Category  |  Santapan Rohani

Baja dan Beludru

Penyair Carl Sandburg menulis tentang mantan presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, “Dalam sejarah umat manusia, tidak sering kita bertemu seorang manusia yang terbuat dari baja dan beludru, . . . yang menampilkan dalam hati dan pikirannya suatu paradoks antara badai yang mengamuk dan keteduhan yang sempurna.” “Baja dan beludru” menjadi gambaran bagaimana Lincoln berhasil menyeimbangkan kekuasaan dari jabatannya dengan kepeduliannya terhadap orang-orang yang merindukan kebebasan dari perbudakan.

Saat Kita Memuji

Ketika Willie, yang masih berusia sembilan tahun, diculik dari halaman depan rumahnya di tahun 2014, ia tak henti-hentinya menyanyikan lagu rohani favoritnya Every Praise. Selama tiga jam yang mengkhawatirkan itu, Willie mengabaikan perintah si penculik yang berulang-ulang memintanya diam di dalam mobil yang terus melaju. Akhirnya, si penculik membiarkan Willie turun dari mobil tanpa melukainya. Willie kemudian menceritakan bagaimana ia merasa ketakutannya hilang dan berganti dengan keyakinan, tetapi penculiknya justru merasa gelisah mendengar lagu yang dinyanyikannya.

Kebenaran itu Pahit atau Manis?

Di hidung saya sempat muncul bintik dan saya membiarkannya selama beberapa waktu sebelum akhirnya memeriksakannya ke dokter. Hasil biopsi yang diterima beberapa hari kemudian memberikan kesimpulan yang tidak ingin saya dengar: kanker kulit. Meskipun kanker itu bisa diangkat dan tidak mematikan, tetap saja kenyataan itu bagaikan pil pahit yang harus ditelan.

Menjalani Hidup dengan Tenang

“Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?” Kita semua pernah ditanya seperti itu sewaktu kecil, bahkan terkadang saat sudah dewasa. Pertanyaan itu terlontar karena rasa ingin tahu, dan jawaban yang diberikan sering kali bisa menjadi indikasi dari ambisi. Jawaban saya berubah-ubah, dari ingin menjadi koboi, sopir truk, tentara, hingga memutuskan untuk belajar menjadi dokter di perguruan tinggi. Meski demikian, tidak pernah satu kali pun saya ingat ada yang menyarankan, atau saya secara sadar mempertimbangkan, untuk berusaha “hidup dengan tenang.”

Berdoa di Tumpukan Jerami

Samuel Mills dan empat orang temannya sering berkumpul untuk berdoa bersama, memohon agar Allah mengirimkan lebih banyak orang untuk membagikan kabar baik tentang Yesus. Suatu hari di tahun 1806, setelah kembali dari persekutuan doa, mereka terjebak dalam badai petir dan berlindung di dalam setumpuk jerami. Di kemudian hari, pertemuan doa mingguan mereka dikenal sebagai Persekutuan Doa Haystack (Tumpukan Jerami), dan dari sana lahir sebuah gerakan misi ke seluruh dunia. Saat ini, Monumen Doa Haystack berdiri di Williams College di Amerika Serikat sebagai peringatan atas apa yang sanggup Allah lakukan melalui doa.

Dikuatkan Oleh Pujian

Ketika penduduk sebuah kota kecil di Prancis menolong para pengungsi Yahudi bersembunyi dari Nazi selama Perang Dunia II, beberapa orang bernyanyi di tengah hutan lebat yang mengelilingi kota supaya para pengungsi tahu bahwa situasi sudah aman bagi mereka untuk keluar dari tempat persembunyian. Penduduk kota Le Chambon-sur-Lignon yang berani itu menjawab ajakan seorang pendeta setempat bernama André Trocmé dan istrinya, Magda, untuk memberikan perlindungan semasa perang bagi kaum Yahudi di dataran tinggi berangin kencang yang dikenal sebagai “La Montagne Protestante”. Nyanyian isyarat itu hanyalah satu dari sekian banyak tindakan warga kota yang berani menyelamatkan hingga tiga ribu orang Yahudi dari kematian yang hampir tak terelakkan.

Layak Dinantikan

Di luar stasiun kereta Shibuya di Tokyo terdapat sebuah patung anjing jenis Akita bernama Hachiko. Hachiko dikenang karena kesetiaannya yang luar biasa kepada sang tuan, seorang pengajar di universitas yang berangkat dan pulang kerja melalui stasiun tersebut setiap harinya. Anjing itu menemani sang dosen berjalan ke stasiun di pagi hari dan menjemputnya setiap sore ketika keretanya tiba.

Cantumkan Nama Anda

Dalam buku Love Letters from God, Glenys Nellist mengajak anak-anak untuk berinteraksi secara pribadi dengan Tuhan. Dalam buku itu terdapat sebuah catatan dari Tuhan dengan kolom kosong untuk mencantumkan nama anak di akhir setiap cerita Alkitab. Menerima kebenaran Alkitab sebagai milik pribadi seperti itu menolong anak-anak memahami bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku cerita. Mereka belajar bahwa Tuhan ingin berhubungan secara pribadi dengan mereka dan Dia berbicara kepada anak-anak yang dikasihi-Nya melalui Kitab Suci.

Pelaku Utama

Saya pernah mendengar cerita tentang seorang mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah berkhotbah di sebuah seminari terkemuka. Anak muda itu, dengan gaya yang terlalu percaya diri, menyampaikan khotbahnya dengan fasih dan penuh semangat. Selesai berkhotbah, ia duduk dengan perasaan puas. Dosennya terdiam sejenak, lalu memberikan tanggapannya: “Khotbahmu sangat baik dan pesannya sangat kuat. Strukturnya tertata rapi dan isinya menyentuh hati. Persoalannya, Allah tidak pernah menjadi subjek utama dalam satu kalimat pun.”