Category  |  Santapan Rohani

Karunia Berbicara di Hari Natal

Serangan stroke yang dialami Tom pasca operasi telah merenggut kemampuan bicaranya dan ia pun harus menjalani rehabilitasi yang cukup panjang. Berminggu-minggu kemudian, kami terkejut sekaligus senang melihat kemunculannya kembali di gereja dalam kebaktian khusus hari Thanksgiving. Yang lebih mengejutkan lagi, Tom berdiri dan berbicara. Ia berbicara dengan terbata-bata, kata-katanya terbolak-balik, diulang-ulang, bahkan salah menyebutkan hari dan tanggal. Namun, satu hal yang jelas: ia memuji Allah! Adakalanya kita mengalami momen yang membuat kita sedih sekaligus diberkati. Melihat Tom dan mendengar kesaksiannya adalah momen seperti itu.

Bergumul dalam Doa

Kehidupan Dennis berubah total ketika seseorang memberinya Alkitab Perjanjian Baru. Ia sangat tertarik membaca Alkitab itu dan selalu membawanya ke mana-mana. Dalam tempo enam bulan, dua perubahan besar terjadi dalam hidupnya. Dennis mempercayai Tuhan Yesus dan menerima pengampunan atas segala dosanya, dan kemudian ia didiagnosis mengidap tumor otak setelah sering merasa sakit kepala. Karena menderita kesakitan yang luar biasa, ia hanya dapat terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bekerja. Suatu malam, karena kesakitannya, ia tidak bisa tidur dan terus berseru-seru kepada Tuhan. Ia baru bisa tidur sekitar pukul 4.30 pagi.

Kabut Pagi

Suatu pagi saya pergi ke kolam dekat rumah. Saya duduk merenung di atas sebuah perahu yang terbalik, sambil memandangi angin sepoi-sepoi bertiup mengejar lapisan kabut di atas permukaan air. Kepulan kabut naik berpusar-pusar, bagaikan “tornado” kecil yang merambat naik lalu hilang. Tidak lama kemudian, sinar matahari menembus awan dan kabut itu pun lenyap.

Hamba yang Sejati

Pada tahun 27 sm, seorang penguasa Romawi bernama Octavianus menghadap Senat untuk menyerahkan kekuasaannya. Ia telah memenangi perang saudara, menjadi penguasa tunggal atas wilayah tersebut, dan berfungsi layaknya kaisar. Namun, ia tahu kekuasaan yang sedemikian besar dapat membuatnya dicurigai. Maka, Octavianus melepaskan kekuasaannya di hadapan Senat dan bersumpah hanya akan menjadi pejabat biasa. Bagaimana respons Senat? Mereka justru menghormati Octavianus dengan mengenakan mahkota daun kepadanya dan menjulukinya sebagai abdi rakyat Romawi. Ia juga diberi gelar Agustus—berarti “Yang Agung”.

Tuntunan Allah

Ketika sepasang suami-istri mendapati bahwa bank tempat mereka menabung secara tidak sengaja mengirim uang sebesar $120.000 ke rekening mereka, mereka pun langsung menghambur-hamburkannya. Mereka membeli sebuah mobil jip, sebuah mobil karavan, dan dua buah mini traktor sekaligus melunasi tagihan-tagihan. Begitu menyadari kesalahan itu, bank meminta pasangan tersebut mengembalikan uangnya. Sayangnya semua uang sudah habis terpakai. Pasangan itu lalu didakwa melakukan tindak pidana pencurian. Di pengadilan, sang suami berkata kepada wartawan, “Kami mengikuti nasihat hukum yang salah.” Mereka berdua mendapat hikmah bahwa mengikuti nasihat yang salah (dan menggunakan uang yang bukan milik mereka) dapat berujung pada masalah besar.

Dalam Satu Tim

Ketika Carson Wentz, pemain quarterback tim football Philadelphia Eagle, kembali merumput setelah sembuh dari cedera parah, quarterback penggantinya, Nick Foles, dengan rela kembali ke bangku cadangan. Meski bersaing memperebutkan posisi yang sama, keduanya memilih untuk saling mendukung dan tetap yakin dengan peran mereka masing-masing. Seorang wartawan melihat bagaimana kedua atlet itu memiliki “hubungan unik yang berakar pada iman mereka dalam Tuhan,” dan hubungan itu ditunjukkan lewat cara mereka mendoakan satu sama lain. Di hadapan orang lain yang menyaksikan mereka, keduanya memuliakan Allah dengan mengingat bahwa mereka berada di tim yang sama—tidak hanya sebagai sesama pemain  quarterback Eagle, tetapi juga saudara seiman di dalam Yesus Kristus, yang sama-sama mereka wakili di lapangan.

Kesalahan Telah Dihapus 

Selama bertahun-tahun, Deepika menanggung beban rasa bersalah atas caranya memperlakukan adik perempuannya sewaktu mereka berdua masih kecil. Walaupun sudah meminta maaf kepada sang adik yang juga sudah memaafkannya, ia masih terus merasa bersalah.

Cara Tante Betty

Waktu saya masih kecil, setiap kali Tante Betty datang berkunjung, saya merasa hari itu seperti hari Natal. Ia senang membawakan mainan dan memberi uang kepada saya sebelum pulang. Kalau saya menginap di rumahnya, kulkasnya penuh dengan es krim dan saya tidak pernah dipaksa makan sayur. Tidak banyak aturan dan saya diperbolehkan tidur larut malam. Tante Betty menjadi cermin kemurahan hati Allah. Namun, agar tumbuh sehat, saya butuh sesuatu yang lebih dari cara Tante Betty memanjakan saya. Saya juga butuh mengikuti aturan dan harapan orangtua saya atas diri dan perilaku saya, dan saya bertanggung jawab menaati semua itu.

Obral Natal

Seorang ibu merasa sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membeli hadiah Natal bagi keluarganya, oleh karena itu pada tahun berikutnya ia memutuskan mencoba hal yang berbeda. Selama beberapa bulan sebelum Natal, ia mengunjungi sejumlah kegiatan penjualan barang bekas untuk mencari-cari barang bekas yang dijual murah. Ia pun berhasil membeli lebih banyak barang daripada biasanya, tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Pada malam sebelum hari Natal, anak-anaknya sangat bersemangat membuka hadiah-hadiah itu. Keesokan harinya, masih ada hadiah yang belum dibuka! Karena merasa bersalah tidak memberikan barang-barang baru sebagai hadiah, si ibu menyiapkan hadiah-hadiah tambahan. Anak-anaknya sempat membuka hadiah-hadiah itu tetapi mereka segera memprotes, “Kami capek membuka hadiah terus! Hadiahnya begitu banyak, Ma!” Tumben sekali anak-anak mengeluh seperti itu di hari Natal!