Category  |  Santapan Rohani

Menunjukkan Kasih Karunia

“Ketika peristiwa tragis atau menyakitkan terjadi, terbuka kesempatan untuk menunjukkan kasih karunia atau sebaliknya, menuntut pembalasan,” kata seseorang yang baru saja berduka. “Saya memilih menunjukkan kasih karunia.” Istri pendeta Erik Fitzgerald tewas dalam kecelakaan mobil akibat seorang petugas pemadam kebakaran yang kelelahan tertidur saat mengemudikan mobilnya pulang. Jaksa penuntut umum bertanya apakah Erik ingin menuntut masa hukuman maksimal bagi pengemudi yang lalai itu. Namun, sang pendeta memilih memberikan pengampunan, sesuatu yang sudah sering ia khotbahkan. Erik dan pelaku itu bahkan kemudian berteman baik.

Ke Mana Anda Menuju?

Di wilayah utara Thailand, tim sepak bola junior bernama “Wild Boars” memutuskan pergi menjelajahi sebuah gua bersama-sama. Mereka berniat pulang setelah menjelajah selama satu jam, tetapi menemukan bahwa mulut gua sudah terendam air. Hari demi hari, air yang masuk ke gua semakin tinggi sehingga mereka terpaksa masuk lebih jauh lagi, sampai akhirnya mereka terjebak sejauh 4 km di dalam gua. Ketika akhirnya mereka berhasil diselamatkan dua minggu kemudian, banyak orang bertanya-tanya bagaimana mereka bisa terjebak sedalam itu. Jawabannya: selangkah demi selangkah.

Bejana yang Bersih

“Kebencian merusak bejana yang mewadahinya.” Demikianlah ucapan Senator Alan Simpson dalam upacara pemakaman George H. W. Bush, presiden AS ke-41. Simpson mengingat bagaimana sahabatnya itu lebih mengedepankan rasa humor dan kasih daripada memelihara kebencian, baik dalam perannya sebagai pemimpin maupun dalam hubungan pribadi dengan orang lain.

Ketika Allah Campur Tangan

Dalam puisi berjudul “This Child is Beloved”, Omawumi Efueye bercerita tentang upaya kedua orang tuanya menggugurkan dirinya ketika ia masih berada dalam kandungan. Setelah serangkaian peristiwa luar biasa membuat upaya itu gagal, kedua orangtuanya pun memutuskan menerima kehadiran si bayi. Kesadaran Omawumi akan pemeliharaan Allah atas hidupnya memotivasi dirinya untuk melayani Tuhan sepenuh waktu dan meninggalkan karirnya yang cemerlang. Saat ini, Omawumi melayani dengan setia sebagai gembala di sebuah gereja di London.

Menolak Balas Dendam

Setelah Jim Elliot dan empat misionaris lain dibunuh oleh suku Huaorani pada tahun 1956, tidak ada yang menyangka apa yang terjadi selanjutnya. Istri Jim, Elisabeth, dan anak perempuan mereka yang masih kecil, serta saudara perempuan salah seorang misionaris tersebut memilih tinggal dan menetap di tengah-tengah warga yang sudah membunuh orang-orang yang mereka kasihi. Selama beberapa tahun, mereka menjadi bagian masyarakat Huaorani, mempelajari bahasa mereka, dan menerjemahkan Alkitab untuk mereka. Teladan pengampunan dan kebaikan hati para wanita itu membuat kaum Huaorani meyakini kasih Allah bagi mereka dan akhirnya banyak di antara mereka yang mau menerima Yesus sebagai Juruselamat.

Pemburu Badai

“Memburu tornado,” ujar Warren Faidley, “sering kali terasa seperti permainan catur tiga dimensi raksasa yang dimainkan di bidang yang luasnya ribuan kilometer persegi.” Wartawan foto dan pemburu badai itu menambahkan: “Berada di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, merupakan perpaduan dari ramalan cuaca dan navigasi, sementara kita berusaha menghindari hantaman segala macam benda, mulai dari butiran hujan es sebesar bola sofbol, badai debu, dan perangkat pertanian yang beterbangan.”

Bawalah yang Anda Punya

“Sup Batu” adalah sebuah dongeng lama dengan beragam versi yang bercerita tentang orang kelaparan yang datang ke sebuah desa, tetapi tidak ada yang bisa menyisihkan secuil pun makanan untuknya. Lalu, orang yang kelaparan itu memasukkan sebongkah batu ke dalam panci berisi air dan memasaknya. Karena penasaran, para penduduk desa memperhatikan orang itu mengaduk “sup” yang dimasaknya. Akhirnya, datang seseorang membawa dua butir kentang untuk ditambahkan ke dalam sup, lalu orang yang lain membawa beberapa batang wortel. Seorang lagi menambahkan sebutir bawang bombai, dan yang lain memasukkan segenggam jelai. Seorang petani menyumbangkan susu. Akhirnya, “sup batu” itu menjadi sup kental yang lezat.

Hiduplah oleh Roh

Sepuluh ribu jam. Menurut penulis Malcolm Gladwell, jumlah waktu itulah yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi terampil dalam keahlian yang ditekuninya. Bahkan bagi seniman dan musisi terhebat sepanjang masa sekalipun, bakat bawaan mereka yang luar biasa belum cukup untuk mencapai tingkat keahlian yang akhirnya mereka capai. Mereka harus menekuni keahlian mereka setiap hari dengan sungguh-sungguh.

Menyediakan Waktu untuk Tuhan

Banyak perubahan terjadi sejak jam elektrik ditemukan di tahun 1840-an. Sekarang kita mencari tahu waktu lewat arloji pintar, ponsel, dan laptop. Hidup berjalan seakan lebih cepat—bahkan jalan “santai” kita pun bertambah cepat. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dan, menurut para ahli, berpotensi memberi dampak buruk pada kesehatan kita. “Kita bergerak cepat dan semakin cepat, dan berusaha menghubungi orang secepat mungkin,” kata Profesor Richard Wiseman. “Kita terdorong untuk berpikir bahwa segala sesuatu harus terjadi sekarang juga.”