Category  |  Santapan Rohani

Disertai dalam Lembah Kekelaman

Hannah Wilberforce adalah bibi dari William Wilberforce, pejuang penghapusan budak di Inggris. Menjelang ajalnya, Hannah sempat menulis sepucuk surat, dan di dalamnya ia berbicara tentang kabar kematian seorang saudara seiman dalam Tuhan. “Berbahagialah orang yang telah berpulang ke rumah Bapa, sekarang mendiang telah berada bersama Yesus, yang ia kasihi meski tak pernah dilihatnya. Hatiku melonjak kegirangan.” Kemudian ia menggambarkan kondisinya sendiri: “Diriku sendiri, antara membaik dan memburuk; tetapi Yesus, Dia selalu baik.”

Di Mana Pun Kita Menyembah

Rasa sakit kepala hebat yang tidak tertahankan membuat saya, lagi-lagi, tidak bisa beribadah di gereja. Saya lalu mengikuti ibadah secara daring, sambil menyesali hilangnya kesempatan beribadah bersama jemaat lainnya. Awalnya, saya banyak mengeluh. Kualitas suara dan gambar yang buruk membuat saya terganggu. Namun, kemudian terdengar suara dari video itu menyanyikan himne yang sudah akrab di telinga. Air mata saya mengalir sembari menyanyikan: “Kaulah, ya Tuhan, Surya hidupku; asal Kau ada, yang lain tak perlu. Siang dan malam Engkau kukenang; di hadirat-Mu jiwaku tenang!” (Kidung Jemaat No. 405). Dengan berfokus pada kehadiran Allah yang setia, saya pun menyembah Dia sambil duduk di ruang tamu rumah saya.

Para Perongrong

Awalnya tenggorokan saya terasa gatal. Gawat, pikir saya. Rasa gatal itu ternyata gejala flu. Itu baru permulaan dari infeksi tenggorokan. Flu berubah menjadi batuk rejan—batuk hebat yang disertai napas berbunyi—dan batuk hebat itu kemudian berkembang menjadi pneumonia.

Iman Remaja

Masa remaja terkadang menjadi masa yang paling menyiksa dalam hidup—bagi orangtua maupun anak. Semasa remaja, saya berusaha “melepaskan diri” dari pengaruh ibu saya dengan terang-terangan menolak nilai-nilai yang diajarkannya dan memberontak terhadap aturan-aturan yang ditetapkannya. Saya melakukannya dengan kecurigaan bahwa semua itu hanya dibuat untuk membuat saya menderita. Sekarang kami sudah berdamai kembali, tetapi waktu itu hubungan kami diwarnai banyak ketegangan. Ibu pasti menyesalkan penolakan saya terhadap nasihat-nasihatnya, karena seandainya saja saya taat, saya bisa terhindar dari banyak penderitaan fisik dan mental yang tidak perlu.

Siapa Nama Anda?

Konon kita menjalani hidup ini dengan menyandang tiga nama: nama yang diberikan oleh orangtua kita, nama yang diberikan orang lain (reputasi kita), dan nama yang kita berikan kepada diri sendiri (karakter kita). Nama yang diberikan orang lain kepada kita itu penting, karena “nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1). Namun, walaupun reputasi itu penting, karakter jauh lebih penting. 

Segala yang Anda Perlukan

Saat duduk di meja makan, saya memperhatikan keseruan yang tengah berlangsung di sekeliling saya. Paman, bibi, saudara-saudara sepupu, dan para keponakan sedang menikmati makanan dan kebersamaan di acara reuni keluarga kami. Saya juga menikmatinya. Namun, terlintas suatu pikiran yang mengusik hati saya: Kau satu-satunya perempuan di sini yang tidak punya anak, dan tidak punya keluarga sendiri.

Belajar dengan Sukacita

Di kota Mysore, India, terdapat sebuah bangunan sekolah yang terbuat dari dua gerbong kereta api yang sudah dipercantik dan tersambung satu sama lain. Para pendidik di sana bekerja sama dengan dengan perusahaan kereta api untuk membeli dan mengalihfungsikan gerbong yang sudah tidak terpakai itu. Pada dasarnya setiap gerbong hanyalah sebuah kotak besar berbahan besi yang tidak bisa digunakan sebelum para pekerja memasang tangga, kipas angin, lampu, dan meja. Mereka juga mengecat dinding dan menghiasinya dengan lukisan aneka warna pada dinding bagian dalam dan luar. Kini, enam puluh siswa dapat menerima pendidikan di sekolah itu berkat transformasi luar biasa yang pernah terjadi.

Pelarian Ikabod

Dalam cerpen berjudul Legenda di Sleepy Hollow, penulis Washington Irving bercerita tentang Ichabod Crane, seorang guru sekolah yang ingin menikahi seorang gadis cantik bernama Katrina. Kisahnya dipusatkan pada kehadiran seorang penunggang kuda tanpa kepala yang menghantui desa koloni itu. Suatu malam, Ichabod melihat penampakan mirip hantu dari penunggang kuda itu. Saking ketakutannya, ia pun melarikan diri dari daerah itu. Para pembaca tahu bahwa “penunggang kuda” itu sebenarnya adalah seorang pesaing dalam merebut hati Katrina, dan yang kemudian menikahinya.

Tak Terbatas

Saya terduduk di pujasera sebuah pusat perbelanjaan, dengan tubuh yang tegang dan perut yang mulas karena memikirkan setumpuk pekerjaan yang mendesak untuk segera diselesaikan. Sambil mengunyah burger, saya melihat orang-orang di sekitar saya juga bergegas-gegas, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Betapa terbatasnya kita semua, pikir saya, terbatas dalam hal waktu, tenaga, dan kemampuan.