Category  |  Santapan Rohani

Senantiasa Mengucap Syukur

Tahun-tahun yang melelahkan akibat penyakit kronis dan rasa frustrasi terhadap ruang gerak saya yang terbatas akhirnya memuncak. Ketidakpuasan yang saya rasakan membuat saya sering menuntut dan sulit mengucap syukur. Saya mulai mengeluh tentang perawatan yang diberikan suami. Saya mengomel tentang cara suami saya membersihkan rumah. Walaupun ia adalah koki terbaik yang pernah saya kenal, masih saja saya menggerutu tentang kurangnya variasi menu makanan kami. Ketika akhirnya ia mengatakan bahwa keluh-kesah saya melukai perasaannya, saya malah menjadi jengkel. Pikir saya, mana mungkin ia tahu apa yang saya alami? Namun akhirnya, Allah menolong saya untuk melihat segala kesalahan yang saya lakukan, dan saya pun meminta pengampunan dari suami dan Tuhan.

Kehendak-Mu, Bukan Kehendakku

Kamil dan Joelle sangat terpukul ketika putri mereka yang berusia delapan tahun, Rima, didiagnosis mengidap penyakit leukemia langka. Penyakit itu menyebabkan radang otak dan stroke, dan Rima pun jatuh koma. Tim medis menyarankan Kamil dan Joelle untuk menyiapkan pemakaman bagi Rima, karena peluangnya untuk bertahan hidup kurang dari satu persen.

Kebaikan yang Tak Terduga

Teman saya sedang antre untuk membayar belanjaannya ketika pria di depannya berbalik dan memberinya kupon potongan harga sebesar £10 (sekitar Rp190.000). Karena kurang tidur, teman saya itu tiba-tiba menangis karena kebaikan pria itu; lalu mulai menertawakan dirinya sendiri karena tangisan tadi. Kebaikan yang tak terduga itu sungguh menyentuh hatinya dan memberinya pengharapan di tengah kelelahan yang dialaminya. Ia bersyukur untuk kebaikan Tuhan yang diteruskan kepadanya lewat orang lain.

Kresendo Tertinggi

Saya diajar orangtua untuk menyukai semua jenis musik—dari musik country hingga musik klasik. Jadi jantung saya berdegup kencang ketika memasuki Moscow Conservatory, salah satu gedung konser terbaik di Rusia, untuk mendengar penampilan Simfoni Nasional Rusia. Ketika konduktor memimpin para musisi untuk melantunkan karya Tchaikovsky yang luar biasa, alunan musiknya berangsur-angsur meninggi hingga tiba pada kresendo tertinggi dengan kuat—itulah klimaks musikal yang amat mendalam dan dramatis. Itu bagaikan suatu momen magis sehingga penonton pun serentak berdiri memberikan pujian.

Di Manakah Damai?

“Masihkah Anda mengharapkan damai?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi Bob Dylan pada tahun 1984.

Takkan Dicengkeram

Ketika berenang bersama teman-teman di Teluk Mexico, Caitlyn bertemu seekor hiu yang kemudian mencaplok kedua kakinya dan menarik tubuhnya. Caitlyn melawan dengan meninju hidung hiu tersebut. Ikan pemangsa itu pun melepaskan gigitannya dan akhirnya berenang menjauh. Ikan hiu itu tidak mampu untuk terus menahan Caitlyn dalam cengkeramannya, meskipun gigitan itu menimbulkan banyak luka dan membuat Caitlyn harus dirawat dengan lebih dari seratus jahitan.

Memilih Jalan

Saya memiliki sebuah foto musim gugur yang indah. Di dalamnya tampak seorang anak muda menunggang kuda di pegunungan Colorado, dan rupanya ia sedang memikirkan jalan mana di depannya yang harus ia tempuh. Gambaran itu mengingatkan saya pada puisi karya Robert Frost “The Road Not Taken” (Jalan yang Tak Ditempuh). Dalam puisi itu, Frost sedang mempertimbangkan dua jalan di depannya. Kedua jalan itu sama-sama menarik hatinya, tetapi ia tidak yakin akan dapat kembali ke persimpangan jalan itu lagi, maka ia harus memilih salah satu jalan. Frost menulis, “Ada dua cabang jalan di hutan, dan saya—saya memilih jalan yang jarang dilalui, dan pilihan itulah yang mempengaruhi saya sampai sekarang.”

Harta di dalam Labu

Sebagai seorang ibu muda, saya bertekad mendokumentasikan kehidupan putri saya di tahun pertamanya. Saya memotretnya bulan demi bulan untuk melihat perubahan dan pertumbuhannya. Dalam salah satu foto favorit saya, ia duduk dengan ceria di dalam sebuah labu yang saya beli dari petani setempat dengan isi yang telah dikeluarkan. Ke dalam sebuah labu berukuran raksasa itulah, putri kesayangan saya masuk dan duduk. Labu itu akan layu dalam beberapa minggu, tetapi putri saya terus tumbuh dan berkembang.

Tampil Apa Adanya

Selama bertahun-tahun, perasaan tak berharga dan malu atas masa lalu saya yang bobrok telah merusak hidup saya. Saya khawatir ada yang tahu tentang kebobrokan saya. Suatu hari saya mengundang seorang rohaniwan makan siang di rumah saya. Untuk itu, saya mencoba tampil sempurna. Saya memastikan rumah saya bersih total, menyiapkan hidangan berkelas, dan mengenakan pakaian yang terbaik.