Kamu Orang Apa?
Ketika saya masuk ke toko es krim bersama anak balita saya yang berdarah campuran, penjaga di balik konter menatap saya sekilas lalu memandangi anak saya. Ia lalu bertanya, “Kamu orang apa?”
Aku Tangannya
Jia Haixia kehilangan penglihatannya pada tahun 2000. Temannya, Jia Wenqi, kehilangan kedua tangannya waktu ia masih kecil. Namun, mereka menemukan cara untuk saling melengkapi kekurangan mereka. “Saya tangannya dan ia mata saya,” kata Haixia. Bersama-sama, mereka mengubah desa mereka di Tiongkok.
Apa yang Harus Saya Katakan?
Ketika melihat-lihat sekotak buku bertulisan “C. S. Lewis” di toko buku bekas, saya dihampiri oleh pemilik toko. Ketika kami membahas buku-buku itu, saya bertanya-tanya apakah ia mungkin tertarik dengan iman yang menginspirasi banyak tulisan Lewis. Saya berdoa dalam hati agar diberi tuntunan. Sepotong informasi dari sebuah biografi terbetik dalam ingatan saya, dan kami pun berdiskusi tentang bagaimana karakter dalam buku C. S. Lewis merujuk kepada Allah. Pada akhirnya, saya bersyukur doa singkat tadi telah mengubah arah pembicaraan kami ke hal-hal rohani.
Penantian yang Sepadan
Terjebak dalam pekerjaan yang membuat stres, dengan jam kerja panjang dan atasan yang tidak pengertian, James berharap bisa berhenti dari pekerjaan itu. Namun, ia punya angsuran rumah, serta istri dan anak yang harus dihidupi. Ia tetap berniat untuk mengundurkan diri, tetapi istrinya mengingatkan: “Mari kita tunggu dan lihat apa yang akan Allah tunjukkan kepada kita.”
Pahlawan, Tiran, dan Yesus
Beethoven marah. Awalnya ia bermaksud memberi judul The Bonaparte untuk Simfoni Ketiga yang digubahnya. Pada zaman yang marak dengan tirani agama dan politik, ia menganggap Napoleon sebagai pahlawan rakyat dan pejuang kebebasan. Namun, ketika jenderal Prancis tersebut menyatakan diri sebagai kaisar, Beethoven berubah pikiran. Ia menganggap mantan pahlawannya itu brengsek dan sewenang-wenang. Ia mencoba menghapus nama Bonaparte dari kertas musiknya keras-keras sampai kertasnya berlubang.
Merawat Mereka yang Membutuhkan
Elvis Summers membuka pintu dan mendapati Smokey berdiri di sana. Wanita ringkih itu sering mampir untuk meminta kaleng kosong yang akan ia tukarkan dengan uang. Itulah mata pencahariannya. Elvis mendapat ilham. “Bisa tunjukkan di mana kamu tidur?” tanyanya. Smokey mengajaknya ke sebuah lahan sempit selebar 60 cm di samping sebuah rumah. Tergerak oleh belas kasihan, Summers mendirikan sebuah “rumah mungil” untuk Smokey; tempat berlindung sederhana supaya ia bisa tidur dengan aman. Ide Summers terus berkembang. Ia membuka penggalangan dana lewat situs GoFundMe dan bekerja sama dengan gereja-gereja lokal. Mereka menyediakan lahan untuk membangun lebih banyak tempat penampungan bagi tunawisma.
Diselamatkan dari Musuh yang Kuat
Pada tahun 2010, di usia 94 tahun, George Vujnovich dianugerahi medali Bronze Star atas jasanya mengorganisir yang disebut oleh koran New York Times sebagai “salah satu upaya penyelamatan terbesar pada Perang Dunia II”. Vujnovich, putra imigran Serbia, adalah anggota Angkatan Darat AS. Ketika datang kabar bahwa para penerbang Amerika yang tertembak jatuh dilindungi oleh para pemberontak di Yugoslavia, Vujnovich kembali ke negeri leluhurnya, dengan melakukan terjun payung di hutan untuk menemukan pilot-pilot tersebut. Ia membagi para tentara ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya membaur dengan warga Serbia (mengenakan pakaian dan makan makanan Serbia). Berbulan-bulan lamanya ia mengantar kelompok kecil demi kelompok kecil ke pesawat angkut C-47 yang menunggu di landasan pendaratan kecil yang mereka bangun di tengah hutan. Vujnovich menyelamatkan 512 pria yang senang dan gembira karena bisa diselamatkan.
Suatu Kumpulan Besar
Kami semua berkumpul menghadiri kebaktian pernikahan hari itu dengan gembira. Meski tetap menjaga jarak karena pandemi COVID-19, kami menyambut baik kesempatan untuk merayakan pernikahan Gavin dan Tijana. Teman-teman kami asal Iran yang melek teknologi membantu menyiarkan acara ini kepada teman dan keluarga yang tersebar di Spanyol, Polandia, dan Serbia. Pendekatan kreatif ini membantu mengatasi kendala saat kami berbahagia merayakan janji pernikahan itu. Roh Allah mempersatukan kami dan memberi kami sukacita.
Tetaplah Bersatu
Pada tahun 1800-an, Gereja Baptis Dewberry pecah hanya gara-gara sepotong paha ayam. Ada berbagai versi cerita, tetapi menurut cerita seorang anggota gereja, awalnya dua pria bertengkar memperebutkan paha ayam pada acara makan bersama di gereja. Pria yang satu berkata, Allah ingin ia mendapatkan paha ayam itu. Yang lain berkata, Tuhan tidak peduli; dan ia sangat menginginkan ayam itu. Kedua pria itu sama-sama marah hingga salah seorang di antara mereka pindah beberapa kilometer jauhnya dan mendirikan Gereja Baptis Dewberry Kedua. Untunglah, kedua gereja itu telah menyelesaikan permasalahan mereka, dan semua orang sepakat bahwa alasan perpecahan tersebut benar-benar konyol.