Category  |  Santapan Rohani

Dikarantina oleh Ketakutan

Pada tahun 2020, wabah virus corona membuat seluruh dunia ketakutan. Orang-orang dikarantina, banyak negara menutup perbatasan, semua penerbangan dan kegiatan besar dibatalkan. Mereka yang tinggal di daerah-daerah tanpa kasus juga merasa takut kalau-kalau virus itu juga akan menjangkiti mereka. Graham Davey, seorang ahli dalam hal kecemasan, yakin bahwa berita-berita negatif yang disiarkan “dapat menyebabkan orang yang mendengarnya semakin sedih dan gelisah”. Sebuah meme yang beredar di media sosial memperlihatkan seorang laki-laki sedang menonton siaran berita di televisi, dan menanyakan caranya supaya tidak lagi khawatir. Seseorang yang berada di ruangan yang sama menanggapi pertanyaan itu dengan mematikan pesawat televisinya, seakan menyatakan bahwa kekhawatiran bisa sirna seandainya saja kita mau mengalihkan perhatian!

Kepedihan Duka dan Kelembutan Kasih

Ketika James Barrie berusia enam tahun, kakak sulungnya David meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Peristiwa itu terjadi sehari sebelum ulang tahun David yang keempat belas. Selama bertahun-tahun, James berusaha menghibur hati Margaret, ibunya yang sangat berduka. Adakalanya sang ibu menghibur dirinya sendiri dengan mengingat bahwa anak sulungnya itu tidak perlu mengalami berbagai kesulitan hidup pada masa dewasanya. Beberapa dekade kemudian, oleh imajinasi James yang sangat kreatif, pemikiran tersebut berkembang menjadi inspirasi untuk menciptakan seorang karakter populer yang tidak pernah menua dalam dongeng anak-anak: Peter Pan. Seperti bunga yang tumbuh dengan susah payah di sela-sela aspal, kebaikan dapat muncul bahkan dari pengalaman duka yang pedih dan tak terbayangkan.

Jendela

Di dekat kaki pegunungan Himalaya, seorang pengunjung memperhatikan adanya sederet rumah tanpa jendela. Pemandunya menjelaskan bahwa beberapa warga desa takut roh jahat akan menyusup masuk ke dalam rumah saat mereka tidur, maka mereka membangun dinding tebal yang tak dapat ditembus. Namun, rumah mereka yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus bisa terlihat dari jendela yang mereka pasang untuk membiarkan cahaya matahari masuk.

Memberikan Pengampunan

Ketika mengenang pengalamannya mengampuni Manasseh, pria yang membunuh suami dan sejumlah anaknya dalam peristiwa genosida di Rwanda, Beata berkata, “Pengampunanku didasari pada apa yang telah Yesus lakukan. Dialah yang menanggung hukuman untuk setiap perbuatan jahat yang diperbuat manusia sepanjang zaman. Salib-Nya adalah satu-satunya tempat kita memperoleh kemenangan!” Bukan cuma sekali Manasseh mengirimkan surat kepada Beata dari penjara untuk memohon pengampunan-nya—dan pengampunan Allah—sambil menceritakan mimpi buruk yang sering menghantuinya. Awalnya, Beata tidak mau memberikan pengampunan, karena ia membenci pria yang telah menghabisi keluarganya itu. Namun kemudian, “Yesus mengusik pikirannya” dan dengan pertolongan Allah, sekitar dua tahun kemudian, Beata pun mengampuni Manasseh.

Berbagi Beban

Karen, seorang guru SMP, menciptakan suatu aktivitas yang mengajarkan murid-muridnya untuk lebih memahami satu sama lain. Dalam kegiatan “Berbagi Beban”, para murid menuliskan beban emosional mereka masing-masing. Kemudian tulisan-tulisan tanpa nama itu dibagikan di antara mereka, sehingga para murid dapat mengetahui pergumulan yang dialami oleh teman-teman mereka sendiri. Tidak jarang ada murid yang meneteskan air mata membaca tulisan teman-temannya. Sejak saat itu, para remaja dalam kelas tersebut memiliki penghargaan dan empati yang lebih besar terhadap satu sama lain.

Hidup Berbeda

Ketika harus bepergian jauh dengan pesawat dan melintasi beberapa zona waktu, saya mencoba bermacam-macam cara untuk menghindari jet lag (gangguan tidur karena perbedaan zona waktu). Rasa-rasanya saya sudah mencoba semua cara! Suatu kali, saya memutuskan untuk mencocokkan jadwal makan saya di atas pesawat dengan zona waktu daerah tujuan saya. Jadi, saya tidak ikut makan malam seperti penumpang lainnya dan memilih untuk menonton film dan berusaha tidur. Penundaan itu tidak mudah untuk dilalui, dan sarapan yang disajikan kepada saya sebelum mendarat membuat saya kurang berselera. Akan tetapi, usaha saya melakukan sesuatu yang berbeda dari orang-orang di sekeliling saya ternyata berhasil. Jam biologis saya dipaksa untuk mengikuti zona waktu yang baru.

Menghayati Iman

Sambil bergandengan tangan, saya dan cucu laki-laki saya bergegas melintasi lapangan parkir untuk mencari baju baru yang akan dipakainya pada hari pertama masuk sekolah. Ia sangat bersemangat karena sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak, dan saya pun ingin membuatnya lebih gembira lagi. Saya baru saja melihat sebuah cangkir kopi bertuliskan, “Nenek adalah ibu yang lebih seru.” Keseruan berarti keceriaan, kegembiraan, sukacita! Memang itu tanggung jawab saya sebagai seorang nenek, bukan? Itu semua . . . dan masih banyak lagi.

Melayani yang Paling Hina

Namanya Spencer. Namun, semua orang memanggilnya “Spence.” Ia juara lomba lari tingkat SMA di negara bagiannya, lalu diterima masuk universitas bergengsi dengan beasiswa penuh. Spencer kini tinggal di salah satu kota terbesar di Amerika Serikat dan menjadi ahli teknik kimia yang sangat disegani. Akan tetapi, jika ditanya tentang prestasi tertingginya, Spencer tidak akan menyebutkan hal-hal tadi. Dengan penuh semangat ia akan bercerita tentang perjalanan yang ditempuhnya beberapa bulan sekali ke Nikaragua untuk menengok kondisi anak-anak dan guru-guru dalam program pendidikan yang ia bantu dirikan di salah satu daerah termiskin di negara itu. Ia juga akan bercerita bagaimana hidupnya telah diperkaya dengan melayani mereka. 

Rencana yang Tidak Sempurna

Saya sedang asyik melihat-lihat buku di sebuah perpustakaan yang terletak di lantai dasar sebuah pusat kegiatan masyarakat yang baru dibuka ketika tiba-tiba terdengar suara berdebam keras. Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar lagi hingga berkali-kali. Seorang pegawai perpustakaan dengan wajah kesal menjelaskan bahwa tepat di atas perpustakaan tersebut terdapat arena angkat besi, dan suara berdebam itu terdengar setiap kali seseorang menaruh barbel. Para arsitek dan desainer telah merancang dengan saksama berbagai aspek dari fasilitas mutakhir ini, tetapi tampaknya mereka lupa menaruh perpustakaan di lokasi yang jauh dari area yang sarat aktivitas.