seorang pria tunawisma terkapar tidak sadarkan diri.

Berani Menghadapi Badai

Badai dahsyat melanda Memphis, Tennessee, pada petang 3 April 1968. Karena merasa letih dan kurang enak badan, Pendeta Dr. Martin Luther King Jr. ingin membatalkan pidato dukungannya terhadap unjuk rasa para pekerja kebersihan di sebuah gereja. Namun, ia terkejut saat panggilan telepon menyampaikan bahwa masyarakat dengan berani menembus badai demi mendengar pidatonya. Maka ia pergi ke gereja dan berbicara selama 40 menit, menyampaikan apa yang dianggap sebagian orang sebagai pidato terbaiknya, berjudul “I’ve Been to the Mountaintop” (Aku Sudah Pernah ke Puncak Gunung).

Gelap dan Terang

Di ruang pengadilan, saya menyaksikan beberapa contoh kebobrokan dunia kita saat ini: anak yang terasing dari ibunya; suami-istri yang sudah kehilangan cinta mula-mula dan sekarang saling bermusuhan; suami yang ingin rujuk dengan istri dan berkumpul lagi dengan anak-anaknya. Mereka sangat membutuhkan hati yang diubahkan, luka yang disembuhkan, dan kasih Allah yang membawa kemenangan.

Kematian yang Menghidupkan

Carl sedang berjuang melawan kanker dan membutuhkan transplantasi pada kedua paru-parunya. Ia memohon agar Allah memberinya paru-paru baru, tetapi merasa aneh dengan doanya sendiri. Ia merasa tidak enak berdoa seperti itu, karena “seseorang harus mati agar aku dapat hidup.”

Melakukan Firman

Saya mulai membacakan Alkitab kepada putra-putra saya ketika si bungsu, Xavier, masuk TK. Saya menggunakan momen-momen tertentu untuk mengajarnya, membahas ayat-ayat yang dapat diterapkan pada kondisi kami, lalu mengajak mereka berdoa bersama. Xavier menghafal ayat-ayat Alkitab dengan sangat mudah. Manakala kami menghadapi kesulitan yang membutuhkan hikmat, ia akan mengucapkan ayat-ayat yang menyatakan kebenaran Allah.

Investasi yang Tidak Masuk Akal

Pada tahun 1929, ketika perekonomian Amerika Serikat ambruk, jutaan orang kehilangan segalanya. Namun, tidak begitu dengan Floyd Odlum. Ketika semua orang panik dan menjual saham mereka dengan harga murah, Odlum terlihat bodoh dengan membeli semua saham di tengah kondisi masa depan bangsa yang hancur berantakan. Namun, perspektif Odlum yang “bodoh” itu justru membuahkan hasil, karena tindakannya menjadi investasi yang menguntungkan selama puluhan tahun.