Sisi Lain Kasih
Penginapan Romawi pada zaman Kristus memiliki reputasi yang sangat buruk sehingga para rabi Yahudi pun tidak mengizinkan ternak mereka dititip di sana. Kondisi yang begitu sulit membuat orang-orang Kristen yang bepergian biasanya mencari tumpangan dari saudara-saudari seiman mereka.
Masihkah Ada Harapan?
Edward Payson (1783–1827) pernah menjalani hidup yang sangat sulit. Kematian adik laki-lakinya membuatnya sangat terguncang. Ia bergumul dengan gangguan bipolar dan kerap didera sakit kepala migren yang parah selama berhari-hari. Tidak hanya itu, ia pernah jatuh dari kuda dan melumpuhkan tangannya, serta hampir mati karena tuberkulosa! Yang mengherankan, semua itu tidak membuatnya putus asa atau patah semangat. Teman-temannya mengatakan bahwa sebelum Edward meninggal dunia, sukacitanya justru begitu besar. Bagaimana mungkin?
Dibentuk dengan Saksama
Dalam sebuah video YouTube, Alan Glustoff, seorang petani keju di Goshen, New York, menjelaskan cara memfermentasi keju, suatu proses yang dilakukan untuk memberi rasa dan tekstur pada keju. Sebelum dapat dijual ke pasar, setiap blok keju disimpan dalam sebuah rak di gua bawah tanah selama enam hingga dua belas bulan. Dalam lingkungan yang lembab ini, keju tersebut diawasi dengan saksama. “Kami berusaha sedapat mungkin memberikan bagi keju itu lingkungan yang tepat untuk berkembang. . . [dan] mencapai potensinya yang paling maksimal,” jelas Glustoff.
Bahan Berbahaya
Suara sirene meraung-raung semakin keras saat sebuah mobil gawat darurat menyalip mobil saya. Terang lampu sirenenya yang berpendar menembus kaca depan mobil saya dan menerangi tulisan “Awas, bahan berbahaya” pada badan mobil itu. Belakangan saya baru tahu kalau truk tersebut sedang mengebut menuju sebuah laboratorium sains karena asam sulfat seberat 400 galon yang diangkutnya mulai bocor. Para petugas harus segera menampung zat tersebut karena kemampuannya merusak apa pun yang bersentuhan dengannya.
Ucapan Terima Kasih yang Tulus
Untuk mempersiapkan Xavier, putra kami, menghadapi wawancara kerja pertamanya, Alan, suami saya, memberikan setumpuk kartu ucapan terima kasih untuk dikirimkan kepada calon pemberi kerja setelah selesai wawancara. Suami saya lalu berpura-pura menjadi pewawancara dan mengajukan berbagai pertanyaan kepada Xavier. Selesai latihan, Xavier memasukkan beberapa lembar surat lamarannya ke dalam map. Ia tersenyum ketika Alan mengingatkannya tentang kartu ucapan itu. “Aku tahu, Ayah,” katanya. “Ucapan terima kasih yang tulus akan membuatku terlihat berbeda dari pelamar-pelamar yang lain.”
Menggenggam Terlalu Erat
Dalam fabel kuno The Boy and the Filberts (Nuts), seorang bocah laki-laki memasukkan tangannya ke dalam stoples berisi kacang dan meraup segenggam penuh isinya. Namun, tangannya terlalu penuh sehingga tersangkut di mulut stoples. Karena tidak rela kehilangan sebutir kacang pun, bocah itu mulai menangis. Pada akhirnya, ia dinasihati untuk membuka genggamannya dan melepaskan sebagian kacang supaya tangannya dapat keluar dari stoples. Memang, ketamakan dapat memberikan pelajaran yang pahit kepada kita.
Dia Memegang Kita
Pendeta Watson Jones teringat saat dahulu ia belajar naik sepeda. Sang ayah berjalan di sampingnya ketika Watson melihat ada sejumlah teman perempuan duduk di teras. Karena gengsi, ia berseru, “Ayah, aku sudah bisa sendiri!”, padahal kenyataannya tidak. Ia baru menyadari bahwa ia belum belajar menyeimbangkan dirinya di atas sepeda tanpa dipegang ayahnya. Ternyata ia belum sedewasa yang ia kira.
Harta Istimewa Allah
Bayangkan sebuah ruang singgasana yang megah dan luas. Seorang raja agung duduk di takhtanya. Ia dikelilingi oleh banyak pelayan, masing-masing menunjukkan sikap yang terbaik. Sekarang, bayangkan ada sebuah peti yang diletakkan di dekat kaki sang raja. Dari waktu ke waktu, raja memasukkan tangannya ke dalam peti itu dan memegang-megang isinya. Apa yang ada di dalam peti tersebut? Perhiasan, emas, dan batu permata kesukaan raja. Peti itu menyimpan harta sang raja, suatu koleksi yang mendatangkan kebahagiaan baginya. Dapatkah Anda membayangkannya?
Berbicara Tentang Allah
Penelitian Barna Group di tahun 2018 mendapati bahwa sebagian besar orang Amerika tidak suka berbicara tentang Tuhan. Hanya tujuh persen yang membicarakan hal-hal rohani secara teratur—dan ini tidak jauh berbeda di antara orang percaya. Hanya tiga belas persen dari jemaat yang rutin beribadah yang mengatakan bahwa mereka membicarakan hal-hal rohani setidaknya satu kali dalam seminggu.