Category  |  Santapan Rohani

Disingkapkan untuk Dipulihkan

Semasa kecil, saya pernah melihat Ayah menggarap ladang yang belum pernah diolah sebelumnya. Bajakan pertama memunculkan batu-batu besar yang kemudian disingkirkan ayah. Lalu, ia akan membajaknya lagi, dan diulang lagi, untuk semakin menggemburkan tanahnya. Setiap bajakan memunculkan bebatuan kecil yang perlu disingkirkan. Proses pembajakan itu terus dilakukan sampai ladang itu dilintasi berulang-ulang.

Memberikan Hadiah Doa

“Saya tak menyadari arti doa sebagai hadiah sampai ketika saudara laki-laki saya sakit dan kalian semua mendoakannya. Kami sangat terhibur oleh doa-doa kalian!”

Bekerja Sama

Mengapa lebih dari lima juta orang setiap tahunnya rela mengeluarkan uang untuk berlari sekian kilometer dan melintasi halang rintang yang mengharuskan mereka untuk memanjat dinding yang tegak, merayap di tanah berlumpur, dan menaiki bagian dalam pipa vertikal yang diguyur air? Sejumlah orang melakukannya karena mereka tertantang untuk menguji ketahanan diri mereka atau untuk menaklukkan ketakutan mereka. Bagi yang lain, mereka tertarik pada kerja sama tim di mana para peserta saling membantu dan mendukung satu sama lain. Seseorang menyebut arena tersebut sebagai “zona tanpa penghakiman” karena di sana orang-orang yang tidak saling mengenal akan menolong satu sama lain untuk menyelesaikan perlombaan (Stephanie Kanowitz, The Washington Post).

Tetap Beriman

Karena cenderung bermental pesimis, saya sering dengan cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif dari situasi-situasi yang saya hadapi dalam hidup ini. Jika upaya saya mengerjakan suatu proyek ternyata gagal, saya langsung menyimpulkan bahwa proyek-proyek saya berikutnya akan gagal juga. Saya bahkan merasa takkan bisa lagi melakukan hal-hal yang sederhana meski sebenarnya tidak berhubungan dengan kegagalan sebelumnya. Lebih jauh dari itu, saya juga cenderung menganggap diri sebagai seorang ibu yang tidak becus dan tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kegagalan mengerjakan satu hal ternyata mempengaruhi perasaan saya terhadap hal-hal lain yang sebenarnya tidak berkaitan.

Kesetiaan Total

Para penggemar olahraga yang sangat memuja tim favorit mereka biasanya tidak malu-malu menunjukkan kesetiaan mereka. Mereka memakai atribut dengan logo tim pujaan mereka, menulis komentar di media sosial tentang tim itu, atau membahas prestasi tim itu bersama penggemar lainnya. Saya sendiri termasuk di antara mereka. Anda bisa melihatnya dari koleksi topi dan kaos Detroit Tigers yang saya miliki, serta isi pembicaraan saya dengan para penggemar tim pujaan saya tersebut.

Tuntunlah Aku ke Gunung Batu

Saat hendak mencari alat penjaga kelembapan ruangan, saya memperhatikan seorang wanita lanjut usia mondar-mandir di lorong tersebut. Karena berpikir bahwa ia juga hendak membeli alat yang sama, saya bergeser agar ia dapat mendekat. Kami pun berbincang-bincang tentang wabah virus flu di daerah kami yang membuatnya sering batuk dan sakit kepala.

Instruksi Langsung

Putri kedua saya, Britta, sangat ingin tidur di “tempat tidur anak besar” di kamar kakaknya. Setiap malam ketika menidurkan Britta, saya memberikan instruksi tegas agar ia tidak turun dari tempat tidur, dan memperingatkan bahwa jika ia turun, saya akan mengembalikannya ke ranjang bayi. Malam demi malam, saya menemukan Britta sedang ada di lorong dan saya terpaksa harus membawanya tidur di ranjang bayinya. Bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu bahwa putri sulung saya ternyata tidak terlalu senang tidur sekamar dengan adiknya. Berulang kali ia memperdaya Britta dengan mengatakan bahwa ia mendengar saya memanggil-manggil nama adiknya. Britta percaya saja pada kata-kata kakaknya lalu pergi mencari saya. Itulah sebabnya saya sering menemukannya di lorong dan harus membuatnya tidur di ranjang bayi.

Hikmat Usia Lanjut

Pada tahun 2010, surat kabar di Singapura menerbitkan laporan khusus tentang pelajaran hidup yang diterima oleh delapan warga lanjut usia. Laporan itu dibuka dengan kata-kata: “Meski memunculkan tantangan bagi pikiran dan tubuh, penuaan juga memperluas aspek-aspek lain dalam hidup, seperti berlimpahnya kecerdasan emosional dan pemahaman sosial; kualitas-kualitas yang didefinisikan oleh para ilmuwan sebagai hikmat . . . hikmat usia lanjut.”

Sampai Bertemu Lagi

Saya dan cucu saya, Allyssa, memiliki kebiasaan yang kami lakukan saat kami berpisah. Kami akan berpelukan dan berpura-pura menangis terisak-isak selama kurang lebih 20 detik. Lalu kami pun memisahkan diri sambil berkata dengan santai, “Sampai jumpa!” Terlepas dari kebiasaan konyol itu, kami berharap bahwa kami akan segera bertemu kembali.