Hikmah dari Rasa Malu
Pengalaman saya yang paling memalukan terjadi ketika saya menyampaikan kata sambutan di hadapan para dosen, mahasiswa, dan sahabat dari suatu seminari pada perayaan hari jadinya yang kelima puluh. Saya maju ke mimbar sambil memegang naskah pidato dan memandang para hadirin, tetapi mata saya tertuju kepada para guru besar terhormat yang duduk di deretan depan dengan mengenakan toga dan terlihat sangat serius. Tiba-tiba saja saya merasa gugup. Mulut saya mendadak kering dan tak terhubung lagi dengan otak. Saya mengucapkan beberapa kalimat pertama dengan tergagap-gagap dan kemudian saya mulai berimprovisasi. Karena tidak tahu pidato saya sudah sampai di mana, dengan panik saya mulai membolak-balik catatan sambil berbicara sekenanya dan membuat bingung semua orang. Entah bagaimana akhirnya saya berhasil menyelesaikan pidato, kembali ke tempat duduk, lalu tertunduk memandangi lantai dengan perasaan malu yang luar biasa. Rasanya saya ingin mati saja saat itu.
Lihat ke Atas!
Ketika pembuat film Wylie Overstreet menunjukkan kepada orang-orang tayangan bulan secara langsung melalui teleskop dengan pembesaran yang tajam, mereka berbisik-bisik penuh kekaguman karena sangat takjub dapat melihat bulan dari dekat. Overstreet berkata bahwa pemandangan yang begitu menakjubkan itu “membuat hati kami diliputi kekaguman saat menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kami.”
Bersatu dalam Perpisahan
Ketika ditugaskan menangani sebuah proyek bersama rekan sekantornya, Tim, Alvin sangat bergumul. Hal itu karena masing-masing dari mereka memiliki ide yang sangat berbeda tentang cara mengerjakan proyek tersebut. Meski menghargai pendapat satu sama lain, gaya kerja mereka sangat berbeda sehingga konflik tampaknya takkan terhindarkan. Namun, sebelum konflik pecah, keduanya sepakat mendiskusikan perbedaan tersebut dengan atasan mereka, lalu mereka pun ditempatkan di tim kerja yang berbeda. Sungguh keputusan yang bijaksana. Hikmah yang diterima Alvin dari pengalaman tersebut adalah bahwa bersatu tidak selalu berarti melakukan sesuatu bersama-sama.
Keberagaman yang Indah
Sudah sejak lama London disebut-sebut sebagai salah satu kota paling kaya warna di dunia. Pada tahun 1933, jurnalis Glyn Roberts menulis tentang ibukota Inggris itu, “Menurut saya, keberadaan orang-orang dengan beragam warna kulit dan bahasa adalah hal terbaik dari kota London.” Keragaman masih terlihat hingga kini dengan berbaurnya beragam aroma, suara, dan pemandangan dari penduduk kota yang datang dari berbagai penjuru dunia. Indahnya keberagaman menjadi daya tarik salah satu kota terbesar di dunia itu.
Tidak Aji Mumpung
Ketika sejumlah narapidana sedang bekerja mengangkut sampah di pinggir jalan untuk mendapatkan pengurangan masa hukuman, pengawas mereka, James, mendadak pingsan. Mereka bergegas menghampiri James dan menyadari bahwa ia harus segera mendapatkan pertolongan medis. Salah seorang tahanan meminjam telepon James untuk meminta bantuan. Di kemudian hari, kepala rutan berterima kasih kepada para tahanan yang telah membantu pengawas mereka mendapatkan bantuan medis dengan segera, terutama karena mereka bisa saja tidak mempedulikan James—yang pasti akan membahayakan nyawanya karena terserang stroke—atau aji mumpung dengan memanfaatkan keadaan itu untuk melarikan diri.
Kebodohan Hidup Baru
Ada saja hal-hal yang terasa tidak masuk akal sampai kita mengalaminya sendiri. Saat sedang mengandung anak pertama, saya membaca sejumlah buku tentang persalinan dan mendengar cerita-cerita tentang pengalaman melahirkan dari banyak teman perempuan. Namun, saya tetap tidak dapat membayangkan seperti apa nanti pengalaman saya sendiri. Rasanya mustahil memikirkan apa yang akan terjadi dengan tubuh saya!
Sahabat dalam Kegagalan
Pada tanggal 27 November 1939, tiga pemburu harta karun yang ditemani oleh sekelompok kru film menggali jalan beraspal di depan amfiteater Hollywood Bowl di California Selatan. Mereka sedang mencari harta karun Cahuenga Pass berupa emas, berlian, dan mutiara yang menurut desas-desus telah dikubur di sana selama tujuh puluh lima tahun.
Telur-Telur Doa
Dari balik jendela dapur, saya melihat seekor burung robin sedang membangun sarangnya di bawah atap teras rumah kami. Saya senang melihat burung itu menganyam rerumputan supaya menjadi sarang yang aman lalu duduk mengerami telur-telurnya. Setiap pagi saya memeriksa perkembangannya, tetapi tidak melihat ada kemajuan yang berarti. Telur burung robin memang membutuhkan waktu dua minggu untuk menetas.
Pohon yang Subur
Saya hobi mengoleksi. Semasa kecil, saya mengoleksi prangko, kartu bisbol, dan buku komik. Sekarang, sebagai orangtua, saya melihat anak-anak saya juga memiliki ketertarikan yang sama. Terkadang saya bertanya-tanya, Benarkah anak saya butuh satu lagi boneka beruang? Bukannya sudah banyak?