Category  |  Santapan Rohani

Menulis Surat

Ibu saya dan saudari-saudarinya masih suka menulis surat—suatu seni yang semakin ditinggalkan orang. Setiap minggu mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka melalui surat; begitu konsistennya hingga ada seorang tukang pos yang merasa khawatir apabila ia tidak membawa surat untuk dikirimkan! Surat mereka berisi kisah tentang seluk-beluk dan suka-duka kehidupan, serta peristiwa sehari-hari yang dialami teman-teman dan keluarga.

Melihat Allah

Pendeta dan penulis Erwin Lutzer bercerita tentang pertemuan Art Linkletter, seorang pembawa acara televisi, dengan seorang anak kecil yang sedang melukis gambar Allah. Linkletter yang kebingungan berkata, “Kamu takkan bisa menggambarnya karena tidak ada yang tahu seperti apa Allah itu.”

Dibimbing Allah

Baru-baru ini tanpa sengaja saya menemukan beberapa jurnal yang saya tulis semasa kuliah. Setelah membacanya lagi, saya menyadari bahwa perasaan saya terhadap diri sendiri saat itu sangat jauh berbeda dengan perasaan saya saat ini. Pergumulan saya dalam menghadapi kesepian dan keraguan atas iman saya terasa begitu berat untuk dihadapi saat itu. Namun ketika melihat ke belakang, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana Allah telah membimbing saya ke tempat yang lebih baik. Melihat bagaimana Allah dengan lembut membimbing saya melewati masa-masa itu mengingatkan saya bahwa apa yang begitu membebani kita hari ini kelak akan menjadi bagian dari kisah yang lebih besar tentang kasih-Nya yang memulihkan kita.

Menangis Bersama

Pada tahun 2002, beberapa bulan setelah saudari saya, Martha, dan suaminya, Jim, meninggal dunia dalam kecelakaan, seorang teman mengundang saya mengikuti lokakarya “Growing Through Grief” (Bertumbuh Melalui Dukacita) di gereja kami. Meski enggan, saya pergi menghadiri pertemuan pertama tetapi tidak bermaksud untuk hadir dalam pertemuan selanjutnya. Namun di luar dugaan, di sana saya menemukan sebuah komunitas yang penuh perhatian dan berusaha menerima rasa keaku prhilangan yang besar dalam hidup mereka dengan mengandalkan pertolongan Allah dan sesama. Itulah yang membuat saya mau terus hadir minggu demi minggu sembari saya juga berusaha menerima keadaan dan mengalami damai sejahtera dengan saling berbagi dukacita di antara kami.

Serahkan kepada Allah

Semasa remaja, saat saya kewalahan menghadapi tantangan yang besar atau harus mengambil keputusan berisiko tinggi, ibu saya mengajarkan gunanya menuliskan pergumulan itu agar saya memperoleh sudut pandang yang lebih baik. Saat tidak yakin pelajaran atau pekerjaan apa yang perlu diambil, atau bergumul menghadapi kenyataan hidup masa dewasa yang membuat gentar, saya belajar dari kebiasaan ibu untuk menuliskan fakta-fakta dasar dan tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan dengan segala akibat yang mungkin dihasilkan. Setelah menuangkan isi hati saya dalam tulisan, saya dapat mundur sejenak dari masalah yang ada dan melihatnya secara lebih objektif tanpa terlalu dipengaruhi emosi.

Secercah Firdaus

Saat menatap keluar dari jendela yang terbuka di ruang kerja saya, saya mendengar kicauan burung-burung dan mendengar serta melihat tiupan angin yang lembut menerpa pepohonan. Ikatan-ikatan jerami menghiasi ladang tetangga yang baru saja digarap. Awan-awan putih dan besar berarak mewarnai langit biru yang cerah.

Melangkah Menuju Kekuatan Baru

“Akankah kita melihat ular?”

Penyembahan yang Paling Bernilai

Saya menggunakan tulisan sebagai persembahan dan pelayanan saya kepada Allah, terlebih sekarang ketika kendala kesehatan sering membuat saya tidak lagi leluasa bergerak. Namun, ketika seorang kenalan menyebut tulisan saya tidak bernilai, saya menjadi patah semangat. Saya menjadi ragu apakah persembahan kecil saya itu mempunyai arti di hadapan Allah.

Jangan Berlari Seorang Diri

Jack, suami saya, sudah kehabisan tenaga setelah berlari sejauh 40 km dalam lomba maraton sepanjang 42 km.