Category  |  Santapan Rohani

Mencerminkan Kristus

Theresia dari Lisieux adalah anak yang tadinya ceria dan riang, tetapi berubah menjadi pemalu dan mudah gelisah setelah ibunya meninggal waktu ia baru berumur empat tahun. Namun, bertahun-tahun kemudian pada malam Natal, semuanya berubah. Setelah merayakan kelahiran Kristus bersama komunitas gerejanya, ia merasakan bagaimana Allah melepaskannya dari rasa takut dan memberinya sukacita. Ia mengaitkan perubahan itu dengan kuasa dari Allah, yang datang dari surga menjadi manusia dalam diri Yesus, dan melalui kehadiran Kristus dalam hidupnya.

Berakar dalam Kasih

“Begitu saja, kok!” kata Megan. Ia memotong sebuah batang dari tanaman geraniumnya, mencelupkan ujung batang yang terpotong itu ke dalam madu, lalu menancapkannya di pot yang diberi kompos. Megan sedang mengajari saya bagaimana mengembangbiakkan geranium: dari satu tanaman sehat menjadi banyak, sehingga saya punya banyak bunga untuk dibagikan kepada orang lain. Menurutnya, madu berguna untuk membantu tumbuhan muda menancapkan akar-akarnya.

Mata untuk Melihat

Belum lama ini saya menemukan keindahan dari seni anamorphic (teknik karya seni yang membuat obyek terlihat berdimensi). Karya seni yang awalnya terlihat seperti kumpulan benda yang tidak jelas itu baru bisa dipahami bila dilihat dari sudut yang tepat. Salah satunya adalah karya sederet tiang vertikal yang disusun sedemikian rupa untuk menampilkan wajah seorang pemimpin terkenal. Karya seni lain terbuat dari kumpulan kabel kusut yang dibentuk menyerupai seekor gajah. Karya lainnya yang dibentuk dari ratusan titik hitam yang tergantung oleh kawat-kawat menjadi sebuah mata seorang wanita bila dilihat dengan benar. Kunci seni anamorphic ini adalah melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda hingga menemukan arti yang tepat.

Tak Pernah Merasa Cukup

Frank Borman pernah menjadi komandan misi pertama ke luar angkasa untuk mengelilingi bulan. Ia mengaku tidak terkesan pada apa yang dilihatnya. Perjalanan pulang-pergi itu membutuhkan waktu dua hari penuh. Frank sempat mabuk udara dan muntah. Ia berkata bahwa melayang-layang dalam kondisi gravitasi nol memang mengasyikkan—tetapi untuk tiga puluh detik saja. Sesudah itu biasa saja. Dari dekat, bulan terlihat tidak menarik dan permukaannya bopeng-bopeng karena penuh kawah. Awak pesawatnya mengambil foto-foto hamparan permukaan bulan, lalu menjadi bosan juga.

Tersesat

Karena tinggal dekat peternakan sapi, komedian Michael Yaconelli sempat memperhatikan bagaimana sapi cenderung berkelana ketika merumput. Seekor sapi akan terus bergerak untuk mencari “padang rumput yang lebih hijau”. Sapi tersebut bisa saja menemukan rumput segar di bawah keteduhan pohon pada pinggir tanah peternakan itu. Lalu, tepat di balik pagar yang sudah patah terdapat semak hijau yang terlihat enak. Sapi itu bisa berkelana lebih jauh melewati pagar dan sampai ke jalan. Begitu terus sampai akhirnya sapi itu tersesat.

Menepati Janji

Karena terbebani oleh janji yang sedang diucapkannya kepada LaShonne, Jonathan melakukannya dengan tergagap. Ia berpikir, Bagaimana aku bisa menjanjikan semua ini tetapi tidak yakin bisa menepatinya? Meski ibadah pemberkatannya berhasil dilewati dengan baik, ia masih digelisahkan oleh komitmennya. Seusai resepsi, Jonathan mengajak istrinya ke ruang kapel untuk berdoa—selama lebih dari dua jam—agar Allah menolongnya menepati janji untuk selalu mencintai dan menjaga LaShonne.

Gembok Cinta

Saya berdiri takjub melihat ratusan ribu gembok yang dicantolkan pada setiap bagian dari pagar jembatan Pont des Arts di Paris. Banyak di antaranya yang terukir dengan inisial nama pasangan kekasih. Jembatan penyeberangan di atas Sungai Seine itu dipenuhi dengan gembok tanda cinta yang menjadi deklarasi komitmen “abadi” setiap pasangan. Namun, pada tahun 2014, seluruh gembok yang terpasang diperkirakan memiliki berat total lima puluh ton, dan karena sempat menyebabkan sebagian jembatan runtuh, seluruh gembok itu akhirnya disingkirkan. 

Tidak Ada Dosa yang Terlalu Besar

“Setiap kali memegang Alkitab, tangan saya rasanya seperti terbakar,” kata seorang dosen Bahasa Inggris saya. Hati saya langsung ciut mendengarnya. Novel yang sedang kami baca pagi itu mencantumkan sebuah ayat Alkitab, dan waktu saya mengeluarkan Alkitab untuk mencari ayat itu, dosen saya melihat dan langsung berkomentar. Ia berpikir bahwa dosa-dosanya terlalu banyak untuk dapat diampuni. Namun, waktu itu saya tidak cukup berani untuk menceritakan tentang kasih Allah kepadanya—dan bahwa Alkitab memberi tahu bahwa kita selalu dapat meminta pengampunan dari Allah.

Kenangan akan Kasih Setia Allah

Ketika anak laki-laki saya yang sudah dewasa menghadapi situasi sulit, saya mengingatkannya tentang kasih dan pemeliharaan Allah ketika ayahnya sempat diberhentikan dari pekerjaannya. Saya menceritakan kembali masa-masa ketika Allah menguatkan keluarga kami dan memberi kami damai sejahtera ketika ibu saya berjuang dan akhirnya kalah melawan leukemia. Sambil menyoroti kisah-kisah kesetiaan Allah di dalam Alkitab, saya menegaskan bahwa Allah selalu menepati janji-Nya. Saya mengajak anak saya mengenang kembali bagaimana Allah menolong keluarga kami dan dapat diandalkan dalam suka maupun duka. Dalam keadaan apa pun, baik dalam pergumulan maupun sukacita, penyertaan, kasih, dan anugerah Allah terbukti cukup.