Category  |  Santapan Rohani

Menemukan Sukacita dalam Pujian

Ketika C. S. Lewis, penulis terkenal asal Inggris, baru menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, ia pernah merasa enggan memuji Allah. Ia bahkan menyebut hal itu sebagai “batu sandungan.” Ia sulit memahami mengapa “Allah terkesan menuntut untuk dipuji.” Namun, Lewis akhirnya menyadari bahwa “pada saat Dia disembah, Allah menyatakan kehadiran-Nya” kepada umat-Nya. Kemudian kita, “dalam kasih yang sempurna bersama Allah” menemukan di dalam Dia suatu sukacita yang tidak terpisahkan “bagaikan cahaya yang menyinari cermin dan kemudian dipantulkan kembali.”

Perlindungan bagi yang Tertolak

George Whitefield (1714–1770) adalah salah seorang pengkhotbah paling berbakat dan berhasil sepanjang sejarah, dan ia telah membawa ribuan orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Meski demikian, hidupnya tidak lepas dari kontroversi. Pilihannya untuk berkhotbah di tempat terbuka (agar bisa dihadiri sejumlah besar orang) terkadang dikritik oleh pihak-pihak yang mempertanyakan motivasinya dan merasa bahwa Whitefield seharusnya berkhotbah di dalam gedung gereja saja. Perkataan Whitefield tentang tulisan pada batu nisannya kelak menjadi tanggapannya terhadap kritikan yang diterimanya: “Dengan sabar saya akan menunggu hingga Hari Penghakiman untuk membersihkan nama baik saya; dan setelah mati, saya tidak menghendaki tulisan pada batu nisanku kecuali ini, ‘Di tempat ini terbaring George Whitefield—seperti apa sesungguhnya dirinya kelak akan diketahui pada hari yang agung itu.’”

Kasih yang Mengekang

Sebagian besar pemuda Samoa diberi tato sebagai tanda tanggung jawab kepada masyarakat dan kepala suku mereka. Namun, ketika para pemain rugbi dari Samoa berkunjung ke Jepang, negara yang sebagian masyarakatnya melihat tato secara negatif, mereka menyadari bahwa simbol itu bisa menimbulkan masalah. Demi memelihara hubungan baik, para pemuda Samoa itu pun mengenakan kain panjang berwarna kulit pada lengan untuk menutupi tato mereka. “Kami menghormati dan menghargai budaya Jepang,” kata kapten tim Samoa. “Kami harap usaha kami dapat mereka terima.”

Kapan Pun, Di Mana Pun

Pada tanggal 28 Januari 1986, pesawat ulang alik Challenger milik Amerika Serikat meledak tujuh puluh tiga detik setelah lepas landas. Dalam pidato untuk menguatkan bangsanya yang berduka karena tragedi itu, Presiden Reagan mengutip puisi “High Flight” karya John Gilespie Magee, seorang pilot pada masa Perang Dunia II. Dalam puisi itu, ia menulis tentang pergi ke “angkasa tinggi yang suci dan tak terlampaui” dan merasa sedang mengulurkan tangan, hendak menyentuh “wajah Tuhan.”

Persaudaraan dalam Kristus

Studi Perkembangan Orang Dewasa yang dilakukan oleh Universitas Harvard merupakan penelitian yang sudah berjalan selama beberapa dekade. Hasil proyek tersebut memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya jalinan hubungan yang sehat antarmanusia. Riset dimulai dari 268 mahasiswa tingkat dua Universitas Harvard pada dekade 1930-an dan kemudian meluas hingga mencakup, antara lain, 456 warga kota Boston. Para peneliti mewawancarai para peserta dan meneliti catatan medis mereka setiap beberapa tahun sekali. Mereka menemukan bahwa ternyata hubungan yang erat dengan orang lain menjadi faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan kesehatan. Ternyata, besar kemungkinan kita akan merasakan sukacita yang lebih mendalam apabila hidup kita dikelilingi oleh orang-orang yang tepat.

Teguh Ditopang oleh Kebenaran

Keluarga saya tinggal dalam sebuah rumah unik yang berusia hampir satu abad, lengkap dengan dinding plester bertekstur indah. Seorang kontraktor mewanti-wanti saya bahwa dengan dinding seperti itu, untuk menggantung lukisan, saya harus memakukannya pada pasak kayu atau menggunakan jangkar sekrup sebagai penyangga. Jika tidak, ada kemungkinan lukisannya akan jatuh dan meninggalkan lubang menganga pada dinding.

Di Taman Sepi

Mendiang ayah saya senang menyanyikan lagu-lagu himne dari masa silam. Salah satu himne favoritnya adalah “Waktu Fajar di Taman Sepi” (judul dalam Pelengkap Kidung Jemaat No. 246). Beberapa tahun lalu, kami menyanyikannya dalam kebaktian pemakaman beliau. Refrainnya sederhana tetapi begitu indah: “Dan suara Yesus memanggilku, bergembiralah hatiku! Sungguh indah persekutuanku bersama dengan Yesus.” Pujian itu memberikan sukacita bagi ayah saya, dan juga bagi saya.

Mengarungi Ombak

Saat suami saya berjalan menyusuri pantai sambil mengambil foto-foto cakrawala di Hawaii, saya duduk di sebuah batu besar, resah memikirkan kondisi kesehatan saya yang kembali memburuk. Meski masalah tetap akan ada ketika saya pulang ke rumah nanti, saat itu saya benar-benar membutuhkan ketenangan. Saya menatap ombak demi ombak menerjang batu-batu karang berwarna hitam, dan perhatian saya tertuju kepada bayangan gelap di atas ombak itu. Dengan memakai fitur zoom pada kamera, dari bentuknya saya mengenali bayangan itu sebagai seekor penyu yang mengarungi ombak dengan santai. Kedua kaki depannya terbentang lebar, tenang tak bergerak. Saya tersenyum sembari membiarkan wajah saya tertiup angin sepoi-sepoi dari laut.

Harga yang Harus Dibayar

Karya-karya seni Michelangelo mengeksplorasi banyak segi kehidupan Yesus, tetapi salah satu karyanya yang paling mengharukan datang dari salah satu yang paling sederhana. Pada dekade 1540-an, Michelangelo membuat sketsa “pieta” (gambar ibu Yesus memangku tubuh Kristus yang sudah mati) untuk sahabatnya, Vittoria Colonna. Gambar yang dibuat dengan kapur itu melukiskan Maria yang menengadah ke langit sambil memangku tubuh Sang Putra yang sudah kaku. Menjulang di belakang Maria adalah sebuah salib yang pada palangnya tercantum kata-kata dari sajak berjudul Paradise (Firdaus) karya Dante, “Tidak terpikirkan oleh mereka harga darah yang tertumpah.” Maksud Michelangelo sangat tegas: ketika kita merenungkan kematian Kristus, kita juga harus memikirkan besarnya harga yang telah Dia bayar.