Category  |  Santapan Rohani

Sudut Pandang yang Sempurna

Ketika berada di London, seorang teman mengatur agar saya dan Marlene, istri saya, mengunjungi Sky Garden. Letaknya di lantai teratas dari sebuah gedung setinggi 35 tingkat di kawasan bisnis London. Sky Garden adalah sebuah ruangan besar berdinding kaca yang dipenuhi beragam tanaman, pepohonan, dan bunga. Namun, bagian sky (langit) sempat menarik perhatian kami. Kami menatap ke bawah dari ketinggian lebih dari 150 m, mengagumi Katedral St. Paul, Menara London, dan masih banyak lagi. Pemandangan ibu kota yang kami lihat itu sungguh membuat kami tak bisa berkata-kata sekaligus memberi kami pelajaran bermanfaat tentang sudut pandang.

Yesus Mengulurkan Tangan-Nya

Terkadang hidup menjadi begitu sibuk—pelajaran yang sulit, pekerjaan yang melelahkan, kamar mandi yang perlu dibersihkan, dan janji pertemuan yang telah dijadwalkan hari ini. Saya pun tiba pada titik di mana saya harus memaksakan diri untuk membaca Alkitab selama beberapa menit dalam sehari sambil berjanji pada diri sendiri untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Tuhan minggu depan. Namun, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk teralihkan perhatiannya, kembali tenggelam dalam tugas-tugas pada hari itu, dan lupa meminta pertolongan Allah dalam bentuk apa pun.

Hati yang Lapar

Saat berkendara bersama suami, saya melihat-lihat e-mail di ponsel saya dan dikejutkan oleh munculnya iklan sebuah toko donat di kota saya. Toko itu baru saja kami lewati! Tiba-tiba saja perut saya keroncongan karena lapar. Alangkah hebatnya cara teknologi memungkinkan para penjual merayu kita untuk mencoba produk atau jasa mereka.

Tuhan Berbicara

Dalam kitab Ayub, kita dapat menemukan hampir setiap pendapat yang mencoba untuk menjelaskan alasan adanya penderitaan di dunia ini. Namun, perdebatan itu tidak akan pernah dapat menghibur Ayub. Permasalahan Ayub bukan cuma soal keraguan, tetapi terutama soal hubungan, yakni: Bisakah ia mempercayai Allah? Ayub menginginkan satu hal lebih daripada yang lain: kemunculan satu Pribadi yang bisa menjelaskan tentang pengalamannya yang mengenaskan. Ia ingin bertemu dan bertatap muka dengan Allah sendiri.

Mengarungi Jeram

Pemandu arung jeram membawa kelompok kami ke tepi sungai dan mengarahkan kami untuk memakai jaket pelampung dan meraih dayung. Saat kami naik ke perahu, pemandu mengatur posisi duduk kami untuk menjaga keseimbangan perahu agar tetap stabil saat melintasi jeram. Setelah menerangkan betapa serunya perjalanan yang akan kami lalui, si pemandu menjelaskan serangkaian arahan yang akan kami dengar darinya dan harus diikuti agar kami berhasil mengendalikan perahu melewati jeram demi jeram. Ia meyakinkan kami bahwa meskipun ada momen-momen menegangkan di sepanjang perjalanan, perjalanan kami seluruhnya akan aman dan menyenangkan.

Waktu yang Diberikan

Hari itu, saya sangat tergesa-gesa masuk ke kantor pos karena ada sejumlah hal yang hendak saya kerjakan. Namun, setelah masuk, saya merasa frustrasi karena melihat antrean yang mengular panjang sampai ke pintu. “Sudah cepat-cepat, tetapi masih harus menunggu,” gumam saya sambil melirik arloji dengan kesal.

Pertolongan dari Surga

SOS adalah sinyal kode Morse yang diciptakan pada tahun 1905 karena para pelaut membutuhkan cara untuk mengindikasikan adanya kesulitan yang ekstrem. Kode itu menjadi tenar pada tahun 1910 saat dipakai oleh sebuah kapal yang sedang tenggelam, Steamship Kentucky, sehingga seluruh penumpang kapal yang berjumlah 46 orang itu berhasil diselamatkan.

Senyum Seorang Pria

Pergi ke supermarket bukanlah suatu aktivitas yang saya sukai. Bagi saya, itu salah satu bagian paling menjemukan dalam hidup ini—sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan.

Ratapan Penuh Pengharapan

Mengunjungi Taman Nasional Clifton Heritage di Nassau, Bahama, membawa seseorang teringat pada suatu masa yang tragis dalam sejarah. Di sana, di tepi pantai, terdapat tangga-tangga batu yang mengarah ke tebing. Dahulu, pada abad ke-18, para budak meninggalkan keluarga mereka dan dibawa ke Bahama dengan kapal. Mendaki tangga-tangga batu itu menjadi permulaan dari hidup yang berat dan perlakuan tidak manusiawi yang akan mereka terima di sepanjang hidup mereka. Kini di puncak tebing terdapat semacam tugu-tugu peringatan untuk mengenang para budak itu. Pohon-pohon aras telah diukir menjadi figur-figur perempuan yang menatap laut ke arah tanah airnya dan anggota keluarga yang telah mereka tinggalkan. Setiap patung itu diparut hingga meninggalkan bekas seperti luka cambuk dari kapten penjaga budak.