Category  |  Santapan Rohani

Pembawa Pesan

“Ada pesan untukmu!” seru seorang wanita yang bekerja di konferensi yang saya hadiri, seraya menyerahkan secarik kertas untuk saya baca. Saya tak tahu apakah harus gugup atau gembira. Namun, ketika membaca, “Keponakanmu sudah lahir!” saya pun langsung bersukacita.

Segala Sesuatunya Baru

Saya sangat suka pergi ke tempat penjualan barang bekas. Karena suka mengutak-atik mobil, saya sering pergi ke salah satu tempat seperti itu yang tak jauh dari rumah. Tempat itu sepi, hanya angin yang berhembus di antara rongsokan mobil yang dahulu pernah menjadi kesayangan seseorang. Ada yang bekas kecelakaan, rusak, maupun usang. Saat berjalan di antara deretan kendaraan itu, terkadang ada mobil yang menarik perhatian dan membuat saya membayangkan petualangan apa saja yang pernah dilalui mobil itu selama “masa hidupnya.” Bagaikan sebuah portal ke masa lalu, masing-masing mobil mempunyai kisahnya sendiri—tentang manusia yang selalu mendambakan keluaran terbaru dan kendaraan yang lama-kelamaan usang dimakan waktu.

Saat Allah Berkata “Tidak”

Ketika masuk wajib militer pada usia delapan belas tahun, sebagaimana diwajibkan atas semua pemuda Singapura, saya sungguh berdoa agar mendapat penempatan yang mudah, seperti posisi administrasi atau sopir. Karena fisik yang tidak terlalu kuat, saya ingin terhindar dari kerasnya latihan tempur. Namun, suatu malam sewaktu membaca Alkitab, ada satu ayat yang menarik perhatian saya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. . . ” (2kor. 12:9).

Hari Selamat Tinggal

Sejak 2006, sekelompok orang merayakan tradisi unik pada Tahun Baru yang disebut Hari Selamat Tinggal. Dalam perayaan yang didasarkan pada tradisi dari Amerika Latin itu, orang menuliskan kenangan buruk, peristiwa memalukan, dan hal-hal negatif lainnya dari tahun yang akan berlalu, kemudian melemparnya ke mesin penghancur kertas yang besar. Ada juga yang menghancurkan dengan palu barang-barang yang ingin mereka singkirkan sebagai tanda selamat tinggal kepada masa lalu.

Tempat Tertinggi

Suatu hari, suami saya mengajak seorang teman ke gereja. Setelah kebaktian, temannya bertanya, “Aku suka lagu-lagu yang dinyanyikan dan juga suasananya. Hanya, aku tidak mengerti, mengapa orang Kristen begitu menghormati Yesus?” Suami saya lalu menjelaskan kepadanya bahwa kekristenan sesungguhnya adalah hubungan dengan Kristus. Tanpa Kristus, kekristenan tak ada artinya. Kita berkumpul dan memuji Tuhan Yesus karena perbuatan-Nya dalam kehidupan kita.

Hari yang Biasa Saja?

Dalam cerita Christmas Every Day karangan William Dean Howells, dikisahkan seorang gadis kecil yang harapannya terkabul, yaitu Natal sepanjang tahun. Namun, pada hari ketiga, keceriaan Natal mulai menipis. Tak lama kemudian, semua orang sudah muak melihat permen. Kalkun menjadi langka dan dijual dengan harga selangit. Kado tak lagi diterima dengan gembira karena sudah bertumpuk di mana-mana. Orang saling membentak dengan jengkel. Tahun itu terasa panjang dan menjemukan.

Salju Musim Dingin

Saat bangun pagi di musim dingin, saya sering mendapati alam yang berselimut salju dengan suasana yang hening dan damai. Tak seperti hujan petir musim semi yang menggelegar di malam hari, salju turun dengan lemah lembut.

Renungkanlah

Selama mengajar di Bible Training College di London (1911–15), Oswald Chambers sering mengejutkan mahasiswa dengan ucapan-ucapannya di depan kelas. Seorang mahasiswi bercerita bahwa karena diskusi baru diizinkan di acara makan bersama berikutnya, Chambers pun diberondong dengan beragam pertanyaan dan keberatan. Mendapat tanggapan yang begitu banyak, Oswald sering kali hanya tersenyum dan berkata, “Jangan dipikirkan sekarang, nanti juga kamu akan mengerti dengan sendirinya.” Ia mendorong mereka untuk merenungkan hal-hal tersebut dan menunggu Allah menyingkapkan kebenaran-Nya pada waktu-Nya.

Dalam Kelimpahan atau Kesesakan

Buku Ann Voskamp berjudul One Thousand Gifts (Seribu Anugerah) mendorong para pembaca untuk memikirkan apa yang sudah Tuhan lakukan bagi hidup mereka hari demi hari. Dalam buku itu, ia menulis catatan harian yang berisi limpahnya kemurahan Allah kepadanya dalam anugerah besar maupun kecil, dari yang sederhana seperti keindahan warna-warni busa sabun di tempat cuci piring hingga yang tak terukur seperti keselamatan orang berdosa seperti dirinya (dan kita semua!). Ann menegaskan bahwa bersyukur merupakan kunci untuk melihat Allah di tengah kesengsaraan yang berat sekalipun.