Category  |  Santapan Rohani

Perlindungan Allah

Adrian Monk, detektif dan tokoh utama dalam serial TV Monk, diceritakan mengidap berbagai fobia, antara lain terhadap jarum, susu, jamur, tangga berjalan, proses melahirkan, lebah, lebah dalam blender—dan itu baru sebagian kecil saja. Namun, ketika Monk dan rival bebuyutannya, Harold Krenshaw, terperangkap bersama dalam bagasi sebuah mobil, Monk mengalami terobosan yang membuatnya berhasil mengatasi salah satu fobianya—klaustrofobia, alias ketakutan yang berlebihan terhadap ruang yang sempit.

Warisan Kebaikan

Martha bekerja sebagai asisten guru di sebuah sekolah dasar selama lebih dari tiga puluh tahun. Setiap tahun, ia menabung agar dapat membeli mantel, syal, dan sarung tangan baru untuk siswa-siswinya yang membutuhkan. Setelah Martha meninggal dunia karena sakit leukemia, kami menyelenggarakan acara untuk mengenang pengabdiannya. Sebagai pengganti bunga, orang-orang menyumbangkan ratusan mantel musim dingin baru untuk para siswa yang ia cintai dan layani selama beberapa dekade. Banyak orang menceritakan cara-cara yang ditempuh Martha untuk menyemangati sesama lewat kata-katanya yang menguatkan maupun perbuatan baiknya. Rekan-rekan sesama guru mengenangnya dengan cara menyelenggarakan aksi amal mengumpulkan mantel bekas yang masih layak pakai selama tiga tahun semenjak kepergiannya. Warisan kebaikannya terus mengilhami orang-orang untuk bermurah hati melayani siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Dia Mendengar Kita

Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt sering menerima banyak warga yang mengantre lama untuk menyalaminya di Gedung Putih. Konon, ia mengeluhkan bahwa tidak ada dari tamu-tamu itu yang mendengarkan perkataannya. Jadi, suatu kali Roosevelt memutuskan untuk melakukan eksperimen saat antrean dibuka. Kepada setiap orang yang lewat untuk bersalaman dengannya, ia berkata, “Tadi pagi saya membunuh nenek saya.” Para tamu menanggapi ucapannya dengan perkataan seperti, “Luar biasa! Lanjutkan, Pak. Tuhan memberkati.” Ucapannya baru terdengar saat Roosevelt menyalami tamu terakhirnya, seorang duta besar dari Bolivia. Terkejut sekaligus kebingungan, sang duta besar pun berbisik, “Saya yakin beliau pantas menerimanya.”

Anak-Anak Allah

Saya pernah melayani sebagai pembicara dalam sebuah seminar sekuler bagi pasutri yang tidak memiliki anak. Banyak dari peserta seminar itu merasa sedih akan keadaan mereka dan pesimis membayangkan masa depan mereka. Karena saya sendiri juga tidak mempunyai anak, saya mencoba menyemangati mereka. “Anda bisa tetap memiliki identitas yang berarti meski tidak menjadi orangtua,” kata saya. “Saya percaya Anda diciptakan secara dahsyat dan ajaib, serta dapat menemukan tujuan baru bagi hidup ini.”

Membagikan Iman Kita

Ketika penulis dan penginjil Becky Pippert tinggal di Irlandia, ia rindu membagikan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada Heather, perias kuku di sebuah salon yang sudah dua tahun dikunjunginya. Akan tetapi, Heather sepertinya tidak tertarik dengan urusan rohani. Karena merasa berat untuk memulai obrolan, Becky pun berdoa sebelum mengunjungi salon itu.

Coba Bayangkan!

Dalam sebuah program televisi populer tentang renovasi rumah, pemirsa sering mendengar sang pembawa acara berseru, “Coba bayangkan!” Kemudian ia akan menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika barang-barang lama diperbaiki, tembok yang kusam dicat, dan lantainya dipulas dengan warna. Dalam salah satu episode, seorang pemilik rumah yang direnovasi merasa begitu gembira sampai-sampai ungkapan “Indah sekali!” terlontar dari bibirnya sebanyak tiga kali.

Allah Hadir

Aubrey sempat membeli sehelai baju hangat untuk ayahnya yang sudah tua, tetapi beliau meninggal dunia sebelum sempat memakainya. Jadi, Aubrey menyelipkan pesan berisi kata-kata penyemangat bersama selembar uang 20 dolar di kantong mantel itu lalu menyumbangkannya ke badan amal.

Dia akan Berperang Bagi Anda

Kuda yang terluka itu bernama Drummer Boy, salah satu dari 112 kuda yang ditunggangi para tentara Inggris dalam pertempuran terkenal yang disebut “Charge of the Light Brigade”. Drummer Boy menunjukkan keberanian dan stamina yang begitu luar biasa sehingga perwira yang menungganginya, Letnan Kolonel de Salis, memutuskan bahwa kudanya layak mendapatkan medali seperti para prajuritnya yang gagah berani. Hal itu diperbuatnya meskipun serangan mereka menemui kegagalan. Namun, keberanian pasukan berkuda Inggris, yang didukung oleh kuda-kuda tunggangan mereka, menjadikan pertempuran tahun 1854 tersebut sebagai salah satu aksi militer Inggris terhebat yang masih dikagumi sampai sekarang.

Meluangkan Waktu Bersama Allah

A River Runs Through It adalah kisah indah yang ditulis Norman Maclean tentang dua anak laki-laki yang besar di wilayah barat Montana bersama ayah mereka, seorang pendeta gereja Presbiterian. Biasanya pada Minggu pagi, Norman dan adiknya, Paul, beribadah di gereja dan mendengarkan ayah mereka berkhotbah. Pada Minggu sore ada satu kali kebaktian lagi dan ayah mereka akan kembali berkhotbah. Namun, di antara kedua kebaktian tersebut, kedua anak itu mempunyai waktu bebas untuk menjelajahi bukit dan sungai bersama ayah mereka “yang ingin melepas lelah di antara pelayanan.” Sang ayah sengaja menarik diri dari kesibukannya agar “semangatnya dipulihkan dengan kekuatan yang berlimpah-limpah untuk berkhotbah pada sore harinya.”