Waktunya Berdoa . . . Lagi
Saya memarkirkan mobil di halaman rumah kami sambil melambaikan tangan kepada tetangga saya, Myriam, dan anak perempuannya yang masih kecil, Elizabeth. Selama beberapa tahun terakhir, Elizabeth sudah terbiasa menikmati obrolan santai kami berubah dari sesuatu yang “sebentar saja” menjadi waktu doa bersama. Elizabeth memanjat pohon yang ditanam di tengah halaman depan rumahnya, duduk di dahan sambil mengayun-ayunkan kaki, bermain sendiri sementara ibunya dan saya bercakap-cakap. Tak lama kemudian, Elizabeth melompat turun dari dahan pohon dan berlari menghampiri kami. Sambil menarik tangan kami berdua, Elizabeth tersenyum dan berkata dengan jenaka, “Ayo, waktunya berdoa . . . lagi.” Sekalipun masih kecil, Elizabeth seakan mengerti arti penting doa dalam hubungan pertemanan kami.
Kegagalan
Sejak kecil, Jackson bercita-cita menjadi anggota pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat. Ambisi itu membawanya menjalani tahun-tahun yang penuh disiplin fisik dan pengorbanan diri. Akhirnya ia pun menjalani berbagai tes yang menguji kekuatan dan daya tahannya, termasuk menjalani apa yang dijuluki para pesertanya sebagai “minggu neraka”.
Perjumpaan Kembali
Dengan penuh semangat, anak kecil itu membuka kertas yang membungkus kado besar hadiah dari ayahnya, seorang tentara yang diyakininya tidak akan pulang ke rumah untuk merayakan ulang tahunnya. Dalam kotak tersebut ia menemukan sebuah kotak lain yang juga terbungkus kertas kado, dan di dalam kotak yang kedua itu, ada lagi kotak lain yang hanya berisi secarik kertas bertuliskan, “Kejutan!” Kebingungan, anak itu mendongak—tepat pada saat ayahnya memasuki ruangan. Anak itu langsung melompat dan berlari ke pelukan ayahnya, sambil berseru, “Ayah, aku kangen!” dan “Aku sayang Ayah!”
Potret Keputusasaan
Pada masa Depresi Besar di Amerika Serikat, fotografer terkenal Dorothea Lange menjepret foto Florence Owens Thompson dan anak-anaknya. Foto terkenal yang diberi judul Migrant Mother itu menjadi potret keputusasaan seorang ibu setelah ladang kacang polongnya mengalami gagal panen. Lange mengambil foto itu di Nipomo, California dalam penugasan dari Dinas Perlindungan Pertanian dengan maksud agar para pejabat kementerian menyadari kebutuhan para buruh tani musiman yang sangat mendesak.
Camar Bernama Chirpy
Setiap hari selama dua belas tahun, seekor burung camar bernama Chirpy selalu mengunjungi seorang pria yang pernah membantu menyembuhkan kakinya yang patah. Ketika itu, John Sumner, nama pria itu, membujuk Chirpy agar mau datang kepadanya dengan memberinya biskuit anjing dan kemudian merawatnya sampai sembuh. Meskipun Chirpy hanya berdiam di Pantai Instow di Devon, Inggris, antara bulan September dan Maret, ia dengan mudah menemukan John—Chirpy langsung terbang menghampiri John setiap kali ia datang ke pantai dan tidak mendekati yang lain. Sungguh sebuah hubungan yang tidak lazim.
Alasan Lambat Bertindak
Dalam tayangan serial televisi BBC berjudul The Life of Mammals, pembawa acara David Attenborough memanjat pohon untuk melihat hewan kungkang tiga jari. Berhadap-hadapan langsung dengan mamalia yang paling lambat gerakannya di dunia itu, David menyapanya dengan berseru: “Ciluk-ba!” Setelah tidak mendapat reaksi apa pun dari hewan tersebut, David lantas menjelaskan bahwa gerakan kungkang yang lambat itu bukanlah tanpa alasan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena makanan pokok kungkang adalah daun-daunan yang sulit dicerna dengan kandungan nutrisi yang rendah.
Senang Membaca
Tsundoku. Kata yang pas untuk saya! Istilah dalam bahasa Jepang tersebut berarti tumpukan buku di meja samping tempat tidur yang menunggu untuk dibaca. Buku memang berpotensi memberikan pengetahuan atau pelarian diri ke waktu atau tempat yang berbeda, dan saya merindukan kesenangan dan wawasan yang dapat ditemukan di dalam halaman-halamannya. Karena itulah saya menyimpan setumpuk buku di sisi tempat tidur saya.
Sukacita Menantikan Hukuman Mati
Pada tahun 1985, Anthony Ray Hinton didakwa membunuh dua orang manajer restoran. Ia sebenarnya dijebak, karena ketika pembunuhan itu terjadi ia sedang berada di tempat yang sangat jauh dari TKP. Namun, Ray tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Dalam persidangan, Ray mengampuni orang-orang yang memfitnahnya, dan mengatakan bahwa ia tetap memiliki sukacita meski diperlakukan tidak adil. “Setelah mati, saya akan pergi ke surga,” katanya. “Kalian sendiri akan pergi ke mana?”
Bahkan Sebelum Engkau Meminta
Teman saya Robert dan Colleen sudah menikah selama puluhan tahun dan menikmati pernikahan yang bahagia. Saya senang melihat cara mereka berinteraksi. Saat makan malam, yang satu akan mengulurkan mentega kepada pasangannya sebelum diminta. Lalu, yang lain mengisi ulang gelas minuman di saat yang tepat. Saat menceritakan kisah hidup mereka, keduanya saling menimpali dengan lancar. Terkadang mereka seperti bisa membaca pikiran satu sama lain.