Lenyap Tak Berbekas
Banksy, seniman yang terkenal karena kejahilannya, berhasil melakukan aksi yang mengejutkan. Lukisannya yang berjudul Gadis dengan Balon laku terjual seharga satu juta pound di rumah lelang Sotheby di London. Beberapa saat setelah juru lelang berteriak “Terjual,” sebuah alarm berbunyi dan lukisan itu bergerak turun dan melewati mesin penghancur dokumen yang terpasang di bagian bawah bingkai. Banksy mengunggah foto para peserta lelang yang menatap mahakaryanya yang kini hancur itu di akun media sosialnya, disertai keterangan, “Going, going, gone” (Musnah, lenyap, tak berbekas).
Meneguhkan Lutut yang Goyah
Waktu masih kecil, saya mendengar lagu berjudul “He Looked Beyond My Fault and Saw My Need” (Dia Tidak Lagi Melihat Kesalahanku tetapi Melihat Kebutuhanku) karangan Dottie Rambo pada tahun 1967, dan salah mengartikannya menjadi “He Looked Beyond My Fault and Saw My Knee” (Dia Tidak Lagi Melihat Kesalahanku tetapi Melihat Lututku). Dengan logika kanak-kanak, saya bertanya-tanya untuk apa Tuhan melihat lutut orang. Apakah karena lutut itu goyah? Saya tahu bahwa istilah “lutut yang goyah” berarti “takut.” Saya kemudian memahami bahwa ternyata Dottie menulis lagu tentang kasih Allah yang tak bersyarat itu sebagai respons terhadap pendapat kakak lelakinya, Eddie, yang mengira ia tidak pantas dikasihi karena banyaknya kesalahan yang sudah diperbuatnya. Dottie meyakinkan kakaknya bahwa Allah melihat kelemahannya tetapi masih mengasihinya.
Hidup dalam Segala Kelimpahan
Saat itu tahun 1918, menjelang akhir Perang Dunia ke-1, dan fotografer Eric Enstrom sedang menyusun portofolio karyanya. Ia ingin memasukkan sebuah karya yang menggambarkan kelimpahan di masa yang terasa hampa bagi banyak orang. Ia berhasil menemukan foto yang kini disukai banyak orang tentang seorang lelaki tua berjanggut duduk di sebuah meja dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat dalam posisi berdoa. Di hadapannya ada sejilid buku, kacamata, semangkuk bubur, sepotong roti, dan sebilah pisau. Tidak lebih, tetapi juga tidak kurang.
Bejana Tanah Liat Antik
Selama bertahun-tahun, saya mengoleksi beberapa bejana tanah liat antik. Yang paling saya sukai adalah bejana yang ditemukan pada sebuah situs yang berasal dari zaman Abraham. Penampakan bejana itu sendiri tidak begitu elok dilihat: kotor, retak-retak, gompal di sana-sini, dan perlu menggosoknya keras-keras agar kembali cemerlang. Saya menyimpannya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya hanyalah manusia biasa yang terbuat dari tanah. Meskipun rapuh dan lemah, saya membawa harta yang tak ternilai harganya—Yesus. “Harta ini [Yesus] kami punyai dalam bejana tanah liat” (2Kor 4:7).
Bangku Persahabatan
Di Zimbabwe, Afrika, trauma akibat perang dan tingginya angka pengangguran membuat banyak orang putus asa—sampai kemudian mereka menemukan pengharapan ketika duduk di sebuah “bangku persahabatan”. Mereka yang putus asa boleh duduk di bangku itu dan berbicara dengan para “nenek” yang sudah dilatih untuk mendengarkan orang-orang yang sedang bergumul dengan depresi, suatu kondisi yang dalam bahasa Shona—bahasa ibu bangsa itu—disebut sebagai kufungisisa, atau “berpikir terlalu jauh.”
Membawa Anak kepada Allah
Seorang tokoh ateis secara terus terang meyakini bahwa orangtua yang mengajarkan agama kepada anak-anaknya seolah-olah agama itu benar merupakan tindakan yang tak bermoral. Ia bahkan berpendapat bahwa orangtua seperti itu telah melanggar hak asasi sang anak. Meski pendapat tersebut terdengar ekstrem, saya pernah mendengar sendiri bagaimana sejumlah orangtua ragu untuk terang-terangan mendorong anak-anak mereka mempercayai iman Kristen. Meski sebagian besar dari kita tidak ragu-ragu mempengaruhi anak-anak kita dengan pandangan kita soal politik, gizi, atau olahraga, tetapi entah mengapa sebagian dari kita tidak yakin soal meneruskan keyakinan iman kepada anak-anak.
Misteri Terbesar
Sebelum saya percaya kepada Tuhan Yesus, saya sudah pernah mendengar Injil diberitakan. Namun, saya merasa sulit memahami identitas-Nya. Bagaimana mungkin Yesus dapat mengampuni dosa-dosa saya sementara Alkitab mengatakan hanya Allah yang dapat mengampuni dosa? Ternyata saya tidak sendirian dalam pergumulan tersebut. Setelah membaca Knowing God, penulisnya J. I. Packer menyatakan bahwa bagi banyak orang yang belum percaya, “klaim iman Kristen yang paling mengguncangkan adalah bahwa Yesus orang Nazaret itu Allah yang menjadi manusia . . . Dia sungguh-sungguh dan sepenuhnya Allah, sekaligus sungguh-sungguh dan sepenuhnya manusia.” Namun, kebenaran itulah yang memungkinkan tercapainya karya keselamatan.
Tidak Perlu Antre
Terkadang saat anjing Labrador retriever saya butuh perhatian, ia mengambil barang milik saya dan berjalan mondar-mandir memamerkannya di depan saya. Suatu pagi ketika saya sedang menulis di meja kerja sambil membelakanginya, Max mengambil dompet saya dan kabur. Ketika ia sadar kalau saya tidak memperhatikan kelakuannya, ia kembali dan menyundul-nyundulkan moncongnya ke badan saya, sambil menggigit dompet dengan mata berbinar-binar, ekor dikibas-kibaskan, supaya saya ikut bermain dengannya.
Penantian Panjang
Pada musim gugur, ketika kura-kura berwarna mulai merasakan datangnya musim dingin, ia pun menyelam ke dasar telaga, mengubur dirinya dalam kotoran dan lumpur. Ia masuk ke dalam cangkangnya dan berdiam diri: denyut jantungnya melambat, nyaris berhenti. Suhu tubuhnya turun, hingga bertahan di atas titik beku. Ia berhenti bernafas, dan menunggu. Selama enam bulan, ia tetap terkubur, dan tubuhnya mengeluarkan kalsium dari tulang-tulangnya masuk ke aliran darah, sehingga perlahan-lahan tubuhnya mulai kehilangan bentuk.