Meremehkan Diri Sendiri
Pemuda itu menjadi kapten timnya. Klub olahraga profesional itu kini dipimpin oleh seorang anak muda yang masih hijau. Konferensi pers pertamanya berjalan kurang meyakinkan. Ia terkesan tunduk begitu saja kepada kemauan pelatih dan rekan-rekan satu timnya, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan klise seperti berjanji akan bermain sebaik mungkin. Timnya tampil buruk pada musim itu, dan di akhir musim, kapten muda itu pun dijual ke klub lain. Ia tidak memahami bahwa dirinya telah diberi otoritas untuk memimpin, atau mungkin ia sendiri tidak yakin mampu melakukannya.
Mata yang Tertuju kepada Kekekalan
Teman saya, Madeline, berdoa agar anak-cucunya memiliki “mata yang tertuju kepada kekekalan”. Keluarganya pernah mengalami pergumulan berat yang berakhir dengan kematian putrinya. Di tengah kedukaan berat yang mereka rasakan, Madeline berharap agar pandangan mereka tidak terbatas pada apa yang sedang dihadapi hingga tenggelam dalam kepedihan hidup di dunia ini. Ia rindu mereka memandang jauh ke depan dengan penuh pengharapan kepada Allah yang penuh kasih.
Seseorang dari Kelas Satu
Kelsey berjalan melewati lorong pesawat yang sempit sambil menggendong putrinya yang berusia sebelas bulan, Lucy, dan menjinjing mesin oksigen yang membantu pernapasan Lucy. Mereka menempuh perjalanan untuk mengobati penyakit paru-paru kronis yang diderita oleh sang bayi. Tak lama setelah duduk bersama di sebuah kursi, seorang pramugari menghampiri mereka dan berkata bahwa ada seorang penumpang kelas satu yang ingin bertukar kursi dengan Kelsey dan putrinya. Sambil menangis penuh syukur, Kelsey kembali berjalan melewati lorong pesawat menuju tempat duduk yang lebih besar, sementara penumpang yang baik hati tersebut pindah ke tempat duduknya.
Apakah Tuhan Menyertai?
Lela sedang berada di ambang kematian karena penyakit kanker, dan suaminya, Timothy, tidak mengerti mengapa Allah yang penuh kasih membiarkan istrinya menderita. Istrinya sudah lama melayani Tuhan sebagai guru Alkitab dan pembimbing bagi banyak orang. “Mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi?” serunya. Meski demikian, Timothy tetap setia beriman kepada Allah.
Hidup Berkelimpahan
Thomas Hobbes, seorang filsuf yang hidup di abad ke-17, pernah menulis bahwa hidup manusia dalam naturnya itu “sendirian, miskin, buruk, kasar, dan singkat.” Menurut Hobbes, insting manusia cenderung ingin berperang sebagai upaya meraih dominasi atas orang lain; karena itulah lembaga pemerintah dibentuk supaya hukum dan ketertiban terpelihara.
Berjalan Lurus
Dahulu, dibutuhkan mata yang tajam dan tangan yang kuat dari seorang petani untuk mengendarai traktor atau menuai ladang dalam lajur yang lurus. Meski demikian, mata yang paling tajam sekalipun dapat melenceng dari jalur, dan pada akhirnya tangan yang paling kuat sekalipun akan merasa kelelahan. Namun, sekarang ada pengendali kemudi otomatis—sebuah teknologi berbasis GPS (Sistem Penentu Posisi Global) yang memungkinkan traktor bergerak lurus dengan ketepatan hingga dua setengah sentimeter saat melakukan proses menanam, mengolah, dan menyemprot tanah. Sistem yang sangat efisien dan tidak lagi membutuhkan kendali tangan! Petani bisa duduk di dalam kabin traktor yang besar sambil bersantai karena ia tidak lagi perlu mencengkeram setir. Alat yang luar biasa itu menjaga kendaraan Anda untuk terus bergerak maju dengan lurus.
Menari bagi Tuhan
Beberapa tahun lalu, saya dan istri mengikuti kebaktian di sebuah gereja kecil. Di tengah ibadah, seorang wanita mulai menari di lorong ruang kebaktian. Tak lama kemudian beberapa jemaat lain ikut menari bersamanya. Saya dan istri berpandang-pandangan sambil memikirkan hal yang sama: “Kita tidak akan ikutan!” Kami datang dari latar belakang gereja yang beribadah dengan liturgi yang khidmat, sehingga jujur saja, bentuk penyembahan yang berbeda ini membuat kami kurang nyaman.
Berhala untuk Jaga-Jaga
Sam terbiasa memeriksa rekening tabungan hari tuanya dua kali sehari. Ia sudah menabung selama tiga puluh tahun, dan dengan naiknya harga saham, jumlah saldonya sudah cukup untuk membiayai kehidupannya setelah pensiun. Namun, Sam sering khawatir harga sahamnya anjlok sehingga ia merasa harus terus-menerus memeriksa jumlah uang dalam rekeningnya.
Membangun Kembali
Pada larut malam itu, sang pemimpin berangkat menunggang kuda untuk memeriksa pekerjaan yang masih harus dilakukan. Saat berkeliling, ia melihat tembok kota telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbang habis terbakar. Di beberapa tempat, puing-puing menumpuk tinggi hingga tidak dapat dilewati oleh kudanya. Karena sangat sedih, ia pun berbalik dan pulang.