Kita Ini Debu
Seorang ayah muda terlihat mulai kehilangan kesabarannya. “Es krim! Es krim!” jerit anak balitanya. Kegaduhan di tengah mal yang ramai itu mulai menarik perhatian pengunjung lain di sekitarnya. “Ya nanti, kita cari keperluan Mama dulu ya, oke?” bujuk sang ayah. “Tidaaaak! Es krim!” Kemudian seseorang menghampiri mereka: wanita bertubuh mungil, berpakaian bagus dengan sepatu yang serasi dengan tas tangannya. “Ia sedang meluapkan emosi,” si ayah menjelaskan. Wanita itu tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya, emosilah yang menguasai anak Anda. Jangan lupa, ia masih kecil. Yang ia butuhkan adalah Anda tetap sabar dan berada di dekatnya.” Situasi tersebut tidak serta-merta berhasil diatasi, tetapi kehadiran wanita itu menjadi semacam jeda yang dibutuhkan oleh si ayah dan anaknya saat itu.
Sebarkan Kemasyhuran-Nya
Biasanya kita dapat mengetahui dari mana sebuah peta digambar dengan melihat apa yang terletak di tengah-tengah peta tersebut. Kita cenderung berpikir bahwa rumah kita adalah pusat segalanya, maka kita meletakkan titik di tengah dan mulai membuat sketsanya dari titik itu. Kota-kota yang terdekat mungkin berjarak delapan puluh kilometer ke utara atau setengah hari perjalanan ke arah selatan, tetapi semua itu dijelaskan dalam hubungannya dengan lokasi kita. Kitab Mazmur juga menggambar “peta” mereka dari tempat kediaman Allah di bumi dalam Perjanjian Lama, sehingga pusat geografis dalam Alkitab adalah Yerusalem.
Apakah Ini Penting?
Saya tertunduk lunglai dan menghela napas, “Entah bagaimana aku bisa menyelesaikan semua ini.” Suara teman saya terdengar di ujung telepon: “Beri apresiasi untuk dirimu sendiri. Sudah banyak yang kaulakukan.” Kemudian ia menyebutkan hal-hal yang telah saya coba lakukan—menjaga gaya hidup sehat, bekerja, mengambil kuliah pascasarjana, menulis, dan menghadiri kelas pendalaman Alkitab. Saya ingin melakukan semuanya itu untuk Allah, tetapi sebaliknya saya lebih berfokus pada apa yang saya lakukan daripada cara saya melakukannya—atau mungkin saja ada terlalu banyak hal yang coba saya lakukan sehingga saya pun kewalahan.
Ratapan Mercy
Ayah Mercy menganggap dirinya sakit karena diguna-guna, padahal sebenarnya ia menderita AIDS. Waktu ia meninggal, Mercy yang berumur 10 tahun menjadi semakin dekat dengan ibunya. Namun, ibunya juga jatuh sakit dan meninggal tiga tahun kemudian. Sejak saat itu, kakak Mercy yang mengurus kelima saudaranya. Mercy pun mulai menulis jurnal tentang hidupnya yang penuh kepedihan.
Tetap di Jalur yang Benar
Pelari buta tercepat dunia, David Brown dari Tim Paralimpik AS, mengakui bahwa prestasinya merupakan buah pertolongan Tuhan, nasihat ibunya di masa lalu (yang suka berkata “jangan berpangku tangan”) dan gemblengan pelatih larinya—mantan pelari cepat Jerome Avery. Avery yang terhubung dengan Brown lewat seutas tali yang mengikat jari-jari mereka telah menuntun Brown kepada kemenangan lewat kata-kata dan sentuhan yang diberikannya.
Kasih Seluas Kasih Allah
Saya pernah mengunjungi pemukiman kumuh di Santo Domingo, Republik Dominika. Rumah-rumah di sana terbuat dari seng, dengan kabel listrik bergelantungan di atasnya. Di sana saya berkesempatan mewawancarai sejumlah keluarga dan mendengar bagaimana gereja-gereja membantu mereka mengatasi masalah pengangguran, narkoba, dan kejahatan.
Api Kudus
Setelah bertahun-tahun mengalami kekeringan, kebakaran hutan di California Selatan membuat sebagian warga merasa kejadian tersebut merupakan perbuatan Allah. Kesan menakutkan itu semakin menjadi-jadi ketika sumber berita mulai menyebut kebakaran tersebut dengan istilah “Holy Fire” atau Api (Kebakaran) Kudus. Banyak pihak yang tidak mengenal daerah itu tidak tahu bahwa sebutan tersebut sebenarnya mengacu pada nama daerah terdampak yang bernama Lembah Holy Jim. Namun, siapakah Holy Jim? Menurut legenda setempat, ia adalah seorang peternak lebah dari abad ke-19 yang tidak peduli pada agama dan suka marah-marah, sehingga tetangga-tetangganya justru memberinya julukan ironis tersebut.
Saatnya Memakai Hiasan Kepala
Pada suatu pagi di bulan Januari, saya bangun tidur dan berharap bakal melihat pemandangan suram pertengahan musim dingin seperti yang sudah terjadi berminggu-minggu: rumput coklat menyembul di sela petak-petak salju, langit kelabu, dan pohon-pohon meranggas. Namun, ada yang tidak biasa terjadi malam sebelumnya. Embun beku menyelimuti semuanya dengan kristal es. Pemandangan muram telah menjadi panorama indah yang berkilauan oleh pantulan cahaya matahari pagi, sehingga saya pun dibuat takjub.
Perhatian Penuh
Dewasa ini, teknologi seakan terus-menerus menuntut perhatian kita. Internet sebagai “keajaiban” modern memberikan kapasitas luar biasa bagi kita untuk mengakses berbagai hal yang ada di dunia ini dengan ujung jari kita. Namun, bagi banyak orang, akses terus-menerus semacam itu bukanlah tanpa risiko.