Menghadapi Badai
Angin menderu, petir menyambar, gelombang ombak menerjang. Saya mengira saya akan mati. Hari itu, saya sedang memancing di danau bersama kakek dan nenek, tetapi kami terlalu lama di luar. Saat matahari terbenam, gelombang air yang bergulung cepat menghantam perahu kami yang kecil. Kakek memerintahkan saya duduk di depan untuk menjaga agar perahu kami tidak terbalik. Rasa ngeri memenuhi hati saya. Namun kemudian, entah bagaimana, saya mulai berdoa. Waktu itu saya baru berumur empat belas tahun.
Satu Menderita, Semua Menderita
Ketika seorang rekan kerja tidak masuk karena sakit parah, setiap orang di kantor merasa khawatir. Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit dan istirahat sepanjang hari, ia dapat kembali bekerja dan menunjukkan penyebab dari sakitnya, yakni batu ginjal. Ia meminta dokternya untuk memberikan batu dari dalam ginjalnya itu sebagai suvenir. Melihat batu itu, saya bisa ikut merasakannya, karena saya pun pernah menderita batu empedu bertahun-tahun lalu. Rasa sakitnya sungguh sangat menyiksa.
Iman, Kasih, dan Pengharapan
Selama 10 tahun, bibi saya, Kathy, merawat ayahnya (kakek saya) di rumahnya. Ia sudah biasa memasak dan membersihkan rumah saat kakek masih sehat, dan kemudian menjadi perawat bagi kakek saat kesehatan kakek menurun.
Berapa Lama Lagi?
Dalam karya klasik Lewis Carroll yang berjudul Alice in Wonderland, Alice bertanya, “Berapa lamakah selamanya itu?” Si Kelinci Putih menyahut, “Adakalanya, hanya sedetik.”
Hanya dengan Doa
Di suatu malam yang larut, seorang teman yang sedang menjalani perawatan kanker menelepon saya. Isak tangisnya yang tak tertahankan membuat saya ikut menitikkan air mata dan berdoa dalam hati. Apa yang harus kulakukan, Tuhan?
Meninggalkan Warisan
Beberapa tahun lalu, saya dan ketiga anak laki-laki saya meluangkan waktu seminggu penuh di sebuah peternakan yang telah terabaikan di daerah pedalaman dekat Sungai Salmon, Idaho.
Kekuatan dalam Penderitaan
Ketika Sammy yang berumur 18 tahun menerima Yesus sebagai Juruselamat, keluarga menolaknya karena secara turun-temurun mereka menganut kepercayaan yang berbeda. Namun, Sammy diterima oleh jemaat Tuhan yang memberikan dorongan dan bantuan keuangan untuk pendidikannya. Lalu saat kesaksian Sammy diterbitkan di suatu majalah, penganiayaan yang dialaminya semakin meningkat.
Sportivitas
Saat pelari asal Singapura, Ashley Liew, menyadari bahwa ia berlari paling depan dalam perlombaan maraton di Pesta Olahraga Asia Tenggara, ia langsung tahu ada yang salah. Ia melihat bahwa para pelari lain yang tadinya memimpin perlombaan itu telah berbelok ke jalan yang salah dan sekarang mereka tertinggal di belakangnya. Ashley bisa saja memanfaatkan kesalahan mereka, tetapi semangat sportivitas yang dipegangnya teguh mengajarkan bahwa cara itu tidak akan menjadikannya pemenang sejati. Ia ingin menang karena berlari lebih cepat, bukan karena para pelari lainnya salah jalan. Karena keyakinan itulah Ashley memperlambat larinya agar mereka dapat menyusul.
Berbagi Penghiburan
“Allah telah membawa Anda untuk menghibur hati saya!”